Tradisi mudik di Indonesia terkait erat dengan kehendak untuk pulang ke kampung halaman. Atas nama ikatan batin, mereka berduyun-duyun demi berkumpul bersama sanak saudara. Jalinan kultural semacam itu telah mengakar selama bertahun-tahun dalam kepribadian bangsa Indonesia. Mudik, sebagai tradisi, diejawantahkan tak sekadar bagi umat Islam, melainkan umat Kristen, Katolik, Buddha, dan agama maupun kepercayaan lain di kepulauan Nusantara.

Kehendak kembali ke peraduan keluarga dalam tradisi mudik mengindiksikan betapa kuatnya ikatan batin antara anak dan orang tua. Jauhnya perantauan tak menyurutkan sikapnya untuk mengekspresikan kerinduan. Kendati demikian, ia juga harus ditebus melalui pengeluaran finansial yang cukup fantastis. Tak heran apabila diksi mudik acap kali berkelindan dengan rupiah. Bagi orang Indonesia, berapa pun uang dikucurkan—walau dengan ikhtiar berhutang—tak menjadi persoalan pelik, karena momen mudik terjadi sekali dalam setahun.

Pilihan Editor:

Bukan Sekadar Perpindahan Fisik

(Sumber: Republika.co.id)

Mudik bukan sekadar perpindahan fisik maupun tempat seseorang, melainkan juga mengimplikasikan nilai filosofis. Dalam pengertian Jawa, tradisi mudik dapat disandingkan dengan nilai sangkan paran.

Secara fisik, orang yang melakukan mudik bergerak menuju asal-muasal kelahiran, yakni menuju orang tua sebagai gerbang permulaan. Pada konteks tersebut, tersirat kesadaran pribadi untuk tak ahistoris terhadap ‘diri sejati’ di mana dan bagaimana ia lahir dan tumbuh berkembang.

Tatkala kembali kepada orang tua seseorang niscaya terbuka untuk “dikondisikan” bernostalgia terhadap ingatan lampau semasa kecilnya. Mudik mampu mengembalikan betapa pengasuhan orang tua sedemikian penting demi pertumbuhan kepribadian seseorang.

Mudik sebagai Tradisi Tahunan

(Sumber: Kompas.com)

Karenanya, mudik selain sebagai tradisi tahunan, ia juga mengajarkan pendidikan sangkan paran yang membuat seseorang tak “lupa akan kulitnya”. Hal itu semakin menguatkan betapa mudik sebagai pendidikan informal berbasis kekeluargaan yang sarat nilai afektif sangatlah penting.

Dalam konteks keluarga, substansi mudik yang biasanya ditandai oleh Idul Fitri sebagai puncak diartikan sebagai ajang peleburan dosa antar individu untuk mencapai kesucian lahir dan batin.

Puncak itu berlanjut di bulan Syawal yang sering kali dipercaya umat Islam di Indonesia sebagai kesempatan untuk saling memaafkan. Tak heran bila dua individu yang berseteru selama satu tahun tiba-tiba saling berendah hati untuk menerima kesalahannya sebagai suatu proses kehidupan yang wajar.

Mendidik Manusia untuk ingat Awal dan Akhir Kehidupan

Pada skala makro, kesadaran sangkan paran juga menyadarkan pemudik untuk senantiasa terintegrasi dengan gerak kosmos. Kenyataan gerak yang disadari begitu teratur itu tentu atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia pencipta sekaligus pengatur atas segala sesuatu. Termasuk geliat manusia yang diatur-Nya untuk mudik, meski melalui regulasi meminjam dana dari pintu yang dikehendaki-Nya.

Kesadaran dari mana, hendak ke mana, dan menuju ke mana yang ditandai oleh makna mudik—dalam arti luas—mendidik manusia untuk selalu teringat permulaan dan tujuan sejati kehidupannya.

Jika mudik telah diposisikan sebagai jalan laku dalam meniti kehidupan, maka ia akan teringat jalan mana yang sesungguhnya mendekatkan diri kepada-Nya. Sementara itu, kalkulasi atas perjalanan kehidupannya tak lagi berdasarkan untung-rugi duniawi, tetapi lebih dari itu, yakni gerbang infinitif lain yang tak terjamah oleh logika.

Mudik menuju Tuhan

Kehendak kesadaran mudik menuju Tuhan berbeda dengan mudik untuk kembali ke hulu kelahiran di tataran genealogis. Mudik menuju Tuhan tak memerlukan perpindahan tempat, namun memerlukan kesadaran batin untuk selalu terhubung setiap hembusan napas.

Keterhubungan itu menjamah ranah metafisika, bahwa tiap detik, saat, momen, tiada lain atas kuasa-Nya. Andaikan kesadaran tersebut mengakar dalam kepribadian manusia, maka mustahil melakukan kebiadaban yang merugikan orang lain, karena ia sadar tiap perbuatan yang dilakukannya akan dimintai pertanggungjawaban.

Di tengah masyarakat kekinian yang mendambakan mudik tersebab gengsi demi mencitrakan keberhasilan ekonomi sebagai identitas sosial, maka ia hanya akan mencapai persaingan semu duniawi.

Sementara itu, mudik sebagai pendidikan kekeluargaan demi pembersihan diri maupun kesadaran sangkan paran menuju kesejatian hanya wacana apabila tak direalisasikan melalui laku. Meskipun demikian, pelbagai pilihan tersebut tergantung pilihan masing-masing individu, karena “jauh tidaknya mudik” tergantung pada kedalaman dan kedaulatan tiap pribadi yang tak dapat diganggu gugat.

 

(Sumber Gambar Utama: nozama.typepad.com)

(Editor: Restia Ningrum)