“Kemerdekaan ialah hak segala bangsa” kalimat tersebut ada di dalam salah satu alinea pembukaan undang-undang dasar (UUD) 1945. Sejak awal, negara ini sudah berkomitmen untuk melawan segala bentuk kolonialisme dan mendorong negara-negara merdeka. Namun, saat Indonesia merdeka tahun 1945, hal tersebut juga tidak didapat dengan mudah. Kita tidak bicara soal bagaimana para pahlawan bertempur di medan perang atau bagaimana Soekarno melafalkan proklamasi.

Kemerdekaan Indonesia itu tak berhenti pada saat Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan. Perjuangan kemerdekaan itu adalah perjuangan untuk ‘merebut hati’ bangsa lain supaya mau mengakui kedaulatan Indonesia sebagai negara yang sudah terbebas dari penindasan. Tapi apa yang terjadi? Hal itu tidak didapat dengan mudah.

Pilihan Editor :

Kita semua tahu, negara pertama yang mengakui kedaulatan bangsa kita adalah Mesir. Negara yang terletak di benua Afrika tersebut menjadi tandem pertama Indonesia. Hal tersebut terjadi pada tahun 1947. Namun semua itu tidak didapat dengan mudah. Ada banyak sekali ‘drama’ yang kemudian dialami oleh para delegasi Indonesia yang pergi ke Mesir.

Mereka adalah Haji Agus Salim, Abdurahman Baswedan, DR. Rasjidi, dan Nazir Pamoentjak. Mereka adalah orang yang sangat berjasa yang membuat kemerdekaan Indonesia menjadi lengkap.Tepat pada tanggal 10 April 1947 mereka berempat pergi meninggalkan Indonesia dan bertolak menuju Mesir.

Haji Agus Salim ditunjuk sebagai pemimpin rombongan. Pria tua dengan kopiah hitam yang selalau menempel di kepalanya itu dengan gagah memimpin delegasi masuk ke bandara Mesir. Jangan bayangkan mereka berpakaian rapi dengan jas necis dan sepatu mengkilap. Tidak, mereka jauh dari kata keren. Mereka berpakaian serba kumal, bahkan sebagian lain tak bersepatu dan hanya bersandal. Mereka berempat tetap menegakkan kepala masuk ke negeri orang untuk mendapatkan pengakuan.

Haji Agus Salim di Belanda (sumber: gomuslim.co.id)

Tapi, di bandara tersebut seorang petugas imigrasi dengan badan tegap menghadang, meminta mereka untuk menunjukan paspor. Saat itu, Indonesia belum memiliki paspor resmi. Yang ada di tangan mereka hanya secarik kertas lecek yang menerangkan kalau mereka berasal dari sebuah negara bernama Indonesia. Si petugas imigrasi cukup keheranan. Mengingat sejauh pengetahuannya tak pernah ada negara bernama Indonesia.

Sebelum petugas imigrasi itu banyak bertanya, Haji Agus Salim langsung memagari dengan pernyataan “gdari Indonesia, sebuah negara baru di Asia” Pernyataan tersebut tak lantas membuat sang petugas imigrasi bergeming. Ia tetap ragu sampai akhirnya meluncurlah sebuah pertanyaan “Are You Moslem?” Tanpa ada aba-aba mereka berempat berbarengan menjawab “Yes” sedetik kemudian mereka tertawa karena tak menyangka akan kompak menjawab dengan jawaban yang sama. Barulah setelah itu sang petugas imigrasi tersebut membolehkan keempat orang Indonesia tersebut melewatinya.

Kunjungan delegasi Indonesia tersebut memang yang pertama dalam sejarah. Mereka berempat berani melangkahkan kaki ke Mesir sebagai bentuk balasan delegasi Mesir Muhammad Abdul Mun’im yang kala itu Konsul Jendral Mesir di Mumbay India yang berkunjung ke Yogyakarta pada tanggal 13-16 Maret 1947. Kunjungan Mun’im saat itu ke Jogja membawa misi dari Liga Arab yang secara terang-terangan mendukung kedaulatan kemerdekaan indonesia. Hal itu diputuskan dalam sidang Dewan Liga Arab pada tanggal 18 November 1946 karena memiliki ikatan kekeluargaan, persaudaraan, dan latar belakang islami.

Kedatangan delegasi Indonesia ke negeri piramida itu disiarkan dalam surat kabar. Masyarakat Mesir mendukung dan menyambut kedatangan empat orang Indonesia itu. Namun, hal tersebut membuat duta besar Belanda untuk Mesir gerah. Mereka melakukan berbagai macam cara supaya Indonesia tak dapat pengakuan. Menurut mereka, Indonesia belum merdeka dan masih ada di bawah wewenang kerajaan Belanda. Selain itu, mereka pun tidak mengakui perjalanan diplomatik ke empat orang Indonesia tersebut.

Menlu Mesir tanda tangan pengakuan kemerdekaan Indonesia (Sumber: IkhwanWiki)

Bukan cuma itu, kampanye hitam pun terus digencarkan Belanda. Bahkan, pada suatu ketika Bung Karno dan Bung Hatta pernah akan diadili karena dianggap sebagai penjahat perang. Geramnya Belanda bukan berarti tanpa tindakan. Mereka terus berupaya untuk membuat Mesir menggagalkan rencananya bahkan di detik-detik terakhir pengakuan Mesir terhadap kedaulatan Indonesia.

Dua bulan sudah keempat orang tersebut berada di Mesir, pada tanggal 10 Juni 1947 hari bersejarah itu pun datang. Abdul Mun’im mengantarkan keempat orang Indonesia itu menghadap Perdana Menteri Mesir Nokrahsi Pasha. Pertemuan dijadwalkan berlangsung jam 9 pagi. Namun ternyata semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Mereka mesti menunggu 30 menit untuk kemudian bertemu Perdana Penteri Mesir. Ketika hendak masuk ruangan Perdana Menteri, keempat delegasi Indonesia tadi berpapasan dengan duta besar Belanda yang ternyata masih mau melobi Perdana Menteri Mesir. Namun, Nokrashi Pasha ternyata tetap berkeras untuk mendukung Indonesia sekalipun Belanda mengancam dengan berbagai macam hal yang bisa saja merugikan Mesir.

“Menyesal sekali kami harus menolak protes Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat, dan sebagai negara yang berdasarkan Islam, tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam. Ini adalah tradisi bangsa Mesir dan tidak dapat diabaikan,” begitu kata Nokrashi Pasha pada duta besar Belanda.

Kesepakatan pun terjalin. Mesir resmi jadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Misi Agus Salim, AR Baswedan, Rasjidi dan Nazir Pamoentjak telah berhasil dan mereka pun dapat pulang dengan hati lega.

(Sumber: moonriseoveregypt.com)

Kisahnya Difilmkan

Cerita kegemilangan Haji Agus Salim dan kawan-kawan tadi segera tayang dalam bentuk sebuah film dan akan diputar di bioskop seluruh Indonesia. Film tersebut mengambil tajuk Moonrise Over Egypt yang bakal tayang pada tanggal 22 Maret 2018. Film itu akan menampilkan sejumlah aktor seperti  Prith Timothy, Vikri Rasta, Drh. Ganda juga Reza Anugerah. Segala drama akan tersaji gamblang dan kita akan dibuat tahu bagaimana situasi kala itu. Film ini akan mengantarkan kita mengetahui sejarah yang barangkali tak pernah kita tahu sebelumnya. Jadi, kamu berencana nonton dengan siapa?

 

(Editor: Restia Ningrum)

(Sumber gambar utama: education.abc.net.au)