Pelbagai fasilitas berkarya, khususnya menulis, tersedia total di depan mata. Namun, kebiasaan kita tak pernah berubah, yakni malas mencatat pengalaman sehari-hari. Sungguh ironi bila tiap jam kita menggenggam telepon pintar tapi untuk menuangkan gagasan saja bukan main beratnya. Padahal, peluang menulis terbuka selebar-lebarnya: buka aplikasi, fokus, dan menulis.

Kita hidup di zaman paradoks. Teknologi modern menguasai manusia tanpa ampun. Sebagian dari kita, terutama anak muda, terkena efek adiksi dari teknologi canggih. Mempunyai gawai pintar tapi tak dimaksimalkan untuk aktivitas intelektual. Bahkan, ia bisa menjadikan kita budak yang terpenjara di ruang dan waktu.

Pilihan Editor:

Jangan-jangan generasi milenial hari ini justru mengalami kemandekan berpikir dan berdialektika di atas teks sebagaimana para pendiri bangsa tujuh dekade lampau. Anak muda zaman sekarang bisa dikatakan kalah jauh dari pemuda Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan bapak bangsa lain dalam meneroka ilmu pengetahuan melalui buku-buku berkualitas.

Bagaimana perbandingan kualitas anak muda di abad digital dengan generasi muda zaman revolusi fisik 45? Bukan bermaksud sentimentil, melainkan sebuah usaha reflektif: apa sebetulnya kita mengalami kemunduran atau kemajuan? Simak saja betapa gigihnya Hatta dan Sjahrir tatkala menulis manual dan memakai mesin tik. Itupun ditambah suasana mencekam karena iklim politik di Indonesia masih genting.

Tradisi literasi era 1945
Bung Hatta dan mesin tik (Sumber: www.micpublishing.co.id)

Ketimbang masa Soekarno, masa sekarang relatif dimanjakan oleh fasilitas. Dewasa ini anak-anak muda tidak mengenal susahnya menuangkan ide di atas mesin tik karena setiap kesalahan—sehuruf pun—tak bisa dihapus kecuali ditutupi dengan type-x. Sementara sekarang? Dorongan salin-tempel sedemikian kuat, meski ini merupakan jalur plagiasi.

Demikian pula kualitas isi tulisan. Pada zaman Soekarno, tulisan-tulisan yang dipublikasikan di media massa terlihat analitis dan sistematis. Sedangkan kualitas buah pena angkatan muda sekarang cenderung dangkal. Meskipun begitu, tak semua anak muda dikategorikan demikian. Penyebab tulisan buruk antara lain dipengaruhi oleh konstruksi berpikirnya sendiri.

Barangkali keadaan di atas diakibatkan oleh rendahnya asupan bacaan. Pertama, di era 1900-an, setiap orang yang tak ingin ketinggalan informasi mesti membaca buku secara tuntas. Buku-buku berbahasa Indonesia pun juga belum terlalu banyak. Buku-buku berbahasa asing, dengan demikian, adalah pilihan satu-satunya untuk menyemai kehausan ilmu.

buku dalam tradisi literasi
books pages story (Sumber: pixabay.com)

Totalitas meneroka pengetahuan lewat keterampilan reseptif (membaca) itu dibarengi dengan kontemplasi melalui tulisan reflektif. Karenanya, mereka tak sekadar membaca, tapi juga mengkritisi bacaan dengan menuliskan gagasan tandingan. Dialektika semacam itu terlihat jelas di media massa era perjuangan fisik. Polemik kebudayaan adalah bukti otentiknya.

Kedua, di era milenial, aktivitas ekspresif hanya dilakukan secara pasif, umumnya dengan membaca status atau tulisan pengguna media sosial lain, baik di Facebook, Twitter, maupun Instagram. Alih-alih mereka membaca buku secara utuh, generasi muda hari ini lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar telepon pintar berjam-jam hanya memantau orang lain.

Permasalahan generasi milenial, karenanya, perlu ditinjau kembali untuk dicari kemungkinan solusi alternatifnya. Pertama, meluangkan waktu untuk membaca sebuah buku sampai tuntas. Buku ini bisa fiksi maupun nonfiksi. Yang jelas, pembaca menikmati buku tersebut karena aktivitas demikian bukan sekadar tuntutan, melainkan kebutuhan batin.

Menargetkan satu bulan satu buku lebih baik ketimbang hanya melamun di media sosial. Tindakan ini niscaya membutuhkan komitmen penuh. Misalnya, sisakan satu atau tiga jam perhari untuk membaca. Kedua, usai membaca sebaiknya menulis resensi atau komentar mengenai isinya. Tindakan ini dilakukan agar pengetahuan yang diserap dalam bacaan terus mengendap permanen di otak. Bukankah menulis adalah aktivitas memahami?

Tradisi literasi dengan menulis
Aktifitas Menulis (Sumber: pixabay.com)

Dua hal rekomendasi tersebut lambat laun akan menjadi tradisi bagi diri sendiri. Budaya literasi semacam itu perlu dibina agar kualitas berpikir generasi milenial tidak kalah dengan para pendahulu yang kerap dikisahkan secara heroik di buku-buku sejarah.

Gerakan satu bulan satu buku ini sekaligus menegaskan kepada publik internasional bahwa anak muda Indonesia tidak kalah jauh kualitas literasinya ketimbang negara-negara lain yang menempati rangking nomor wahid versi PISA, IEA, PIRLS, dan TIMSS. Dengan demikian, Indonesia Emas dan dampak positif bonus demografi beberapa tahun mendatang salah satunya dapat disiapkan melalui tradisi literasi.

Editor: Restia Ningrum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here