Bulan September bagi masyarakat Indonesia selalu dikaitkan dengan kejadian pemberontakan grakan partai komunis indonesia yang terjadi di penghujung September. Hal itu dikenal dengan sebutan G30SPKI. Pada kejadian itu kita semua tahu jika ada tujuh Pahlawan Revolusi yang gugur. Kejadian itupun dibungkus dan diabadikan dalam Film dengan judul serupa. Kini, dimasyarakat tengah jadi perbincangan tentang polemik diputar laginya film tersebut. Tapi, disini Ublik tak akan membahas soal itu. Ublik bakal membahas tentang salah satu tokoh dalam kejadian tersebut yang memiliki kisah cukup pilu untuk diungkapkan, dan jarang sekali orang mengetahuinya. Tokoh yang dimaksud adalah Kapten Pierre Tendean.

Dalam peristiwa G30SPKI ada tujuh orang yang meregang nyawa. Ketujuh orang itu adalah Jendral Ahmad Yani, Jendral S. Parman, Jendral Suprapto, Jendral MT. Haryono, Jendral D.I Panjaitan, Jendral Sutoyo dan Kapten Pierre Tendean. Nah, nama yang disebutkan paling akhir inilah yang bisa disebut sebagai sosok paling muda sekaligus memiliki cerita cukup memilukan.

Pilihan Editor :

Pierre Tendean adalah ajudan dari  A.H. Nasution. Banyak orang menyebut jika sosok Pierre Tendean adalah sosok yang tampan. Terlebih dirinya pun memiliki postur tinggi nan tegap. Khas Tentara Republik Indonesia. Wajah tampannya diwarisi oleh kedua orang tuanya. Ayah Tendean adalah seorang Manado bernama A.L Tendean yang berprofesi sebagai dokter. Sementara sang ibu adalah Maria Ellizabeth Cornet seorang Indo Perancis. Sejak masa mudanya ia selalu dielu-elukan para gadis. Namun, Tendean bukanlah sosok don juan yang mudah bergonta ganti pasangan.

Dari buku Pierre Tendean (1983) yang ditulis Masykuri dan turut ditampilkan dalam laman tirto.id, menceritakan ketika Tendean masih menjadi taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat, yang terletak didaerah Panorama Bandung. Ia mendapat julukan Robert Wagner dari Panorama. Robert Wagner sendiri adalah aktor terkenal dari Negeri Paman Sam. Meski mendapat julukan itu, tetap saja Tendean adalah sosok yang tak melebih-lebihi apa yang ia punya. Tendean juga dikenal dengan sebagai sosok yang cerdas. Bahkan ketika usianya masih cukup belia ia sudah ditunjuk menjadi ajudan dari Menteri Pertahanan A.H Nasution. Yang, menarik jika Nasution diundang untuk menyampaikan pidato di kampus-kampus. Banyak mahasiswi justru memerhatikan paras Tendean ketimbang ucapan Nasution.

Namun, Tendean tetaplah lelaki biasa. Ia tetap bisa terpikat pada seorang Wanita. Namanya Rukmini. Tendean benar-benar mencintai Rukmini, saking seriusnya, ia pun melamar gadis pujaan hatinya itu. Tapi, ternyata jodoh belum bisa bertemu. Sebab sebuah kejadian nahas menimpa pria kelahiran tahun 1939 tersebut.

pierre tendean
Image: Pierre Tendean dan Rukmini (Sumber: Merdeka.com)

Saat itu ketika malam sudah terlalu larut dan hari sudah berganti. Satu pleton pasukan Cakrabirawa pimpinan Djaharup menyerbu rumah Nasution (disadur dari buku rilisan Sekretaris Negara, Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasan (1994)).

Suara gaduh dari serbuan satu pleton pasukan Cakrabirawa tentu membangunkan seisi rumah, tak terkecuali Tendean. Jiwa tentaranya terpanggil. Dia-pun lantas mengisi peluru senapan dan langsung berhambur keruang dimana suara gaduh itu berasal. Namun sayang, ketika sampai ditempat yang ia tuju, beberapa orang bersenjata sudah langsung menodongnya. Kalah jumlah diapun memilih untuk menyerah. Karena suasana yang cukup gelap, pasukan penyerangpun salah mengira Tendean adalah A.H. Nasution. Dengan sigap pasukanpun membawa Tendean untuk dibawa ke lubang buaya. Sementara Nasution berhasil kabur. Sayangnya kejadian itu juga menewaskan anak dari Jendral Nasution, Ade Irma Suryani. hal tersebut terekam dan ditampilkan pula dalam film pemberontakan G30SPKI.

Pasukan Djaharup adalah satu-satunya pasukan yang salah meringkus target. Ketika tujuh orang itu dikumpulkan, hanya Tendean sebagai korban salah tangkap sementara ke enam lainya sesuai target. Meski begitu tiga diantara target tersebut dibawa ke daerah lubang buaya dengan sudah tak bernyawa.  Ketiganya adalah Jendral Ahmad Yani, Jendral D.I Panjaitan dan Jendral M.T Haryono.

Dilubang buaya, Tendean dan tiga Jendral lain disiksa sebelum akhirnya ditembak mati. Mayat-mayat merekapun di buang ke sumur tua yang berada didekat dari tempat penembakan. Tendean pun tewas, kisah si perwira tampan itupun akhirnya berakhir dengan tidak happy ending.

Ada banyak yang menyesali kepergian si ajudan tampan. Rukmini, adalah salah satu yang paling terpukul. Bagaimana tidak. Tendean sudah meminangnya dan akan menikahinya dua bulan lagi. Tapi tuhan berkata lain. Jodoh rukmini bukanlah si tampan Tendean. Bukan Cuma Rukmini yang meratapi nasib, ibu tendean pun jelas terpukul. Anak kebangganya dinyatakan meninggal sehari setelah dirinya merayakan ulang tahun.

Akhirnya dari kejadian itu kita semua tahu dan mengenal nama Pierre Tendean. Seorang ajudan tampan nan cerdas. Kini Tendean telah pergi, tinggal kita sebagai generasi penerus yang mesti meneruskan tongkat estafet kelanjutan negeri ini. Menyebarkan hal-hal positif tentang Indonesia ke seluruh penjuru dunia. memberi sumbangsih pemikiran agar bumi pertiwi sampai pada cita-citanya. Sebab memertahankan dan mengembangkan negeri hari ini tak melulu harus dengan angkat senjata.

(Gambar Utama: Tribun Manado)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here