Pernahkah kamu melihat orang yang bermata biru? Ya benar sekali, kebanyakan adalah orang Eropa maupun Amerika yang berkulit putih. Namun tahukah kamu ternyata di Indonesia juga ada perkampungan yang di dalamnya tinggal masyarakat asli Indonesia namun mempunyai mata biru?

Jika bicara dari kacamata ilmu sains, warna mata manusia sebenarnya beraneka ragam. Sejak di bangku sekolah kita sudah diajarkan bahwa warna mata dipengaruhi oleh kandungan pigmen sehingga memunculkan beraneka macam warna. Ternyata, anggapan tersebut terbantahkan. Hasil dari penelitian Paul Van Slembrouck dalam bidang medium, diungkap fakta bahwa terdapat rumus dan perhitungan fisika dalam penentuan warna mata pada manusia.

Pilihan Editor:

 

Pada dasarnya mata manusia terdapat iris. Iris ini mempunyai bagian yang disebut stroma (bagian depan) dan epitel (bagian belakang). Stroma adalah serat kolagen yang polos atau tidak berwarna. Dalam suatu waktu, stroma juga diketahui mengandung pigmen melanin coklat. Epitel mempunyai beberapa tebal sel yang berisi pigmen berwarna hitam dan coklat. Sekilas ketika melihat mata diri sendiri, akan tampak bintik dan serabut itu semua merupakan wujud dari epitel. Dengan kata lain orang dengan mata biru memiliki stroma yang polos atau tidak berwarna dan tak berpigmen dan dia memiliki cadangan kolagen berlebih. Namun kenyataan bahwa kandungan kolagen berlebih dimiliki oleh orang yang berketurunan kulit putih ternyata salah besar, ternyata di Indonesia mempunyai beberapa desa yang di dalamnya dihuni oleh para masyarakat yang bermata biru.

1. Masyakarat Siompu, Sulawesi Tenggara

Masyarakat Bermata Biru
Masyarakat bermata biru (Sumber: La Yusrie / Kendari Pos)

Tepatnya di daerah pulau terpencil Siompu, di provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Selain terdapat peninggalan bersejarah yakni benteng Siompu, pulau ini dihuni oleh masyarakat yang akan mengalihkan perhatian mereka terhadap penampilan masyarakat Siompu yang rata-rata bermata biru. Pulau yang berada di kawasan Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara ini harus ditempuh sekitar 1 jam dengan kapal dari pelabuhan Topa, Baubah Kota.

Dilansir dari GNFI, seorang bernama Dala (15 tahun) yang mempunyai perawakan mirip sekali dengan orang Eropa, dengan postur tinggi besar, berambut agak pirang, dan bermata biru. Dala menuturkan bahwa pada era penjajahan Portugis (pada tahun 1600-an) pulau Siompu menjadi tempat singgah dan menepinya kapal para pelaut Eropa salah satunya Portugis.

Dalam rangka menjalin persahabatan antara penduduk Siompu dan Portugis, pemimpin pasukan Portugis menikahi gadis yang merupakan cucu bangsawan Wolio. Hingga sekarang terus berkembang dan tinggal di pulau tersebut. Di desa Kaimbulawa (salah satu desa di pulau Siompu), hingga sekarang tercatat ada 20 Kepala Keluarga sudah termasuk Dala dan keluarganya. Terdapat 10 orang yang bermata biru dan lainnya tidak bermata biru melainkan berambut hitam serta berkulit putih.

Jarak antara rumah di desa tersebut juga saling berjauhan dan rata-rata masyarakatnya bekerja sebagai petani di ladang. Kehidupan yang jauh dari hirup pikuk teknologi dan perkotaan, membuat masyarakat Siompu yang satu ini lebih suka menghabiskan waktu dengan masyarakat sekitarnya, dan menjalani kegiatan rutin seadanya, sehingga sangat jarang terekspose oleh media.

