UblikFilm Dilan. Sehari sebelum saya menulis ini, beberapa grup WhatsApp yang saya tergabung di sana, mendadak ramai membicarakan Dilan. Beberapa detik saya mengumpulkan ingatan: Dilan yang mana? Seingat saya, belum pernah punya teman bernama Dilan. Sesaat kemudian menebak, mungkin Dilan-yang-itu? Dilanku 1990 dan 1991? Eh maksud saya, Dilannya Milea! Meskipun yang benar adalah Dilannya Pidi Baiq. Ternyata benar. Mereka heboh membicarakan Dilan yang sebentar lagi main film! Jadi apa masalahnya? Sabar, nanti ketemu jawabannya. Baca sampai akhir ya.

Oh ya, bagi yang belum kenal siapa Dilan itu, ada baiknya kita kenalan dulu yuk. Dalam novel trilogi karya Pidi Baiq yang diterbitkan oleh Pastel Books yaitu ‘Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990’, ‘Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1991’, dan ‘Milea: Suara dari Dilan’, Pidi Baiq menggambarkan Dilan sebagai sosok anak SMA dengan karakter unik, nakal, susah ditebak, tapi romantis, suka baca, dan sering bikin puisi. Tahun 1990 PDKT dengan Milea, teman sekolahnya di Bandung yang baru pindah dari Jakarta. Nah, kelakuan Dilan sejak PDKT itulah yang membuat cerita ini tidak biasa. Soal penampilan fisik, Milea memenuhi standar kecantikan maksimal pada masanya. Bagaimana dengan Dilan? Meskipun tidak masuk kategori siswa berwajah rupawan, teryata Dilan punya pesona tersendiri.

Kata-Katanya Bikin Meleleh!

Image: Ilustrasi Dilan. Sumber: Novel Dilan

Buat para remaja perempuan se-Indonesia yang sudah membaca trilogi Dilan, kemungkinan besar akan menjadikan sosoknya sebagai  lelaki limited edition karena caranya memperlakukan perempuan. Sosok slengekan yang tidak pernah kehabisan ide itu sepertinya memang worthed buat jadi idaman. Lihat saja kata-katanya kepada Milea berikut ini:

Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Atau yang ini:

 

“Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya.”

 

Cerita Dilan Bukan Teenlit Biasa

film dilan
Sumber: inilah.com

Pidi Baiq dalam novel Dilan yang fenomenal itu tidak menyajikan cerita dengan alur dan konflik yang rumit. Bahasa yang digunakan pun sangat ringan dan tidak bertele-tele. Sebenarnya novel Dilan tak lain ialah kisah percintaan khas remaja SMA sebagaimana halnya novel teenlit. Ketika teman saya merekomendasikan novel Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1990,  awalnya saya tidak tertarik karena bukan penggemar teenlit. Tapi ketika membaca beberapa lembar saja, saya segera tersadar bahwa trilogi Dilan ini bukan teenlit biasa. Akhirnya saya mengakui kalau kisah sederhana tapi memikat khas Pidi Baiq itu membuat banyak pembaca jatuh cinta. Bahkan, tidak sedikit pembaca laki-laki yang terinspirasi oleh gaya Dilan saat PDKT dengan Milea! Konon memang Pidi Baiq membuat konten kisah Dilan memang untuk remaja laki-laki. Yang menggelitik adalah saya jadi kebayang seandainya saya laki-laki dan membaca Dilan dengan tingkah laku konyolnya yang unexpected itu, saya bakal tertantang: ‘apa saya bisa lebih romantis daripada si Dilan?’ Sungguh tantangan yang susah!

