“Lenggang mengorak menarik hati serentak hey-hey siapa dia… Wajah sembunyi di balik payung fantasi hey-hey siapa dia…”

Beberapa teman-teman yang membaca ini mungkin saja tidak begitu familiar dengan potongan lirik lagu tersebut. Sekadar informasi, lagu tersebut berjudul ‘Payung Fantasi’. Liriknya diciptakan oleh Ismail Marzuki, yang merupakan seorang komponis, pejuang, dan sekaligus maestro musik legendaris Indonesia.

Pilihan Editor :

 

Bukan tanpa alasan kalau tiba-tiba saya ingin mengutip lagu itu. Ingatan saya pada lagu itu sebenarnya disebabkan oleh sebuah acara di mana ratusan payung warna warni sedang menghiasi salah satu sudut kota Solo. Ratusan kreasi payung itu tampak menggantung di langit-langit sebuah lorong di sepanjang pintu masuk Festival Payung Indonesia 2017.

Lagu ‘Payung Fantasi’ di atas menjadi salah satu lagu pengiring saat memasuki pembukaan Festival Payung Indonesia 2017 yang bertempat di Pura Mangkunegaran Pada tanggal 15 hingga 17 September 2017. Ada ratusan payung rajut karya dari berbagai kota di Indonesia seperti Lhokseumawe, Medan, Lampung, Semarang, Yogyakarta, Magelang, Madiun, Bali, dan kota lainnya.

Sejak hari pertama dibuka, festival unik ini sudah berhasil mendatangkan masyarakat, baik masyarakat setempat maupun luar kota Solo. Para pengunjung selain menikmati sejumlah penampilan, juga memanfaatkan lokasi yang penuh dengan hiasan berbagai jenis payung tersebut untuk berfoto. Menariknya, festival ini gratis alias tanpa dipungut biaya sepersen pun. Adapun tujuan festival ini adalah bertujuan untuk mengenalkan sejarah payung nusantara yang dianggap.

“Sepayung Indonesia”, Sebuah Ekspresi Persatuan Bangsa

festival payung Indonesia 2017
(Sumber: Ublik/Restia Ningrum)

Sekadar informasi bahwa di tahun-tahun sebelumnya, Festival Payung Indonesia diadakan di Taman Balekambang, salah satu taman wisata yang juga situs budaya dan bernilai sejarah di Kota Solo. Festival Payung Indonesia 2017 digelar di halaman Pura Mangkunegaran. Pura Mangkunegaran sendiri merupakan salah satu representasi arsitektur Jawa yang indah. Pura Mangkunegaran dibangun pada 1757 masehi, yang menunjukkan pengaruh kuat seni dekoratif interior Eropa sebagai monumen dinasti Mangkunegaran, mengikuti garis keturunan pendirinya yaitu Raden Mas Said atau juga dikenal dengan Pangeran Sambernyawa.

Dihiasi dengan desain menarik, Festival Payung tahun ini mengusung tema “Sepayung Indonesia” yang berarti merajut bersama rasa persatuan dan kebersatuan bangsa, menghargai perbedaan dalam beragaman, berteduh bersama di bawah Payung Indonesia. Festival unik yang mempertemukan para seniman kerajinan payung ini menyajikan segala hal yang mungkin ingin diketahui tentang beragam gaya payung tradisional di seluruh Indonesia.

Ikut Memajukan Industri Kerajinan Payung Tradisional

Festival Payung Indonesia 2017
Suasana Festival Payung Indonesia 2017 (Sumber: Ublik/Restia NIngrum)

Tahun 2017 ini menjadi tahun keempat diadakannya Festival Payung Indonesia. Festival tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta ini memiliki fokus kegiatan untuk melestarikan kesenian payung tradisional sebagai karya seni dan budaya Indonesia. Selain dimeriahkan oleh pameran lukis payung, pameran ratusan payung rajut, festival ini juga menampilkan fashion show kain lurik dan kain payung dari berbagai daerah. Yang pasti, festival ini mempertemukan para pelaku industri kreatif kreasi payung, pengiat seni karnaval, dan masyarakat umum untuk lebih melestarikan seni, khususnya seni kerajinan payung nusantara.

Sejarah pun telah mencatat bahwa daerah di sekitar Solo dahulu adalah sentra industri payung tradisional. Berbagai event budaya Kraton Surakarta selalu identik membawa payung tradisional. Selain melestarikan budaya, Festival Payung Indonesia juga membangkitkan geliat ekonomi lokal, menarik kunjungan wisata, juga mengangkat perekonomian masyarakat secara nasional.

(Gambar Utama: Ublik/Restia Ningrum)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here