Usia Mbah Sadiman memang tidak lagi muda, tapi langkah kakinya untuk naik turun bukit masih terlihat begitu kuat. Beliau adalah sosok lelaki bersahaja yang berasal dari sebuah desa di ujung timur Jawa Tengah, tepatnya di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Kiprah Mbah Sadiman di bidang lingkungan hidup begitu besar. Mbah Sadiman yang kini berusia 64 tahun masih aktif menanam dan mengelola pohon-pohon di bukit Gendol dan Ampyangan yang sebelumnya bisa dikatakan gundul, tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Berawal dari Kebakaran Hebat

Mbah Sadiman Pahlawan Penghijauan dari Wonogiri
Pahlawan Penghijauan dari Wonogiri (Sumber: rappler.com)

Aktivitas Mbah Sadiman yang gigih untuk menghijaukan perbukitan gundul itu telah terpikirkan sejak dahulu ketika usia beliau masih 10 tahun. Saat itu, beliau melihat maraknya penebangan kayu hutan. Rasa prihatinnya bertambah saat terjadi kebakaran hebat di Bukit Gendol dan Ampyangan di desanya. Setelah insiden kebakaran itu, bukit menjadi gersang. Yang tersisa hanya dua petak tanah hijau, masing-masing berukuran 10 meter persegi. Itulah yang membuat Sadiman kecil bermimpi suatu hari akan melakukan sesuatu untuk menghijaukan bukit itu lagi.

Pilihan Editor :

Puluhan tahun berikutnya, Mbah Sadiman mulai mewujudkan impiannya sendiri dengan menanami bukit dengan bibit-bibit beringin. Saat itu Mbah Sadiman dan masyarakat Desa Geneng merasakan suhu udara desa yang makin panas, padahal Desa Geneng berada di lereng gunung. Selain itu, debit air di sungai juga makin berkurang. Karena kekurangan air itulah, warga sekitar jadi terserang bermacam-macam penyakit seperti sakit kulit dan diare. Keadaan itulah yang membuat Mbah Sadiman mengambil tindakan.

Penuh Dedikasi kepada Lingkungan

mbah Sadiman Seorang Diri Hijaukan Bukit Gundul
Penuh dedikasi kepada lingkungan (Sumber: Nuswantoro/Mongabay.co.id )

Sebelum dikenal sebagai tokoh yang penuh dedikasi kepada lingkungan, Mbah Sadiman pernah mengalami masa-masa penuh pertentangan dari orang sekitarnya. “Buat apa menanam beringin di gunung? Tidak ada hasilnya!” kira-kira seperti itulah komentar orang-orang yang menyaksikan hal yang dilakukan Mbah Sadiman. Tanpa niatan heroik ingin dikenang sebagai orang yang berjasa, Mbah Sadiman yang memang dari keluarga sederhana itu tetap teguh pendirian untuk terus menanam pohon di bukit Gendol dan Ampyangan seluas seratus hektar, puluhan tahun lamanya. Bahkan 20 tahun yang lalu ketika isu pemanasan global belum jadi perhatian warga dunia, beliau sudah melakukan aktivitas konkret untuk mengurangi pemanasan global dengan cara menanami bukit gundul. Yang membuat beliau hebat dan layak disebut pahlawan adalah beliau melakukannya sendirian!

Tetap Teguh Pendirian Meskipun Sempat Dianggap Gila

mbah sadiman berhasil menghijaukan bukit tandus di wonogiri
Tetap teguh untuk menghijaukan bukit gendol (Sumber: Facebook/Irin Kharina)

Hari ini, ketika kita sempat melihat area perbukitan yang berjarak sekitar 70 km ke arah timur dari pusat kota Kabupaten Wonogiri, kita bisa menyaksikan pemandangan alam hijau pepohonan yang rimbun dan juga hamparan sawah-sawah warga. Tapi yang perlu kita pahami adalah bahwa Mbah Sadiman memperjuangkannya dengan tidak mudah. Tidak jarang beliau yang berniat mulia justru dianggap tidak waras! Tidak hanya menamam, Mbah Sadiman juga merawat dan menanami kembali jika ada pohon yang mati. Istimewanya lagi, Mbah Sadiman tak lupa membacakan Al Fatihah untuk setiap bibit yang mulai ditanam.

Berkat usaha dan kegigihannya, keadaan mulai membaik beberapa tahun terakhir. Beberapa mata air yang bersumber di bukit Gendol dan Ampyangan kembali mengalir. Warga desa pun senang. Mereka yang dulu mencemooh berbalik memuji. “Sekarang mau menanam apa saja di tegalan bisa karena air melimpah. Bisa ditanami padi, wortel, sayuran.” Kata para tetangga Mbah Sadiman setelah ikut menikmati hasilnya. Sekarang sudah lebih dari 500 keluarga yang mendapat air dari mata air kaki bukit.

Tidak Berharap Pujian

Mbah Sadiman membeli bibit dengan uang sendiri, padahal harga bibit beringin saat itu cukup mahal, sekitar Rp 50.000 – Rp 100.000 per buah. Bahkan, keluarganya sendiri tidak mendukung karena menanam bibit beringin tidak menghasilkan apa-apa dan tak ada upah yang menjanjikan hidup makmur. Sebenarnya apa yang dicari oleh seorang ayah tiga anak yang sudah menginjak usia senja ini? Mungkin memang tidak ada, karena yang dilakukan Mbah Sadiman bukan ‘mencari’ atau ‘mendapat’ sesuatu, melainkan ‘memberi’ atau ‘berbagi’ kepada sesama makhluk Tuhan.

Mbah Sadiman yang sekolahnya hanya sampai kelas satu STM ini adalah bukti nyata tentang sebuah ketulusan. Untuk berkontribusi tidaklah terbatas pada status, strata sosial, tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi, dan sebagainya. Bertepatan dengan suasana hari pahlawan ini, ada baiknya kita mengambil pelajaran berharga dari sosok pahlawan lingkungan hidup yang satu ini. Atas jasanya, beliau banyak mendapat penghargaan. Meskipun begitu, sosok sederhana yang low profile ini tidak mengharap penghargaan, pujian, apalagi popularitas. Seperti inilah kata Mbah Sadiman dalam bahasa Jawa yang diungkapkan ke banyak wartawan media nasional saat meliput aktivitas beliau “Nanti kalau saya sudah tidak ada, saya juga tidak ingin diperlakukan berlebihan. Saya hanya ingin berbuat kebaikan bagi sesama selama saya masih bisa.”

(Sumber Gambar Utama: Nuswantoro/Mongabay.co.id )

Editor: Ridho Nur Wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here