Setiap tahun bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini pada tanggal 21 April. Apa saja bentuk perayaan itu? Beberapa bentuk perayaan Hari Kartini yang bisa kita saksikan misalnya kegiatan sejenis pawai atau karnaval dengan pakaian adat dengan warna-warni riasan dan asesori, aneka lomba, dan bahkan pemilihan model Kartini untuk anak-anak TK.

Bagi anak-anak, Hari Kartini adalah tentang euforia perayaan, tanpa harus mengetahui makna sebenarnya perjuangan seorang RA. Kartini yang memperjuangkan emansipasi. Tentu saja mereka belum saatnya untuk memahami hal itu. Tapi berbeda dengan orang-orang seusia remaja dan dewasa, khususnya para perempuan. Terlepas dari aktivitas tahunan yang telah membudaya di negeri ini, pernahkah kita mempertanyakan esensi manfaatnya? Lalu seperti apa hakikat emansipasi itu?

Pilihan Editor;

Berbagai kalangan memiliki konsep yang beragam tentang emansipasi. Yang jelas, emansipasi identik dengan perjuangan kaum perempuan untuk mendapat kesempatan berkontribusi di berbagai bidang sebagaimana halnya laki-laki. Hingga kini, sosok Kartini masih dipahami sebagai seorang pejuang perempuan yang membebaskan dari kekangan pihak-pihak tertentu yang menghalangi akses perempuan terhadap pendidikan dan juga hak mereka untuk berkontribusi. Kartini yang dikenal dengan surat-suratnya telah diabadikan sejarah bangsa ini, terutama dengan istilah habis gelap terbitlah terang.

RA. Kartini (Sumber: Avoskinbeauty)

Sebenarnya, Apa Isi Surat Kartini?

Selama menjalani aktivitas surat-menyuratnya, terdapat tiga periode pemikiran Kartini. Hal ini tercatat dalam buku ‘Tragedi Kartini’ karya Asma Karimah (1986). Periode pertama adalah ‘masa adat Kartini’. Pada periode ini, Kartini sering mengkritisi kehidupan adat Jawa, khususnya di lingkungan ningratnya. Di tahapan ini, perjuangannya berkisar pada sektor pendidikan. Pemerintah Hindia Belanda (kolonialis) saat itu  cenderung membatasi aksesibilitas pendidikan bagi masyarakat pribumi. Menurut Kartini, seharusnya pendidikan itu menjadi hak kaum pribumi. Tentu saja pemerintah Hindia Belanda tidak menghendakinya, karena jika semakin banyak kaum terdidik pada masa itu, maka akan semakin gencar gerakan perlawanan dilakukan. “Berilah pendidikan kepada bangsa Jawa,” tulis Kartini di dalam salah satu suratnya.

Periode kedua adalah ‘masa Barat Kartini’. Hampir keseluruhan aktivitas surat-menyurat Kartini ditujukan kepada teman-temannya di Belanda, misalnya Mr. Abendanon, Ny. Abendanon, Stella, Annie Glesser, Ir. H. Van Kol, dan Ny. Van Kol. Masih dari buku yang sama yaitu ‘Tragedi Kartini’, tokoh-tokoh tersebut dianggap membawa misi terselubung terhadap Kartini. Mereka ingin memasukkan peradaban Barat ke dalam aktivitas masyarakat pribumi. Kartini yang berasal dari keluarga priyayi dipandang mampu ‘melancarkan’ misi tersebut.

Salah satu potongan surat Kartini (Sumber: Wikiwand.com)

Periode ketiga adalah masa pencerahan Kartini. Melalui masa-masa inilah istilah ‘habis gelap terbitlah terang’ berasal, meskipun bukan dari Kartini sendiri. Sebelum wafat, Kartini banyak menuliskan kalimat Door Duisternis Tot Licht yang kemudian diterjemahkan dengan habis gelap terbitlah terang. Pada tahun 1911 kumpulan surat-surat Kartini diterbitkan dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Akan tetapi, beberapa sejarawan mengungkapkan tentang adanya konspirasi sejarah berkaitan dengan makna sebenarnya dari kata tersebut. Ada juga sumber yang menyatakan bahwa Kartini memunculkan kata itu karena terinspirasi oleh potongan Surat Al Baqarah ayat 257, yang mana di sana terdapat kalimat ‘minadz-dzulumati ilan nuur’ yang artinya dari gelap menuju cahaya.

Kesetaraan yang Diperjuangkan Kartini

Terlepas dari sejarah yang memiliki beberapa versi, isu kesetaraan gender menjadi bahasan yang populer pada setiap peringatan Hari Kartini. Sebenarnya, kesetaraan seperti apa yang diperjuangkan seorang RA. Kartini? Mari kita lihat sebuah penggalan surat Kartini kepada Prof. Anton dan Ny. Anton pada tanggal 4 Oktober 1902 berikut ini: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Pernahkah kamu berpikir mengapa ada hari perempuan, ada hari ibu, ada hari Kartini? Ketiganya sama-sama bersifat ‘merayakan’ hak perempuan, walau  hanya sehari. Merasa bangga?  Nanti dulu. Bukankah itu berarti ada masalah dengan pemenuhan hak perempuan, sehingga perlu dibuat seremonial sedemikian rupa. Baiklah, sebenarnya bukan tentang esensi seremonial ‘hari perempuan’ yang perlu dibahas. Ini adalah tentang kesetaraan yang konon tidak harus berarti sama. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki fitrahnya masing-masing.

Tapi bagaimana menurutmu jika masih ada yang berpendapat seperti ini: “Anak perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya ke dapur juga.” Mungkin beberapa tetangga di kampung halamanmu pernah berkata seperti itu. Jika kamu yang membaca ini adalah perempuan yang sedang atau akan melanjutkan pendidikan tinggi, pendapat seperti di atas baiknya disikapi sesantai mungkin, toh tidak ada masalah jika seseorang yang sekolah tinggi. Seorang istri dan ibu yang berpendidikan, akan melakukan tanggung jawabnya dengan penuh perhitungan. Secara tidak langsung, pengalamannya menempa diri selama menempuh pendidikan tinggi akan menentukan keputusan-keputusan hidup yang dibuatnya.

Tentang Berbagi Peran

Tentu kita sadar bahwa di sekitar kita banyak hal yang perlu dibenahi di berbagai bidang. Tapi, jelas tidak seluruhnya bisa ditangani sendiri. Karena itulah, entah bagaimana bentuk dan jenis lingkunganmu, berbagi peran antara laki-laki dan perempuan merupakan keniscayaan. Lalu, dalam rangka memberi manfaat dalam dunia yang kompleks ini, kita mungkin sama-sama pernah memulai dengan pertanyaan: “Mulai dari mana? Lalu kapan?” Apapun keadaanmu, sederhana saja: mulai dari saat ini, mulai dari hal terpenting yang harus diselesaikan, dan mulailah dengan modal dirimu sendiri. Lebih dari itu, ada yang jauh lebih penting yaitu mulai dari menemukan panggilan jiwa kita, hal-hal di mana kita dapat melakukannya dengan kemampuan terbaik.

 

(Sumber Gambar Utama: Avoskinbeauty.com)