“Truk aja punya gandengan, masa kamu enggak?”

“Sandal aja ada pasangannya, pasanganmu mana?”

 

Pernah mendengar lelucon seperti di atas? Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan lelucon orang Indonesia yang ditujukan bagi kaum jomblo itu. Terlepas dari jenis humor seperti itu lucu atau tidak, tentu akan berbeda respon bagi masing-masing orang. Sebagian orang bisa menganggap santai, tapi ada juga yang sensitif dengan cara bercanda seperti itu.

Kepada orang yang ‘sudah cukup umur’ tapi belum menikah, anggapan sebagian masyarakat kita memang beragam. Kalau kamu yang membaca tulisan ini masuk golongan itu, santai saja, kali ini Ublik akan kasih tahu sesuatu yang mungkin penting dan menyenangkan buatmu.

Inilah Definisi Jomblo yang Sebenarnya

Tanpa perlu dijelaskan pun, kita pasti sudah paham kalau jomblo itu mengacu pada orang yang belum punya pasangan. Entah itu soal nasib atau prinsip, entah itu merana atau bahagia. Yang pasti, asal kita tahu, kata ‘jomblo’ ternyata tidak ditemukan di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Bukan, bukan karena keberadaannya tidak diakui negara, tapi karena memang sebenarnya istilah ‘jomblo’ berasal dari kata ‘jomlo’ yang berasal dari bahasa Sunda yang dibakukan ke dalam KBBI dan artinya adalah gadis tua. Kata ini digunakan untuk menyebut perempuan yang sudah berumur tapi belum memiliki pasangan. Lalu mengapa jomlo bisa menjadi jomblo? Ini hanyalah soal cara pelafalan. Jomblo lebih mudah dilafalkan daripada jomlo. Seiring berjalannya waktu, istilah jomblo tidak hanya ditujukan ke perempuan saja, tapi juga laki-laki yang belum berpasangan.

Pilihan Editor:

 

Kabar Bahagia bagi Jomblo Indonesia

Ternyata, jomblo tidak selalu mengenaskan. Ini buktinya. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Agustus 2017, Indeks Kebahagiaan (index of happiness) masyarakat Indonesia Tahun 2017 meningkat ke nilai 70,69 pada skala 0 – 100. Indeks Kebahagiaan atau yang dikenal juga dengan Index of Happiness adalah salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat berdasarkan tingkat kebahagiaan masyarakat  Yang unik adalah indeks kebahagiaan bagi masyarakat lajang memiliki nilai 71,53. Angka ini sepertinya menjadi kabar bahagia bagi kaum jomblo di Indonesia, bahwa ternyata mereka tidak ngenes-ngenes amat, seperti asumsi banyak orang.

Lalu siapakah orang yang kurang bahagia menurut data statistik? Menurut pernyataan dari kepala BPS, Dr. Suhariyanto, yang paling menderita adalah pasangan menikah yang cerai hidup, lebih rendah dibandingkan dengan yang cerai mati. Nilai dari indeks kebahagiaan mereka yang cerai hidup adalah 67,83, indeks kepuasan hidup personal 62,81, sedangkan indeks kepuasan hidup sosialnya 73,46.

indeks kebahagiaan indonesia berdasarkan status perkawinan

Selain BPS, ada juga pernyataan dari pihak pengelola situs perjodohan, setipe.com. Head of Research and Matchmaking setipe.com menyatakan bahwa ada peningkatan jumlah single setiap tahunnya. Alasan yang sering diungkapkan umumnya adalah tentang kriteria orang dalam mencari pasangan. Ada orang yang terlalu banyak kriteria, tapi ada banyak juga yang belum tahu sebenarnya orang seperti apa yang mereka inginkan menjadi pasangan. Nah, bagaimana denganmu? Kalau memang sampai hari ini masih memilih sendiri, pastikan kamu memiliki alasan yang masuk akal ya.

Yang Penting Bahagia

indeks kebahagiaan Indonesia
(Sumber: hazeautumnwillow.wordpress.com )

Konon, jomblo itu hanya soal pilihan dan bagaimana cara menyikapi fase itu. Nah, kamu pilih mana: jomblo elegan alias melajang karena alasan kemapanan, jomblo karena nasib ditikung teman, atau jomblo bahagia walau melihat dia bersamanya? Oh, maaf bercanda. Jadi bagaimana menurutmu?

Di luar itu semua, angka tetaplah angka. Selebihnya, yang penting kita bahagia. Mau jomblo sampai umur berapa, itu kembali lagi ke individu. Tak jadi soal kalau masih bisa bahagia tanpa pasangan, mengapa harus memaksakan hidup dalam ikatan? Jomblo hanyalah suatu fase peralihan dan sebuah cara pandang. Semua tergantung bagaimana meresponnya. Toh hidup bukan hanya tentang si dia saja kan? Yang penting jangan serius-serius meratapi status. Oh ya, atau mungkin kamu hanya perlu bernyanyi dulu: “..kuat dilakoni yen ra kuat ditinggal ngopi…

(Gambar Utama: aconsciousrethink.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here