Ublik – Code for Bandung. “Leaders become great, not because of the power, but because of their ability to empower others,” begitulah salah satu kutipan terkenal dari John Maxwell. Pada intinya orang-orang yang menjadi pemimpin di bidangnya itu menjadi hebat bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena kemampuannya menguatkan orang lain. Seperti itulah yang dilakukan Pandu Kartika Putra, mahasiswa semester akhir di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menggagas komunitas teknologi bernama Code for Bandung bersama teman-temannya. Buat kamu yang belum tahu, Code for Bandung adalah sebuah organisasi non profit di Bandung yang memudahkan masyarakat terhubung dengan pemerintah, mudah memperoleh berbagai data, dan meningkatkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.

Kenalan dengan Foundernya

Saat diwawancarai oleh tim ublik, Pandu mengatakan bahwa sejak kecil, dia sudah tertarik dengan kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, volunteering, organisasi, dan sejenisnya. Itulah yang membuatnya terpanggil untuk membangun komunitas Code for Bandung yang bermanfaat untuk masyarakat.

Tentang bagaimana awal berdirinya Code for Bandung, Pandu menjelaskan bahwa dia memperoleh inspirasi dari negeri Paman Sam. “Bulan Maret tahun 2014 saya dapat kesempatan ikut workshop Social Entrepreneurship di US. Setelah pulang, saya pengen dong mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat,” kata Pandu. Saat itulah bersama teman-temannya, yang kemudian menjadi tim pengurus Code for Bandung, mencetuskan ide tentang sesuatu yang bisa dilakukan dengan background ilmunya, yaitu Teknik Informatika. Setelah melakukan riset, maka Pandu menemukan Code for America. “Terus saya kepikiran, bagaimana kalau bikin Code for Indonesia. Tapi saat itu saya pikir terlalu susah dan kurang jelas (konsepnya) kalau tiba-tiba Code for Indonesia. Ya sudah saya buat Code for Bandung…” kata Pandu seraya memaparkan gagasannya.

(Baca Juga: Code for Bandung: Ketika Masyarakat pun Bisa Menyelesaikan Permasalahan Kota)

Komunitas Teknologi dengan Organisasi yang Terstruktur

Dilihat dari sisi organisasi, Code for Bandung memiliki struktur seperti ini: Tim pengurusnya ada Pandu Kartika sebagai Direktur, lalu ada juga Direktur Eksternal dan Internal, yang masing membawahi divisi-divisi seperti Finance, HR, design, konten, dan project. Sejak didirikan tahun 2014, member komunitas Code for Bandung mencapai sekitar 100 orang. Sejauh ini sudah membuat banyak hasil dan pencapaian, seperti misalnya memenangkan kompetisi internasional di Amerika yang memperebutkan grant dana sebesar US$ 25,000 atau senilai sekitar 300 jutaan rupiah. Dana itulah yang digunakan pengurusnya untuk menjalankan berbagai kegiatan.

“Karena saat ini membernya banyak yang sudah lulus, pindah kerja, dan lain-lain, maka Code for Bandung sementara hiatus dulu, sampai waktu yang belum ditentukan.”  Kata Pandu menjelaskan. Meskipun sedang ‘istirahat’, aktivitas yang masih berjalan sekarang adalah membantu pemerintah untuk konsultasi teknologi, jadi pembicara di event-event terkait teknologi, dan kepemudaan, serta menjadi konsultan di beberapa NGO yang mau membuat gerakan open data di kota-kota lain di Indonesia.

Ke depannya Code for Bandung bersama komunitas teknologi lain akan membuat gerakan bersama yang lebih terstruktur, impactful dan lebih inklusif, artinya membuat lebih banyak anak muda bisa ikut terlibat dan belajar. “Saya sedang mencari bentuk dan framework yang paling pas untuk menggabungkan tech, youth, urban management, dan inovasi dalam sebuah komunitas, dan gimana biar bisa hidup independen dan bisa dimulai siapapun.”

Kepada ublik, Pandu juga mengaku punya niat untuk membangun tech community sejenis di kota lain, seperti misal daerah asalnya, Madiun. “Saya ingin membangun tech-youth community seperti Code for Bandung di hampir semua kota di Indonesia. Ya nanti kalau Madiun siap, tentu bakal saya bikin. 😀 ” katanya dengan optimis.

Generasi Millenial dengan Sederet Prestasi

Code for Bandung
Gambar: Pandu Kartika Putra berpose dengan Tim Code for Bandung (Sumber: Pandu Kartika)

Selain aktif membangun Code for Bandung, Pandu juga punya sederet prestasi nasional dan internasional. Beberapa kali ia berkesempatan mengikut workshop atau riset di luar negeri, misalnya Mahasiswa Berprestasi Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB 2014, Ashoka Youth Social Entrepreneurship Workshop di Virginia (USA, Maret 2014), Research Intern di Gifu National College of Technology (GIfu, Japan, Juli 2014), Research Intern di Japan Advanced Institute of Science and Technology (Nomi, Japan, November 2014), Asia Pacific Urban Forum (Juni 2015), Young Leaders for Indonesia by McKinsey & Co, Forum Indonesia Muda (Mei 2016), dan lain-lain.

Tentang mimpi lain lagi. Pemuda 25 tahun asal Madiun, Jawa Timur ini mengatakan bahwa prinsipnya adalah untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya untuk lingkungan.“Untuk sekarang, saya bermimpi untuk jadi pemimpin NGO internasional yang melakukan riset, membuat program, dan membangun inovasi-inovasi untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan (di bidang) EkoSosPolBudHuKam dengan bantuan teknologi.”

“Prinsip hidup saya itu ingin bermanfaat bagi orang lain. Intinya itu di manfaatnya. Saya ingin melakukan sesuatu yang mengubah hidup orang menjadi lebih baik. Makin banyak orang yang bisa saya bantu, makin baik… Kalau saya mati, saya tidak merasa harus diingat sebagai orang yang membantu hidup orang banyak, pahlawan, dst. Yang saya ingin adalah bahwa apa yang saya lakukan benar-benar mengubah hidup orang ke arah yang lebih baik.”

(Gambar Utama: twitter/codeforbandung)

Editor: Ridho Nur Wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here