Riwayat para tokoh pendiri bangsa adalah kisah heroik sekaligus sentimentil antara cinta, perjuangan, dan buku. Ketiga hal ini acap ditemukan dalam memoar yang mereka tulis sendiri. Pergulatan batin dan pikiran seolah-olah tak pernah mandek. Bagi mereka, menulis adalah pilihan tepat untuk mengabadikan gagasan.

Dorongan intelektual untuk mempertanyakan kesenjangan antara realitas dan harapan kerap muncul dalam buah pena para pendiri republik. Hatta, misalnya. Ia penulis tekun sejak Indonesia berumur jagung.

Pilihan Editor :

Catatan harian Hatta semenjak bersekolah di Handels Hogeschool—kelak sekolah ini bernama Economische Hogeschool dan kini menjadi Universitas Erasmus Rotterdam—tak ubahnya seperti informasi otentik perjalanan hidup Hatta.

Gambar : Erasmus University Rotterdam (Sumber: nvo.or.id)

Tiap jengkal aktivitas Hatta yang monumental ia tulis langsung tanpa menunda esok atau lusa. Perjalanannya di Eropa hingga tugasnya menjadi wakil presiden tak luput ia tulis. Tulisan Hatta tetap abadi sebagai bentuk pelajaran penting bagi generasi setelahnya.

Tulisannya mengalir seperti sedang menuturkan kisah ciamik kepada anak cucu sebagai pengantar tidur. Di situ Hatta hidup dan hadir hingga sekarang; bukan menjelma secara fisik, melainkan bersemayam lewat kata-kata.

Di antara bapak bangsa lain, Hatta terkenal miskin humor. Soekarno, koleganya, bahkan pernah mengatakan kalau Hatta jomblo hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dipidatokan.

Apakah itu karena komitmen privatnya sendiri atau terlalu sibuk bersama bejibun buku? Tak ada yang tahu. Kondisinya demikian itu pernah disinggung kerabatnya: istri pertama Hatta itu bukan manusia, melainkan buku!

Kekosongan cinta Hatta, pada akhirnya, mengundang Soekarno untuk mencarikannya jodoh. Pesta pora kemerdekaan 45 menjadi titik asmaranya. Hatta pun kemudian menjatuhkan hati pada Rahmi Rachim. Mereka melangsungkan pernikahan tiga bulan setelah 17 Agustus 1945 di Megamendung, Bogor.

Diasingkan Bersama Buku

Gambar : Bung Hatta bersama Buku (Sumber: Intisari Online)

Pada masa revolusi fisik, Hatta dianggap berbahaya bagi konstelasi politik Hindia-Belanda. Pemikirannya sering mengundang ketar-ketir kolonial. Akhirnya, agar ia tak mendepak kepentingan penjajahan di nusantara, Hatta dibuang di Digul, Papua. Sebelum pergi Hatta mempunyai permintaan, yakni izin membawa puluhan peti berisi buku. Potret Hatta dan buku di kemudian hari membentuk asumsi publik lewat kutipan yang terkenal: “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Pernyataan Hatta itu menegaskan betapa dirinya melek literasi.

Bagi Hatta, membaca dan menulis ialah dua hal yang saling melengkapi. Hatta, karenanya, mengamalkan kunci ciamik menjadi penulis handal. Ia percaya bahwa jodohnya menulis itu membaca. Jadi, bila ada penulis yang tak pernah membaca berarti ia dusta.

Di Digul, Hatta menyelenggarakan proses pendidikan secara cuma-cuma bagi para tahanan lain. Ekonomi, filsafat, dan bahasa ia ajarkan bersama Sjahrir. Sebagaimana Hatta, Sjahrir juga pembaca dan penulis yang maniak. Keduanya sama-sama aktivis pergerakan di masanya yang mendapatkan pendidikan Barat. Kendati Hatta dan Sjahrir diasingkan di sebuah daerah terpencil di Timur Papua, kerja intelektual mereka tak pernah ciut. Raga bisa jauh, tapi pemikiran mereka terus mengalir ke media massa, baik lokal, nasional, maupun internasional. Dua sosok inilah yang membuat gerah kolonial Belanda.

Hatta dan Sjahrir adalah kisah fantastis yang menuai decak kagum generasi muda. Namun, di balik itu, keduanya pernah konflik karena persoalan remeh. Syahdan, manakala Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira, Maluku, keduanya mendapatkan tempat layak di sebuah rumah Belanda yang cukup luas ditempati berdua.

Mereka, selain membaca dan menulis, juga melakukan pengabdian kepada masyarakat. Sosoknya dikagumi di mata penduduk sekitar. Tak heran bila kontrakannya acap didatangi masyarakat, termasuk anak-anak. Atas kebaikan Sjahrir, ia kemudian mengangkat anak asuh. Di antara anak asuh itu adalah Des Alwi yang kelak menjadi tokoh penting dalam pergerakan Indonesia.

Saking sayangnya Sjahrir dengan anak asuhnya, mereka sering membuat gaduh di rumah. Kegaduhan itu membuat Hatta terganggu. Saat fokus membaca, Hatta terusik karena polah para bocah yang sesekali lompat dan lari di dalam rumah. Tanpa sengaja, vas bunga di atas meja, tersenggol dan jatuh.

Yang membuat Hatta tambah naik pitam adalah anak-anak asuh Sjahrir melipat salah satu halaman di buku Hatta. Ia pun memarahi mereka. Walaupun ini terkesan sepele, namun, bagi Hatta, hal itu membuat hatinya teriris-iris. Kisah-kisah unik ini sering tak terungkap oleh perbincangan sejarah Indonesia di sekolah.

Kemunduran atau Kemajuan?

Hatta, Sjahrir, dan pelbagai tokoh silam lain dihadirkan bukan sebagai glorifikasi atau pemujaan terhadap masa lampau. Mereka hidup di suatu masa tatkala Indonesia masih muda, tetapi semangat dan kerja intelektualnya melampaui zaman. Bagaimana dengan generasi milenial zaman sekarang?

Bila dilihat dari kecakapan literasi, generasi milenial kalah telak. Bandingkan daftar bacaan Hatta, Sjahrir, Soekarno, Tan Malaka, Agus Salim, dan generasi abad ke-20. Di usia muda mereka telah merampungkan buku-buku berat berbahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, dan Latin). Kemampuan oral mereka juga mumpuni!

Pada masa itu, tulisan dan pidato adalah alat propaganda yang tajam. Latar sosial demikian bisa dilihat dari banyak sisi. Salah satunya adalah sistem dan kualitas pendidikan Belanda mendukung individu mampu menjadi pribadi yang cendekia. Hal ini dikarenakan kualitas pendidikan pada saat itu menginduk di bawah standar Eropa.

Taufik Ismail, sastrawan 66 itu, pernah meneliti secara kontrastif atmosfer pembelajaran di masa kolonial dengan masa 90-an. Ternyata sangat kontras perbedaannya. Tantangan dan luaran pendidikan di masa pendudukan Belanda lebih unggul. Taufik melihat dari sisi kualitas dan kuantitas buku dan karangan yang dihasilkan.

Barangkali uraian di atas bukan sebuah klise yang patut diratapi. Ketertinggalan generasi milenial tampaknya perlu dikejar agar kualitas manusia pada masa Hatta dapat ditenun kembali melalui semangat kekinian.

 

(Sumber gambar utama: fairuzelsaid.wordpress.com)