Kurang afdol rasanya ketika kita tinggal di sebuah kota tapi tidak mengenal seluk beluk kota tersebut. Entah itu tempat wisata, pusat kuliner, nama-nama jalan, dan yang pasti tempat-tempat yang bagus untuk difoto. Kali ini kita akan mengenali lebih jauh tentang sebuah jalan terbesar di kota Solo, yakni Jalan Slamet Riyadi.

Masyarakat kota Solo, entah itu yang asli Solo maupun pendatang, sudah tidak asing lagi dengan jalan ini. Pada zaman penjajahan Belanda, jalan ini bernama Wilhelmina straat, lalu berganti menjadi nama menjadi Poerwasari Weg atau Jalan Purwosari baru kemudian diganti menjadi Jalan Slamet Riyadi. Jalan ini memanjang ke timur mulai dari Tugu Purwosari hingga Bundaran Gladag. Bahkan, jalan ini pernah dinobatkan sebagai jalan terpanjang se-Asia Tenggara.

Jalan Slamet Riyadi
Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi, Solo (Ublik.id)

Di daerah Gladak (dekat dengan Pusat Grosir Solo/PGS) juga terdapat monumen Slamet Riyadi. Bisa dikatakan bahwa sepanjang jalan Slamet Riyadi adalah pusatnya aktivitas bisnis di kota Solo. Beberapa  pusat perbelanjaan, restoran, bank, hotel, toko buku, toko elektronik, hingga tempat-tempat nongkrong terletak di sepanjang jalan protokol ini. Khusus pada hari Minggu pagi, Jalan Slamet Riyadi ditutup untuk kendaraan bermotor. Seperti di beberapa kota di Indonesia, Solo di Minggu pagi juga ada kegiatan Car Free Day sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi polusi.

Kereta Melewati Jalan Slamet Riyadi Surakarta
CFD Solo (ublik.id)

Siapakah Slamet Riyadi Itu?

Di balik aktivitas jalan yang sibuk itu, ternyata nama jalan itu diambil dari nama sosok pahlawan yang patut kita teladani. Beliau  adalah Ignatius Slamet Riyadi yang lahir di Solo pada tanggal 26 Juli 1927 dengan nama Soekamto. Ayahnya merupakan seorang abdi dalem sekaligus perwira di Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang mendidik anaknya penuh kedisiplinan.

Pilihan Editor:

 

Menurut informasi yang dari buku Mengenang Ignatius Slamet Riyadi, Brigadir Jenderal Anumerta (1996:9), Soekamto kecil sering sakit-sakitan karena pernah terjatuh dari gendongan ibunya saat masih berusia 1 tahun. Tubuhnya kurus kering dan fisiknya cenderung lemah sehingga mudah diserang berbagai penyakit. Karena keluarga Soekamto yang tinggal tidak jauh dari lingkungan Kraton Solo menganut ajaran Kejawen, maka mereka mempuhlah jalan yang sesuai tradisi Jawa untuk memerbaiki kondisi Soekamto. Caranya adalah dengan ‘menjualnya’ kepada salah satu kerabat, yaitu pamannya yang bernama Warnenhardjo.

Ignatius SLamet RIyadi
(Sumber: Wikipedi)

Sebagai syarat pertama, nama Soekamto harus diganti dengan tujuan agar terhindar dari marabahaya. Nama pengganti yang dipilih adalah Slamet. Tujuannya adalah demi keselamatan hidupnya. Semenjak itu, Soekamto resmi menyandang nama baru, sedangkan nama tambahan Riyadi diperoleh ketika Slamet duduk di bangku sekolah menengah milik Mangkunegaran di Solo. Nama tersebut diberikan sebagai pembeda karena di sekolah tersebut cukup banyak siswa yang bernama Slamet.

Slamet Riyadi yang usianya masih sangat muda saat itu membuat komandan pasukan Belanda di Solo, Letkol Van Ohl, terkejut saat berhadapan langsung. Van Ohl tidak mengira bahwa komandan gerilyawan yang telah memorak-porandakan pasukannya itu ternyata masih berusia dua puluhan.

Pada masa penjajahan Jepang beliau belajar di Sekolah Tinggi Pelayaran. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, Slamet Riyadi dan pasukannya bertempur. Salah satu wujud keberhasilan pasukan yang dipimpin Slamet Riyadi adalah merebut senjata tentara Jepang.

Salah satu gebrakan Slamet Riyadi dan rekan-rekannya pada masa ini adalah berhasil membawa kabur kapal milik Jepang, serta menggalang kekuatan dari para prajurit Indonesia yang sebelumnya tergabung dalam kesatuan militer bentukan Dai Nippon (National Geographic Indonesia, 23 September 2013).

Pahlawan yang Gugur di Usia Muda

Pada tanggal 9 November 2007, Slamet Riyadi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Apa saja yang dilakukannya sehingga menjadikannya sebagai pahlawan? Karena kemampuannya telah banyak dikenal, Slamet Riyadi sering terlibat operasi-operasi militer penting angkatan bersenjata RI. Beliau terlibat dalam usaha menghentikan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) juga gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, hingga kemudian dikirim ke Ambon mengha Republik Maluku Selatan (RMS). Sayangnya, Slamet Riyadi gugur dalam pertempuran melawan anggota Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon. Beliau gugur dalam usia yang masih sangat muda, yakni 23 tahun. dimakamkan di Tulehu atas permintaan masyarakat setempat. Sedangkan sebagian tanah kuburnya dibawa ke Solo untuk disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Solo. Untuk menghargai jasa pahlawan yang satu ini, Slamet Riyadi diabadikan sebagai nama salah satu jalan terbesar di Kota Solo. Itulah sekelumit sejarah di balik jalan raya tersibuk di Solo. Semoga kita bisa meneladani semangat perjuangan beliau.

(Gambar Utama: ublik.id/Ridho Nur Wahyu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.