2. Masyarakat Hutan Halmahera Timur, Maluku

Berjalan lebih ke timur bagian Indonesia di daerah Halmahera Timur, Maluku. Pulau dengan luas wilayah 17.900 km2 ini menyuguhkan pemandangan yang tidak lazim bagi wisatawan yang berpersepsi bahwa orang Maluku adalah orang yang berkulit hitam dan berambut ikal.

Suku Lingon merupakan suku yang mendiami pulau ini. Orang yang berkunjung akan terbelalak karena banyak ditemui warga yang mempunyai ciri fisik layaknya orang-orang Eropa menjadi pemandangan yang biasa. Selain postur mereka yang tinggi, mereka juga berambut pirang dan bermata biru.

Ternyata mereka juga mempunyai nama marga, nama tersebut juga merupakan nama-nama dari orang Eropa antara lain Joostenz, Lerrick, Caffin, dan lainnya. Seperti halnya masyarakat Lingon konon katanya keturunan orang bermata biru di Hutan Halmahera Timur ini adalah keturunan dari para pelaut Portugis yang terdampar di Pulau Halmahera, tinggal dan berbaur dengan warga lalu menikah hingga menghasilkan keturunan dengan perawakan orang Eropa pada umumnya. Kehidupan suku masyarakat Lingon ini juga sangat jauh dari teknologi yang bisa kita nikmati saat ini. Karena hidup dihutan sangat minim penerangan, listrik, ataupun alat telekomunikasi. Hal tersebut membuat rutinitas masyarakat hanya bercocok tanam, berternak, dan berburu.

3.Masyarakat Lamno Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darrusalam

Gadis Lamno (Sumber: Kompas.com)

Berjalan lebih jauh ke arah barat, ke daerah yang memiliki julukan Serambi Mekkah yakni Nanggroe Aceh Darrusalam. Di provinsi yang didaulat sebagai Daerah Istimewa Aceh mempunyai kisah unik tentang jejak keturunan masyarakat yang bermata biru. Di provinsi ini ada kawasan penduduk yang disebut Bulek Lamno. Tidak bisa kita pungkiri bahwa penduduk Aceh terkenal dengan kecantikan dan ketampanan paras mereka. Di Aceh telah menjadi tempat bercampurnya darah para keturunan dari suku Melayu, Arab, dan Portugis hal itu menyebabkan mereka terlihat unik, berbeda, dan berciri fisik lebih berbedar dengan mayoritas penduduk Indonesia.

Di kampung Lamno, memang dikenal sebagai daerah yang ditinggali para penduduk yang bercampur dengan keturunan ras kaukasoid daripada ras melayu. Di antara suku ras Melayu tersebut terdapat beberapa penduduk yang memiliki postur badan yang tinggi, mata biru, rambut pirang, dan kulit putih kemerahan khas bule. Orang Lamno ini juga dikaitkan tentang keturunan para pelaut Portugis yang pernah menjalin hubungan yang erat dengan penduduk asli Lamno berbaur menjadi satu dan menghasilkan keturunan mirip orang Eropa. Kehidupan keseharian Suku Lamno bisa dikatakan sudah mulai maju dibandingan suku bermata biru di Lingon Maluku maupun di Siompu di Sulawesi Tenggara. Kegiatan sehari-hari masyarakatnya sudah mengarah pada transaksi jual beli di pasar. Mayoritas masyarakat Bulek Lamno sebagai petani di ladang dan peternak. Transportasi di daerah ini juga cukup mudah dan bisa dikatakan sudah tidak minim penerangan karena listrik sudah mudah didapat.

Demikianlah di atas adalah beberapa keunikan penduduk asli Indonesia yang mempunyai ciri fisik bermata biru yang umumnya tidak dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya kaya sumberdaya alam, budaya, kuliner, bahasa tapi juga keunikan rasa dan suku yang ada. Semoga keunikan ini bisa terjaga sehingga mampu menguatkan Indonesia sebagai negara Bhineka Tunggal Ika.

(Sumber Gambar Utama: Pixabay.com)