in

Mungkinkah Film Dilan Sesukses Novelnya?

Film Dilan (Sumber: luthfan.com)

Pidi Baiq, buat para pecinta sastra nama orang yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi. Pidi Baiq memang terkenal sebagai salah satu penulis yang tulisan-tulisannya cukup berhasil di pasaran. Pidi yang juga menyebut dirinya sebagai imam besar ‘The Panas Dalam Band’ (grup musik bentukannya) mulai mendapat perhatian publik luas ketika dirinya menelurkan novel ‘Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990’. Siapa mengira gaya bertutur sederhana yang ditampilkan di novel itu, ditambah karakterisitik Dilan yang eksentrik membuat novel tersebut menyabet gelar best seller. Tidak berlebihan memang ketika Pidi Baiq dan Dilannya ini sukses besar, sebab novel Dilan memang seperti penyegaran novel romantis yang biasanya berkaitan dengan hal-hal melankolis. Di novel Dilan, semuanya dibungkus secara kocak.

Siapa Dilan?

film dilan
Sumber: Inilah.com

Pidi Baiq menyebut Dilan bukanlah tokoh fiktif. Kisah cinta Dilan dan Milea itu adalah kisah nyata yang memang benar-benar terjadi di Bandung pada tahun 1990. Cerita bermula saat Milea yang baru pindah dari Jakarta ke Bandung dan ditaksir oleh Dilan yang notabene salah satu anggota geng motor. Jangan pikir karena dia geng motor, lalu sikap dia urakan dan asal terobos aturan. Tidak, Dilan justru sebaliknya, ia berperilaku kocak dan selalu bisa merebut hati Milea dengan humor-humor segar yang romantis. Itulah yang membuat kemudian banyak perempuan tiba-tiba menggunakan Dilan sebagai standar pasangannya. Laki-laki yang bisa menghibur dan membuat rasa aman selalu.

Pilihan Editor:

 

Dilan sendiri adalah seorang anak tentara. Sejak awal cerita sosok yang juga dikenal sebagai ‘panglima tempur’ itu selalu berhasil membius Milea dengan kata-kata romantis yang tidak terdengar kampungan. Contohnya “Milea kamu cantik tapi aku belum mencintaimu, enggak tahu kalau nanti sore. Tunggu aja.“ atau “Jangan rindu, itu berat. Biar aku saja,”  atau juga “Milea, jangan bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti besoknya orang itu akan hilang.” Kata-kata tersebut yang akhirnya membuat Dilan begitu digandrungi banyak perempuan.

Sampai sekarang Pidi Baiq masih bungkam soal siapa sebetulnya sosok Dilan. Namun, banyak yang meyakini jika Dilan sesungguhnya adalah Pidi Baiq. Yap, ada banyak kesamaan dari Dilan dan Pidi Baiq. Mulai dari caranya berkata. Dilan yang digambarkan memili wajah ‘Indonesia banget’, sampai jurusan dan kampus Dilan yang sama persis dengan si penulis Pidi Baiq.

Pada akhirnya kesuksesan novel ‘Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990’ membuat Pidi Baiq akhirnnya menelurkan sekuel novel tersebut. Hingga saat ini sudah ada dua buku lanjutan dari novel pertama. Novel kedua berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991. Dan novel ketiga berjudul ‘Milea: Suara dari Dilan’.  Novel tersebut jadi novel masterpiece karya Pidi Baiq.

Diangkat ke Film

Seperti halnya novel laris lain, Dilan juga diminta oleh banyak penggemarnya untuk diangkat ke layar lebar dalam media film. Pidi Baiq si empunya cerita awalnya bersikukuh untuk tak memfilmkan Dilan. Namun lambat laun,  Pidi akhirnya luluh juga. Film ‘Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990’ pun digarap dan bekerjasama dengan rumah produksi Falcon Picture dan Maxima Picture.  Dalam film ini, Fajar Bustomi ditunjuk sebagai sutradara untuk film yang ditunggu jutaan pasang mata tersebut. Karena sosok Dilan dalam novel sangat vital dan penuh karakter, penontonpun akhirnya tahu jika yang akan berperan sebagai Dilan adalah Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan. Atau yang juga akrab disapa Iqbaal eks Coboy Junior.

Iqbaal saat Berperan sebagai Dilan di Film Dilan (sumber: duniaku.net)

Sontak pemilihan Iqbal sebagai pemeran Dilan dalam film Dilan menuai pro dan kontra. Karena rata-rata pembaca membayangkan sosok Dilan sebagai sosok yang tidak tampan, sedikit nakal dan sangat kocak. Penonton ragu apa bisa sosok cute dengan tampang anak baik-baik ini bisa memerankan Dilan yang terkadang emosinya meledak. Apa mungkin sosok Iqbaal yang punya tampang kalem itu berani berantem dengan guru atau berniat membakar sekolah seperti yang Dilan lakukan dalam novel?

Hal-hal seperti itu yang kemudian membuat penonton bertanya-tanya. Banyak yang takut imajinasinya terbuyarkan ketika nonton film ini. Apalagi beberapa pemain lainpun dianggap memiliki rupa yang terlalu cantik dan tampan. Padahal banyak pembaca yang memiliki imajinasi jika tokoh-tokoh di novel Dilan memiliki tampang orang-orang Indonesia tahun 1990 yang sederhana. Meski banyak diprotes nyatanya film ini tetap jalan. Pidi Baiq meyakinkan kalau tidak ada yang salah dengan garapan film dari novel terbaiknya itu. Meski tetap saja banyak yang beranggapan miring apalagi ketika melihat trailer film Dilan dirilis.

Pada akhirnya sebagai penikmat karya seni kita patut menantikan. Apakah film Dilan ini bakal booming seperti novelnya? Atau justru melempem dan ditinggalkan oleh para penonton? Meski kebanyakan di antaranya gagal memenuhi ekspektasi pembaca, yang jelas, film-film yang diangkat dari novel selalu punya penikmat sendiri.

 

(Sumber Gambar Utama: luthfan.com)

(Editor: Restia Ningrum)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Aksi Heroik Pejuang Indonesia dan Film Battle of Surabaya

Batik Detector

Inilah Batik Detector, Aplikasi untuk Mengenali Anekaragam Motif Batik di Indonesia