in ,

Membongkar Sisi Duka sebagai Pelaku Pekerjaan Freelance di Indonesia

Menurut beragam riset mutakhir, generasi milenial identik mengubah cara pandangnya dalam dunia kerja. Mereka cenderung ingin lebih merdeka secara waktu dan tidak terikat pada satu perusahaan saja. Inilah yang kemudian menjadi tren di kalangan anak muda masa kini. Tren profesi tersebut sering disebut dengan istilah pekerjaan freelance alias bebas waktu. Rupiah demi rupiah bisa mereka kantongi tanpa perlu berangkat pagi buta dan pulang saat gulita setiap harinya. Mereka tetap berpenghasilan tanpa perlu berdandan perlente layaknya eksekutif muda yang dominan direpresentasikan dalam berbagai ruang media. Hal ini semakin didukung dengan kemajuan teknologi yang memudahkan siapa saja bisa bekerja dimana saja.

Menelisik suka duka menjadi pekerja freelance (Sumber: rgbrec.com)

Pilihan Editor;

Mulanya, pekerjaan freelance ini dipilih oleh kalangan mahasiswa yang ingin mendapat tambahan uang saku selama kuliah. Begitu pula bagi tenaga kerja kelas menengah yang merasa butuh tambahan pemasukan, maka pekerjaan sebagai tenaga lepas ini bisa menjadi alternatif yang menguntungkan. Bahkan di beberapa proyek pekerjaan, profesi freelancer ini terkadang bisa memberi penghasilan yang lebih besar daripada menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan atau institusi. Sehingga tidak sedikit yang membanting stir untuk memilih resign dari pekerjaan tetapnya dan memutuskan untuk full time bekerja sebagai freelancer, dan pada kenyataannya ini sudah terjadi di Amerika Serikat.

Hasil gambar untuk pekerja freelance
Employee vs Freelancer (Sumber: www.oneyesoneno.com)

Fenomena kelompok ini mau tidak mau seolah menciptakan penilaian baru bahwasanya dengan melakoni pekerjaan freelance bisa menjadi ekspresi kemerdekaan kelas pekerja hari ini.

Eh tapi tunggu dulu…

Sejauh apa sih para pelaku pekerjaan freelance ini benar-benar sudah merdeka dalam bekerja? Apa betul mereka sudah bisa terbebas dari belenggu jam kerja layaknya buruh dan sejahtera secara penghasilan? Dan apakah mereka secara identitas sudah mendapat tempat di kalangan masyarakat?

Mari kita ulas satu per satu.

Saat kita menduga bahwa pekerjaan freelance sebenarnya merdeka secara waktu, kita tidak boleh buru-buru. Sekilas mereka memang tidak perlu berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam serta berdandan rapi setiap harinya. Tetapi sebenarnya para pelaku pekerja bebas waktu ini seringkali juga harus merelakan jam-jam istirahatnya dan waktu luang mereka bersama orang-orang tersayang karena tuntutan pekerjaan. Mereka bisa saja sedikit bungah ketika tidak diwajibkan bangun pagi setiap hari, tetapi mereka juga tidak bisa banyak bicara jika proyek freelance mengharuskan mereka bekerja di tanggal merah sekalipun. Bahkan seorang kawan dekat yang berprofesi sebagai freelance graphic designer mengeluh kepada saya ketika ia harus meladeni tuntutan klien yang macam-macam dan mengharuskannya mengirim revisi di tengah malam. Setelah saya konfirmasi ke beberapa orang yang berprofesi serupa, ternyata hal tersebut memang sudah biasa terjadi di kalangan mereka.

Hasil gambar untuk pekerja freelance
Kamu termasuk yang mana? (Sumber: pulsk.com)

Jadi, masih yakin kalau para freelancer ini benar-benar sudah memiliki freedom of time? Lalu, kalau kita bicara pendapatan, kita memang tidak memungkiri bahwa sekali kita mendapat proyek dan menjadi tenaga lepas, hasilnya bisa lebih banyak dari pegawai tetap. Saya pun mengalaminya sendiri. Suatu waktu, saya menjalani kontrak selama delapan hari untuk menjadi penerima tamu internasional di bandara yang mana tamu-tamu tersebut akan hadir pada sebuah konferensi kenegaraan. Selama delapan hari tersebut, nominal yang saya terima secara ‘bersih’ bisa setara dengan dua kali gaji saya saat menjadi tenaga pengajar di sebuah institusi pendidikan swasta. Kalau setiap bulan secara rutin saya bisa mendapatkan dua kali saja proyek semacam itu, siapa juga yang masih mau bertahan bekerja jadi pegawai tetap?

Nah sayangnya, tidak semua perusahaan yang meng-hire tenaga lepas bisa benar-benar profesional dalam memberi upah seperti yang saya jalani saat itu. Tidak sedikit pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dalam mempekerjakan freelancer dengan cara menjadikan mereka buruh tanpa ikatan. Proyek sudah lama selesai, honor tak kunjung turun. Kalau sudah turun ternyata masih dipangkas pajak. Padahal selama mereka bekerja, mereka sudah mengeluarkan tenaga, pikiran, bahkan biaya untuk sekedar logistik dan akomodasi untuk kelancaran proyek tersebut. Atau contoh kasus lain ketika pekerjaan freelance ini erat kaitannya dengan internet dan tekhnologi. Banyak pihak yang memegang kendali atas pekerjaan dengan semena-mena menjadikan pekerjanya sebagai digital labor.

Belum lagi, hak kepemilikan aset untuk tenaga lepas ini ternyata masih sulit didapatkan. Banyak tenaga lepas yang berpenghasilan dari ladang freelance, walaupun duitnya banyak, tetapi mereka harus berjuang keras untuk mengajukan kredit rumah, mobil, bahkan motor sekalipun. Belum lagi jika mereka membutuhkan dana mendadak saat sakit atau terkena musibah, asuransi mana yang akan menanggung keperluan mereka? Maka wajar jika teman-teman sekalian menemukan orang-orang yang bekerja sebagai tenaga lepas hidupnya cenderung sederhana, sebab tidak semua dari mereka bisa bergaya hidup dengan asal gesek kartu kredit layaknya kelas menengah pada umumnya.

Implikasi lainnya, pekerja freelance ini masih belum mendapat tempat di hati masyarakat. Banyak orang yang menganggap pekerjaan ini sebagai “pekerjaan serabutan” alias belum berpenghasilan tetap. Akhirnya tidak sedikit orang tua yang memicingkan mata ketika tahu anaknya enggan menjadi pegawai kantoran karena memilih bekerja di rumah sebagai freelancer. Secara status sosial, pekerjaan ini tidak mentereng meski sebanyak apa pun rupiah yang berhasil dikantongi dan selelah apa pun dijalani.

Ini juga yang akan terjadi bilamana pihak yang menjalani pekerjaan freelance adalah laki-laki. Calon mertua mana yang rela melepas anak perempuannya untuk dipersuntik lelaki yang kerjanya serabutan??? Bayangkan ketika calon mertua berkata begini: “Kamu punya apa ngajak nikah anak saya?”

Kasihan ya… :’)

Jadi masih yakin pekerjaan freelance itu merupakan bentuk kemerdekaan dari kelas pekerja?

 

(Editor: Restia Ningrum)

(Sumber Gambar Utama: The Balance)

Mengenal Kebo-Keboan, Tradisi Unik dari Ujung Timur Pulau Jawa

5 Fakta Perikanan Indonesia di Mata Dunia