Generasi Y atau generasi milenial adalah orang-orang yang lahir di antara tahun 1980 dan 2000. Dibanding dengan para pendahulunya, generasi X, kaum milenial memiliki perbedaan yang mencolok dalam beberapa hal. Sebut saja terkait gaya bekerja. Banyak meme dan karikatur yang menyebut mereka sebagai si santai karena gaya bekerja mereka yang tidak lagi patuh pada aturan tertentu. Cara-cara yang mereka terapkan dalam bekerja memunculkan kesan santai pada pekerjaan mereka. Padahal paradigma tersebut bisa jadi berlawanan dengan kenyataannya. Generasi milenial tak lain adalah ‘pencandu kerja’ yang berorientasi pada hasil dan pencapaian (achievement) yang tinggi. Menghabiskan 6-13 jam di balik meja kerja setiap harinya, membuat mereka mengaku tidak memiliki waktu untuk mewujudkan gaya hidup sehat karena terlalu sibuk bekerja.

Milenial Rentan Gangguan Kesehatan Jiwa?

Seperti dikatakan oleh dr Andri SpKJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera yang dilansir detikHealth, tahun 2008 sampai 2010 itu pasien yang datang adalah para profesional yang sudah level manajerial. Kebanyakan dari mereka depresi karena soal pekerjaan dan masalah rumah tangga. Namun, 3 tahun belakangan ini banyak pasien yang lebih muda, berkisar usia 17 sampai 25 tahun. Mereka tak lain adalah generasi milenial yang memiliki tekanan yang sama seperti generasi di atasnya.

Pilihan Editor:

 

Tuntutan perusahaan yang terus meningkat, perkembangan arus informasi yang sedemikian cepat, kondisi perekonomian, bahkan faktor asupan makanan adalah beberapa faktor yang berpengaruh pada kesehatan mental para millenial. Kebanyakan pasien milenial ini mengeluhkan kesulitan membina hubungan interpersonal. Secara bersamaan, mereka cenderung self centered dan ingin selalu menjadi pusat perhatian. Kondisi ini juga dipicu oleh perkembangan media sosial, khususnya Instagram.

Gangguang kesehatan jiwa generasi milenial ini juga pernah menjadi bahan riset ilmiah peneliti dari Inggris, Thomas Curran dan Andrew Hill. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Psychological Bulletin itu seperti menemukan titik terang atas penyebab mengapa milenial rentan gangguan kesehatan jiwa. Seperti yang dikutip dari The Guardian, untuk melakukan penelitian tersebut, Curran dan Hill merekrut 41.641 mahasiswa di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Masing-masing mahasiswa harus menyelesaikan menjalani tes dalam bentuk metrik yang dikenal sebagai Multidimensional Perfectionism Scale atau Skala Perfeksionisme Multidimensional. Tes ini dilakukan untuk menganalisis perfeksionisme pada masing-masing individu generasi milenial itu.

generasi milenial Indonesia
Anak Muda Indonesia (Via: Cirebonradio.com)

Studi ini melihat bagaimana sikap perfeksionis telah berubah selama beberapa dekade, dimulai pada tahun 1980an. Yang pertama adalah perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri, yang merupakan kebutuhan irasional bagi diri sendiri untuk mencapai tujuan yang terlalu ambisius. Yang kedua adalah kesempurnaan atau tekanan yang ditentukan secara sosial dari orang lain untuk mencapai standar yang paling tinggi. Kemudian, yang ketiga adalah kesempurnaan perfeksionis, atau memiliki harapan yang tidak realistis dari orang lain. Hasilnya, mereka menemukan sebagian besar responden mengalami ‘multidimensional perfectionism’, atau sebuah tekanan untuk mendapatkan standar yang lebih tinggi.

Ketika Media Sosial Menentukan Status Sosial

Selain faktor tekanan kerja, tekanan pada generasi milenial juga dipicu oleh media sosial. Tentu saja bukan media sosialnya yang salah, tapi bagaimana caranya menggunakan media sosial yang kadang tidak tepat. Pernahkah kamu merasa iri dengan pencapaian teman-temanmu yang terlihat melalui akun media sosialnya? Ada saat di mana unggahan foto atau video mereka membuatmu merasa tertinggal beberapa langkah. Mengapa bisa begitu? Tentu saja karena membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan yang mereka perlihatkan di media sosial. Banyak yang tidak tahu seperti apa kenyataannya, mereka cenderung cepat ‘menghakimi’ orang lain.

