in ,

Kembangkan Halal Science, Ilmuwan Indonesia Memenangkan Penghargaan King Faisal International Prize 2018

Ada yang berbeda dari penghargaan bergengsi King Faisal International Prize 2018. Penghargaan ini adalah yang terbesar kedua di dunia setelah Nobel Prize. Bisa dibilang kalau King Faisal International Prize adalah Nobel Prize-nya negara Arab. Acara penghargaan tahunan itu disponsori oleh Yayasan King Faisal yang dirancang untuk orang-orang yang berdedikasi dan kontribusinya bisa membuat perubahan positif. King Faisal International Prize yang pertama kali diluncurkan tahun 1979 ini memiliki lima kategori penghargaan, yaitu Pelayanan Kepada Islam (Service to Islam), Kajian Islam (Islamic Studies), Bahasa dan Sastra Arab (Arabic Language and Literature), kedokteran (Medicine), dan sains (Science). Lalu apa yang membedakan event tahun ini dengan tahun sebelum-sebelumnya?

Pilihan Editor;

(Sumber: eyeofriyadh.com)

Dalam penghargaan King Faisal International Prize 2018, Irwandi Jaswir memenangkan penghargaan untuk kategori Pelayanan Kepada Islam (service to Islam). Pada tahun 2018, pertama dalam sejarah King Faisal International Prize, kategori ini dimenangkan oleh ilmuwan dari Indonesia dengan penelitian seputar halal science, padahal sebelumnya, kategori ini biasa dimenangkan oleh kepala negara atau ulama.

Pilihan Editor;

Pada tanggal 26 Maret 2018, Irwandi menerima langsung penghargaan itu yang diserahkan oleh Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud di Hotel Faisaliyah, Riyadh. Kontribusi apa yang dilakukan oleh profesor Irwandi sehingga beliau bisa memenangkan penghargaan bergengsi itu? Ahli bioteknologi Indonesia ini berkontribusi besar dalam pengembangan Halal Science, yakni untuk mempermudah pendeteksian unsur yang haram bagi umat Islam di dalam makanan atau produk lain seperti obat dan kosmetik, sehingga umat Islam tidak perlu ragu ketika memilih produk halal.

Sebelum Prof. Irwandi, ada beberapa tokoh terkenal dunia yang juga mendapat penghargaan Raja Faisal untuk kategori yang sama, misalnya Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud sebagai Penjaga Dua Kota Suci Arab Saudi yang memenangi penghargaan ini pada tahun 2017. Ada Dr. Zakir Naik pada tahun 2015, mantan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi pada tahun 2011, dan juga Recep Tayyip Erdogan pada tahun 2010, yang saat itu masih menjabat sebagai Perdana Menteri Turki.

Sekilas Profil Prof. Irwandi Jaswir

Irwandi Jaswir lahir di Medan pada tanggal 20 Desember 1970. Sesudah menyelesaikan pendidikan SMA di Bukittinggi, baliau hijrah ke Bogor untuk kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Gelar sarjana di bidang Teknologi Pangan dan Gizi Manusia diperolehnya dari IPB pada tahun 1993. Master of Science (M.Sc) di bidang Food Science and Biotechnology pada tahun 1996, dan juga Doctor of Philosophy (Ph. D) di bidang Food Chemistry and Biochemistry pada tahun 2000 didapat dari Universiti Putra Malaysia. Setelah itu beliau juga menempuh Ph. D lagi (exchange program) di Department of Food, Nutrition and Health, University of British Columbia (UBC), Canada (1989-1999). Profesor Irwandi Jaswir juga sempat menjalani program postdoctoral fellowship di National Food Research Institute in Tsukuba, Japan (2006-2008). Profesor Irwandi masih berprofesi sebagai Koordinator Riset di Halal Industry Research Centre, International Islamic University Malaysia (IIUM). Prof. Irwandi Jaswir adalah peneliti dan akademisi yang sangat aktif yang berfokus pada Halal Science. Lebih dari 60 penghargaan telah diterimanya.

Prof.Irwandi bersama Raja Salman (Sumber: dunia.tempo.co)

Perkembangan Produk Halal di Dunia

Produk halal kini tidak hanya dibutuhkan oleh umat Islam saja. Bisa dibilang kalau konsep halal saat ini menjadi gaya hidup masyatakat global. Saat ini banyak orang nonmuslim yang juga menggemari makanan halal karena faktor kesehatannya. Abdulla Mohammed Al Awar, Kepala Eksekutif Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai atau The Dubai Islamic Economy Development Centre (DIEDC) mengatakan bahwa makanan halal mampu menarik konsumen non-Muslim yang selama ini khawatir tentang keamanan makanan. Tak heran kalau negara-negara yang penduduknya bukan pemeluk Islam seperti Jepang, Korea, China, bahkan negara-negara Eropa dan Amerika serius menggarap pasar halal.

Kontribusi kepada agama dan negara

Saat diwawancarai oleh beberapa media, Prof. Irwandi mengaku tak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan memenangkan sebuah penghargaan bergengsi itu. “Saya hanya ingin berkontribusi pada umat manusia sesuai bidang yang saya bisa.” Selalu ada motivasi besar di balik pencapaian besar. Ketika kita bermanfaat bagi orang lain, hidup ini akan terasa lebih bermakna. Apalagi halal science menyangkut kaidah yang merupakan standar hidup dunia dan akhirat. Sebagaimana kita tahu, para diaspora Indonesia tidak membawa namanya sendiri, melainkan negaranya, kampung halamannya, juga agamanya. Meskipun Prof. Irwandi berkarir di negeri jiran Malaysia, tapi kontribusinya tetap bisa dirasakan oleh bangsa Indonesia.

 

(Sumber Gambar Utama: dunia.tempo.co)

5 Tanda kalau Bulan Ramadhan Sudah Dekat

bahasa indonesia ivan lanin

Yakin Bahasa Indonesia Kamu Sudah Benar? Yuk Belajar dengan Wikipediawan Ivan Lanin Berikut Ini