Soal teknik bercerita yang berbeda dari novel kebanyakan, sebagian orang mengaku senang karena tidak perlu berpikir untuk memahaminya. Meskipun begitu, ada juga yang kurang suka dengan gaya bertutur ala Pidi Baiq. Tapi itulah yang unik dan tidak ada duanya. Soal suka atau tidak, itu kembali lagi ke faktor selera. Setiap tulisan tentu ada pembacanya sendiri-sendiri. Kalau novel Dilan itu bukan teenlit biasa, tentu Dilan dan Milea juga bukan romance biasa. coba kita lihat komentar pembaca yang dimuat pada sampul belakang Milea, Suara dari Dilan:

“Dari Dilan kita belajar mengistimewakan wanita, romantis yang gak kuno, bahkan menjadi ayah dan bunda yang hebat.” @ginaalna

“Bukan cuma sekadar novel, tapi bisa menjadikan yang malas baca jadi mau baca.” @cobra_iqq

Tidak Disarankan untuk Dibaca saat Patah Hati

Mungkin kamu pun jatuh cinta pada Dilan. Atau paling tidak kamu suka dengan cara Dilan memperlakukan Milea, suka gombalan ala Dilan, suka cara Dilan menjaga Milea, suka dengan hadiah anti-mainstream yang diberikan Dilan. Kalau dipikir-pikir, siapa coba yang tidak cemburu dengan sikap Dilan pada Milea dalam buku itu? Saran saya sih sebaiknya baca Dilan saat hati sedang tidak ada gejolak akibat patah hati. Nanti tambah hancur hatinya. Eh, tapi tidak juga untuk yang sedang jatuh cinta. Lho, kenapa? Nanti minder karena sadar kisah cintanya biasa-biasa saja. Oke, ini bercanda. Yang jelas, kisah remaja yang sarat humor satir ini tidak terkesan dibuat-buat, lugas, dan jernih. Muatan cerita persahabatan, romance remaja, dan nilai-nilai keluarga yang harmonis, membuat novel ini layak dibaca semua umur.

Memberi Pesan Tanpa Menggurui

pemeran film dilan
Image: Pemeran Film Dilan. Sumber: Duniaku.net

Cerita fiksi yang memberi inspirasi tentu merupakan sebuah nilai plus. Begitu juga trilogi Dilan ini. Banyak kata-kata yang kemudian menjadi quote yang menarik, misalnya kata Milea soal cinta sejati ini: “karena cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli”. Atau yang ini “Bersama Dilan, bumi menjadi tempat yang cocok untuk aku ingin tinggal selama-lamanya! Dan hidup jadi menarik untuk aku lebih dari apa pun. Aku tidak salah lagi, mencintainya secara permanen.” Tentu lebih berasa feelnya ketika kamu membacanya sendiri novelnya.

Segera Difilmkan

pemeran film dilan
Image: Iqbal CJR jadi pemeran utama Film Dilan. Sumber: Indonesiashow.biz

Beberapa bulan setelah diumumkan bahwa novel Dilan diangkat ke layar lebar, respon orang-orang beragam. Menurut sang sutradara, Fajar Bustomi, butuh waktu lama untuk mencari pemain untuk memerankan Dilan. Karena banyak pertimbangan, beberapa nama kandidat yang pernah muncul untuk memerankan tokoh Dilan adalah Gusti Rayhan, Debo, Arbani Yasiz, Miqdad Adausy, Jefri Nichol, sampai Adipati Dolken. Tapi kemarin tanggal 17 Juli 2017, pertanyaan itu terjawab sudah.  Kembali mengingat apa yang saya tulis di awal tadi, teman-teman saya heboh karena Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, personel Coboy Junior (CJR) yang akhirnya terpilih menjadi tokoh Dilan dalam film yang diproduksi oleh Falcon Pictures itu. Netizen Indonesia, khususnya fans Dilan banyak yang protes karena sosok Iqbaal kurang cocok memerankan Dilan sebagai badboy. Imajinasi mereka seakan rusak ketika membayangkan sosok ‘Panglima Tempur’ geng motor tapi berwajah santri! Sementara itu, Milea diperankan oleh Vanesha Prescilla. Apapun itu, Dilan yang notabene cerita fiksi mestinya cukup menghibur dan menginspirasi para pembaca. Mengutip kata Iqbaal: Dilan adalah tentang cara berpikir, yang selalu punya cara berbeda, pemikiran yang berbeda, dan cara berpikir yang anti-mainstream. Well, seperti apa Iqbaal dan Vanesha menginterpretasi kisah Dilan dan Milea? Kita nantikan saja filmnya.

(Sumber Gmabar Utama: Cover Dilan, Dia Dilanku Tahun 1990)

Editor: Ridho Nur Wahyu

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here