Ublik.id – Nasib Jalan Raya Daendels. Musim mudik akhirnya tiba juga. Bagi kamu yang hendak pulang ke kampung halaman untuk menikmati lebaran, pasti sudah menanti momen ini sejak lama. Menanti waktu dimana kamu dan jutaan orang lain berhamburan memenuhi jalan-jalan utama di Indonesia untuk sama-sama pulang ke rumah dan meninggalkan segala kepenatan pekerjaan selama setahun terakhir ini. Mudik lebaran bisa dibilang sebuah tradisi yang hanya bisa kita lihat di Indonesia. Antusiasmenya selalu sama, selalu meriah dan selalu saja memiliki cerita yang menarik. Karena itulah tak sedikit orang melihat mudik lebaran dari sisi bisnis, sekedar menyediakan tempat berisitirahat dan menyuguhkan beberapa makanan di pinggir jalan untuk para pemudik yang ingin singgah dan beristirahat disana. Setiap tahun warung-warung dadakan itu selalu menjamur. Terutama dikawasan jalur Pantai Utara (Pantura)

Masalahnya adalah kini pemerintah tengah getol membangun jalur tol. Pulau Jawa seakan dirajut dengan tol yang membentang dari ibukota hingga pada akhirnya nanti berhenti di ujung timur Jawa Timur. Jalur cepat itupun seakan menyingkat jarak. Jika biasanya  untuk pergi ke Jakarta dari Cirebon membutuhkan waktu 4 sampai 5 jam. Kini setelah dibukanya tol Cikopo-Palimanan (Cipali) waktu tempuhnya bisa dipersingkat jadi hanya 3 jam saja. Bahkan jika sedang lengang Jakarta-Cirebon bisa ditempuh dengan aktu 2 jam saja. Cepat bukan? Saat ini pemerintah benar-benar tengah serius membangun jalan tol. Untuk mudik lebaran tahun ini saja, jalan tol yang akan dibuka sudah cukup banyak. Tol lainnya yang juga sudah dikerjakan sejak jauh-jauh hari akan selesai beberapa tahun lagi, misalnya saja tol yang diberi nama Trans Jawa.

Tercatat jika pemudik dari Jakarta menuju Jawa Timur, dia bisa menggunakan jalur tol Cikampek yang dapat tembus langsung ke Batang Jawa Tengah. Dengan melintasi pintu tol Palimanan, Kanci, Pejagan, Brexit lalu pemudik dapat melintasi Pemalang dan kemudian Batang yang tahun ini sudah dapat difungsikan. Meskipun belum 100% rampung dikerjakan, namun sudah bisa dilewati. Bahkan setelahnya ada tol Batang-Semarang yang kemudian dapat bermuara di Weleri Jawa Tengah. Keluar dari tol Weleri pemudik baru melintasi Pantura. Tidak lama, sebab di Ngaliyan pemudik akan bertemu dengan jalan bebas hambatan lagi yang akan membawanya ke Solo. Ya, tahun ini barangkali ruas jalan tol bisa finish di Solo. Setelah melewati Solo pemudik akan sampai pada sebuah daerah yang menjadi batas akhir dari wilayah administratif Provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Karanganyar. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Kemudahan ini tentu disukai para pemudik terutama pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi roda empat. Akses tol akan sangat membantu agar perjalanan pulang kampung tak memakan waktu lama dan dapat sesegera mungkin bertemu dengan sanak keluarga di rumah. Akan tetapi, kebahagiaan para pemudik tak menjadi kebahagiaan untuk mereka yang menggantungkan hidupnya dari keramaian Pantura. Semenjak jalur tol Trans Jawa dibangun, Pantura jadi tak seramai dulu. Tidak banyak yang melintasi jalur buatan Gubernur Deandles ini. Semua orang lebih memilih mencoba jalur tol baru ketimbang harus melintasi jalur Pantura. Sebagai dampak dari hal tersebut, jalur Pantura menjadi sepi dan banyak sekali ruang bisnis yang harus gulung tikar

Jika sepuluh tahun lalu kita melintasi Pantura, maka kita masih dapat melihat beberapa rumah makan yang berdiri. Siap menyajikan makanan terbaik bagi orang yang melintas di jalur yang membentang dari Anyer sampai Panarukan itu. Tapi kini, kondisinya sudah sangat jauh berbeda. Beberapa sudut Pantura tak ubahnya kota mati. Bangunan-bangunan bekas restoran dibiarkan terbengkalai. Beberapa bahkan sudah dirimbuni oleh rumput liar yang meninggi. Jika pun ada rumah makan yang masih berdiri, kondisinya tak seramai dulu. Barangkali jika tak bekerjasama dengan agen travel ataupun bus, rumah makan tersebut semakin mendapatkan penghasilan yang minim. Bukan hanya rumah makan, di musim mudik ini banyak orang yang menanam modal untuk membangun usaha kecil-kecilan di pinggir jalan Pantura. Hingga saat ini, memang masih banyak yang beradu nasib di musim mudik lebaran, tapi omsetnya tak setinggi dulu saat Pantura masih jadi andalan jalur lintas Jawa. Melihat kondisi seperti ini, para pedagang dadakan ini hanya berharap pada mereka yang mudik dengan menggunakan sepeda motor.

Kerja rodi yang dilakukan Daendels dulu untuk membuat akses jalur lintas Jawa kini hampir menjadi kenangan. Beberapa nyawa yang melayang saat Daendels memaksa pribumi untuk bekerja tanpa henti membangun jalur Pantura tinggalah cerita sejarah untuk anak cucu kita. Sekarang jalur Pantura tak ubahnya Route 66 sebuah jalan di Amerika yang tak lagi berfungsi secara maksimal, panjang jalurnya tapi tak ada yang menggunakan. Sepi dan sunyi sekali.

 

(Gambar Utama : eaglerider.com )

(Editor : AprianingDwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here