UblikMendur Bersaudara. Sebentar lagi, usia Indonesia akan genap menjadi 72 tahun. Sebuah usia yang cukup tua jika dianalogikan dengan usia manusia. Tepat pada 17 Agustus 1945, Ir Soekarno membacakan sebuah maklumat. Pemberitahuan kepada seluruh rakyat Indonesia bahkan dunia jika pada hari itu, Indonesia sudah resmi meninggalkan segala bentuk penjajahan dan secara tersirat menyebut jika Indonesia adalah sebuah negara baru yang akan ikut dalam pergaulan antar negara-negara di dunia.

Tapi, pernahkah kamu berpikir. Di zaman itu, ketika teknologi dirasa masih dalam keterbatasan. Apa yang menjadi bukti jika Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaan. Televisi masih belum ada. Radiopun masih jarang. Smartphone? yang bener aja. Satu-satunya bukti bahwa di hari itu Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan dan disaksikan oleh ratusan orang tersebut adalah beberapa lembar foto. Betapa berharganya lembaran foto-foto tersebut.

Kita pasti tahu. Setelah proklamasi dilangsungkan. Belanda masih saja tak mengakui proklamasi kita. Mereka masih terus melakukan agresi militer berjilid-jilid agar dapat melanjutkan penjajahanya di Bumi Pertiwi. Bayangkan, sudah ada dokumentasinya saja, masih tetap tidak diakui apalagi tak ada dokumentasi?

Coba bayangkan jika saat itu tak ada orang yang memotret prosesi proklamasi sekaligus upacara bendera pertama Indonesia tersebut? barangkali kita hanya dapat menerka-nerka, bagaimana khidmatnya proses proklamasi yang dilangsungkan di kediaman Soekarno itu. Selain itu, dokumentasi foto tersebut juga kemudian menjadi bukti jika secara de facto Indonesia sudah secara resmi menyatakan kemerdekaanya. Pertanyaanya sekarang. Siapa sebenarnya orang yang memotret suasa proklamasi tahun 1945 itu?

Kakak Beradik Mendur Bersaudara

Mendur Bersaudara
Image: Mendur Bersaudara. Sumber: Kompasiana

Jawabanya adalah Mendur bersaudara. Frans Sumarto Mendur dan Alex Impurung Mendur. Dua orang asli Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara yang dengan segala skil fotografinya mendokumentasikan hajat besar Indonesia sepanjang masa itu. Alex lahir pada tahun 1907, enam tahun berikutnya sang adik lahir. Keduanya mendalami dunia fotografer dan dengan kompak menjadi seorang wartawan. Hingga akhirnya karya keduanya menjadi masterpiece bagi negeri ini.

Sejarah itu berawal pada saat Frans Sumarto Mendur mendapat kabar dari sumber harian Asia Raya jika di rumah Bung Karno akan segera dilangsungkan sebuah peristiwa bersejarah. Bukan Cuma Fras, Alex Impurung Mendur yang kala itu menjabat sebagai Kepala Direksi Bagian Fotografer Kantor Berita Domei Jepang juga mendengar perkara proklamasi itu. Keduanya bersepakat untuk pergi ke rumah Bung Karno.

Tapi, perjalanan ke rumah Bung Karno bukan tanpa halangan. Meski Jepang sudah babak belur di hantam sekutu dan membuat banyak tentaranya kocar kacir. Di Indonesia, masih banyak tentara Jepang yang berjaga. Mereka masih saja berpatroli kesana kemari untuk mengamankan daerah jajahannya. Melihat itu, Mendur bersaudarapun memutuskan untuk berpencar dalam mengambil rute kerumah Bung Karno. Keduanya akhirnya tiba di rumah Presiden pertama Indonesia itu pada pukul 05.00 pagi.

