Apa yang paling kamu ingat dari masa-masa sekolah? Apakah teman sekelasmu suka menunggu-nunggu liburan tiba? Kalau begitu, ada baiknya kita berkenalan dengan konsep sekolah yang unik seperti berikut. School day is a holiday menjadi slogan yang selalu diterapkan di sekolah ini. Itulah mengapa mereka bisa merasakan suasana liburan setiap hari di dalam serangkaian kegiatan sekolah. Tanpa seragam dan sekat-sekat ruang kelas seperti pada sekolah umum, sekolah ini menjadi langkah inovatif pendidikan berbasis kreativitas. Kalau kamu pernah membaca novel ‘Toto-Chan’ karya Tetsuko Kuronayagi, kamu bakal mendapat sedikit gambaran.

Pada awalnya, sekolah ini dibangun untuk mengenali potensi alam di sekitar sungai Bengawan Solo. Ya, disesuaikan dengan lokasi pendiriannya, sekolah ini bernama Sekolah Alam Bengawan Solo atau biasa disingkat SABS. Kalau mau mengenal SABS lebih dekat, kita bisa berkunjung ke Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Misalnya ditempuh dari kota Solo, kira-kira butuh waktu perjalanan 1,5 jam.

Awal Pendirian Sekolah Alam Bengawan Solo

Sekolah Alam Bengawan Solo
Kegiatan Sekolah Alam Bengawan Solo (Sumber: sabs.sch.id)

SABS awalnya dirintis oleh Suyudi Sastro Mulyono, lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang memiliki usaha meubel. Lelaki paruh baya yang dipanggil Pak Yudi itu sempat merasakan kegelisahan tentang kondisi pendidikan di Indonesia, khususnya dalam hal pembentukan karakter. Beliau kemudian mulai menggagas sebuah komunitas pendidikan untuk menjawab permasalahan tersebut. Tujuan mulia Pak Yudi adalah ingin menjadikan anak-anak sebagai pemimpin, yakni pemimpin untuk diri sendiri maupun orang lain.

Bagi Pak Yudi, daripada menggantungkan pemerintah, lebih baik mengambil inisiatif untuk berbuat sesuatu. Pak Yudi pun mulai mendirikan saung-saung dari kayu dan bambu di sekitar area bantaran Sungai Bengawan Solo yang menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Klaten dan Sukoharjo.  Kegiatan yang berada di dalam sekolah ini dinaungi oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Taruna Teladan dan Yayasan Taruna Bengawan Solo. Yayasan Taruna Bengawan Solo didirikan pada pada bulan Juni 2014 di bawah akta Kementerian Hukum dan HAM.

Pilihan Editor:

 

Dibangun di bantaran sungai, di SABS tidak ada kelas dengan bangunan permanen, melainkan deretan saung bambu dan kayu, beratap daun kelapa. Suasana itu dimaksudkan agar bisa menanamkan sebuah pemahaman kepada anak bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja.

SABS yang sering dijuluki ‘sekolah dolan’ ini jga memiliki keunikan lain. Selain siswa-siswa yang masuk di awal tahun pelajaran, di sana ada juga siswa-siswa pindahan dari sekolah lain yang notabene  mendapat catatan kurang baik di sekolah asalnya. Hal itu membuat masyarakat semakin yakin dengan SABS. sebagai sekolah harapan orang tua. Ketika anak tidak mendapat kesempatan belajar yang nyaman di sekolah umum karena dianggap ‘tidak normal’, tidak demikian dengan SABS. Beberapa anak penyandang diseleksia pun diterima bersekolah di SABS dan anak tersebut bisa menikmati pembelajaran di sekolah alam tersebut. Selain memberi kebebasan pada siswa, SABS ini juga memberi kebebasan untuk para guru untuk mengajar sesuai kreativitas mereka. Kreativitas guru pun tidak dibatasi oleh ketentuan buku paket dan target nilai.

Fokus kepada Pendidikan Karakter

SABS Sekolah Alam Bengawan Solo
Acara Bedah Buku di SABS (Sumber : sabs.sch.id)

Pendidikan karakter menjadi hal yang diutamakan di sekolah ini. Di sekolah formal lebih banyak belajar teori, sedangkan di sekolah ini anak-anak dapat mempraktikkannya secara langsung. Tidak terpaku pada ruang kelas, anak-anak yang belajar di SABS biasa belajar langsung di alam, entah itu di sungai, di sawah, di kebun, di pantai, dan sebagainya.

Kurikulum di sekolah alam ini mengacu standar kompetensi yang ditetapkan pemerintah, tapi lebih fokus ke pembentukan karakter anak. Kurikulum SABS terintregrasi dalam kurikulum akhlak, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Khusus tentang kewirausahaan, kemampuan inilah yang benar-benar dibentuk pada tiap-tiap diri anak. Bahkan, dari spirit wirausaha itulah, anak-anak SABS berinsiatif untuk bisa membantu menggalang dana demi merenovasi rumah temannya.

Sekolah Alam Bengawan Solo SABS
Sumber: sabs.sch.id

Sebagai contoh lain terkait aktivitas kewirausahaan, setiap hari Rabu Legi di penanggalan Jawa, anak-anak berjualan makanan atau minuman ringan. Yang menjadi tujuan utama bukan untung ruginya, tapi yang lebih penting adalah bahwa sejak dini mereka paham prinsip-prinsip niaga, menjadi orang yang mandiri, suka berbagi, dan bisa bekerja sama satu sama lain.

Pak Suyudi pun beberapa kali menyatakan bahwa pendidikan karakter itu kuncinya pembiasaan. Jadi kita harus mempraktikkannya sehari-hari, tak cukup hanya bicara materi di kelas. Nah, ketika hari sekolah itu bisa dinikmati layaknya hari libur, bukan kah itu sangat menyenangkan? Meskipun begitu, yang penting tetap tidak meninggalkan tujuan utama yaitu pembentukan karakter. Sekolah Alam Bengawan Solo adalah salah satu model pendidikan alternatif yang keberadaannya bisa menjadi semacam oase bagu masyarakat agar anaknya, apapun kondisinya, bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Pada akhirnya kita menyadari bahwa alam adalah guru terbaik untuk belajar tentang segala hal.

(Gambar Utama: sabs.sch.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here