Generasi MIlenial Indonesia dan sosial media
Ilustrasi generasi milenial dan sosial media (Via: cowok.co)

Melihat gaya hidup teman-temannya, mengamati mereka telah mencapai satu persaru tujuan hidupnya yang patut dibanggakan, belum lagi soal ‘relationship goals’ ala generasi Y, tidak jarang kalau yang seperti ini bisa meningkatkan perasaan tidak aman (insecure) dan merasa rendah diri atau inferior. Apa yang terjadi kemudian? Kita dengan mudah menemukan orang-orang yang menjadikan jumlah pengikut (followers) di media sosialnya sebagai ukuran status sosial. Apresiasi dari netizen dalam bentuk likes dan komen bahkan dirasa lebih berfaedah daripada apresiasi orang-orang di dunia nyata. Apakah ini salah? Nah, satu hal yang kita perhatikan, kita juga tidak bisa langsung melabeli salah atau benar pada generasi milenial yang tak terpisahkan dari media sosial. Hanya saja, seperti yang dikatakan oleh penelitian dari Internet Addiction Disorder (IAD) bahwa teknologi dan internet sama bahayanya dengan adiksi obat-obatan terlarang.

Apa yang Harus Dilakukan Sebagai Generasi Milenial?

Setiap generasi memiliki karakternya sendiri. Yang pasti, khusus untuk menjaga kesehatan mental, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, atau lebih tepatnya dibiasakan.

Yang pertama adalah mengatur pola kegiatan fisik. Mengatur kegiatan fisik ini ternyata juga berpengaruh untuk kesehatan mental. Seperti yang kita tahu, masalah kesehatan mental yang sering dialami milenial itu disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pola hidup. Coba perhatikan pola hidup teman-teman yang bekerja, khususnya di kota besar. Hampir seluruh waktu dalam sehari mereka habiskan di depan layar komputer. Sangat jarang meluangkan waktu untuk berolahraga di tengah jadwal pekerjaan yang padat. Padahal yang seperti ini tidak sehat. Paling tidak, harus ada satu kesempatan untuk bisa beraktivitas secara fisik. Tidak harus olah raga khusus ke tempat fitness, minimal bia berjalan kaki di luar ruangan.

Yang kedua adalah bersosialisasi secara langsung dan bukan di media sosial. Aktivitas bersosialisasi ala generasi milenial seringkali identik dengan media sosial. Pertemuan fisik dianggap bisa digantikan dengan interaksi melalui layar gadget. Bukan sesuatu yang baru lagi jika milenial mengartikan interaksi di media sosial atau melalui beragam aplikasi media sosial lebih efektif dibanding sosialisasi dalam pandangan lama. Banyak yang merasa sudah berhasil bersosialisasi, padahal bisa jadi mereka justru sedang ada dalam ‘pengasingan’ akibat sibuk dengan layar gawai dan mengabaikan kondisi sekitarnya. Jadi, buat kamu yang merasa termasuk dalam generasi milenial, pastikan untuk bijak menggunakan media sosial menjadi wadah dan media yang tepat untuk bertumbuh dan berkembang tanpa melupakan aktivitas sosial yang sebenarnya.

Yang ketiga adalah memahami kembali definisi kesuksesan. Masalah kesehatan mental generasi milenial ini bisa menyerang siapa saja. Khusus dalam konteks pekerjaan, risiko ini bisa dihadapi oleh mereka yang sudah dalam level manajer ataupun yang baru saja memulai karir. Jadi, kamu perlu memahami betul kondisi diri sendiri, selalu memperbaiki pola hidup, dan memahami kembali definisi sukses. Apa artinya bekerja keras, mengejar pencapaian-pencapaian, dan eksis di media sosial jika taruhannya adalah kesehatan diri yang notabene investasi penting untuk masa depan?

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here