Mendur bersaudara mesti menunggu lima jam hingga akhirnya Bung Karno berdiri di depan microfone dengan secarik kertas digenggamanya. Disebelah kiri belakang. Bung Hatta sudah setia menemani. Ratusan orang sudah berdiri tegak sembari memasang telinga di halaman rumah Bung Karno Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta. Tepat pukul 10.10 Hari Jumat 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia resmi meniggalkan status negara jajahan menjadi negara yang merdeka. Dan Mendur bersaudara ada disana. menjepret setiap peristiwa yang terjadi disana. Mulai dari ketika Soekarno membacakan teks proklamasi, ketika doa dipanjatkan setelah proklamasi dikumandangkan hingga saat bendera dikerek oleh Latief Hendraningrat, S. Suhud dan Tri Murti . Semua tak lepas dari lensa klasik milik kakak beradik itu.

Menyelamatkan Foto dari Tentara Jepang

mendur bersaudara mengabadikan foto proklamasi
Sumber: Kompas.com

Selesai acara, tentara jepang mulai melakukan tindakan represif. Si kakak beradik fotografer itupun menyelamatkan diri dengan melarikan diri dan karya bersejarahnya itu. Mereka kembali berhambur dan memisahkan diri satu sama lain. Tentara jepang terus mengejar mereka. Sayangnya Alex tertangkap. Ia digeledah dan ditemukanlah foto-foto upacara proklamasi. Tentara Jepangpun lantas mengambil foto-foto yang diambil Alex dan langsung dimusnahkan.

Tak jauh berbeda dengan Alex, sang adik Frans Mendur juga digrebek tentara Jepang. Merekapun juga menggeledah Frans dan mencari negatif foto-foto yang telah dia ambil di upacara 17an pertama Indonesia itu. Sayangnya tentara Jepang harus gigit jari. Sebab Frans mengaku jika foto-foto itu telah diambil oleh Barisan Pelopor. Mendengar itu, tentara Jepang-pun patah arang dan meninggalkan Frans. Padahal, saat itu Frans berbohong. Sebab sebetulnya foto-foto proklamasi yang diambil oleh Frans tidak ia berikan pada Barisan Pelopor. Yang sebenarnya terjadi adalah, ketika tentara jepang mengejar Frans. Ia menyempatkan diri untuk mengubur negatif foto upacara proklamasi di dekat pohon dibelakang kantor harian Asia Raya. Akhirnya negatif foto tersebut itu berhasil dicetak dan kemudian disebarluaskan untuk menjadi bukti jika Indonesia telah merdeka.

Akhir Kisah Mendur Bersaudara

mendur bersaudara
Sumber: socialonesmansaboy.blogspot.co.id

Sayangnya, kisah heroik dua mendur itu tak terlalu sering didengungkan saat pelajaran-pelajaran sejarah. Jangankan kisahnya, nama mereka saja masih asing dibandingkan dengan tokoh-tokoh proklamasi lain seperti Sayuti Melik, Latief Hendraningrat ataupun Tri Murti. Bukan bermaksud untuk membandingkan. Tetapi, Mendur bersaudara juga berhak untuk diingat dan dikenang jasanya dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Bahkan, bisa dibilang akhir kisah hidup kedua Mendur ini juga cukup menyedihkan. Mereka berdua meninggal dalam kondisi yang kurang diperhatikan oleh negara. Bahkan Frans pernah menjadi seorang penjual rokok di Surabaya sebelum akhirnya dirinya sakit dan meninggal di rumah sakit Sumber Waras Jakarta pada 1971. Kakaknya Alex juga menyusul Frans 13 tahun kemudian. Tak jauh seperti Frans, kisah akhir hidup Alex juga tak kalah memprihatinkan. Bahkan konon, Mendur Bersaudara pun ditolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Baru ketika 2009. Pada tanggal 9 November tepatnya. Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan Bintang Jasa Utama untuk kakak beradik ini. Bukan cuma itu sebuah tugu yang dinamai Tugu Pers Mendur Di Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa juga didirikan untuk mengenang Mendur bersaudara akan setiap jepretanya yang membawa Indonesia diakui bukan hanya oleh rakyat dan negara penjajah saja. Tapi juga dunia.

(Sumber Gambar Utama: socialonesmansaboy.blogspot.co.id)

Editor: Ridho NW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here