in

Fakta Menarik Seputar Bondowoso Republik Kopi yang Mendunia

Kopi saat ini menjadi salah satu komoditas yang sangat populer di dunia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah produsen maupun konsumen kopi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kita semua tahu bahwa soal urusan kopi, Indonesia merupakan salah satu pemain utama yang bahkan masuk dalam daftar negara penghasil kopi terbesar di dunia bersama Brazil. Selain itu, Indonesia memiliki varietas atau jenis kopi yang sangat beragam dan tersebar hampir di setiap daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Sebut saja beberapa jenis yang populer diantaranya Aceh Gayo, Java Ijen, Flores Bajawa, Toraja, Papua Wamena, dan masih banyak lagi.

Kepopuleran kopi di seluruh dunia terutama di Indonesia tentu tak bisa lepas dari satu aktivitas yakni minum kopi atau biasa disebut ngopi. Aktivitas ngopi saat ini tak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan penghilang rasa kantuk atau penambah konsentrasi, namun sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Hal inilah yang membuat roda bisnis di sektor ini berputar sangat cepat baik itu di hulu yakni petani atau perkebunan kopi, hingga di hilir yakni roaster, kedai kopi, dan konsumen. Warung kopi atau kafe kini semakin banyak bermunculan, tak hanya di kota-kota besar saja, namun hampir seluruh kota di Indonesia.

Pilihan Editor;

Selain itu, kepopuleran kopi tak hanya menarik perhatian para pebisnis, namun juga pemerintah. Salah satunya adalah kabupaten Bondowoso yang kini bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Kopi. Hal ini berlaku sejak peresmian yang dilakukan oleh Bupati Amin Said Husni pada tanggal 22 Mei 2016 lalu. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya mengangkat nama kabupaten Bondowoso hingga ke kancah internasional. Lalu sebenarnya apa yang menarik dari Bondowoso Republik Kopi ? Simak ulasan berikut ini.

Program Kluster Kopi

Petik Kopi Arabika (Sumber : Memoindonesia.com)

Sesuai dengan fakta sejarah bahwa sejak awal abad ke-19, perkebunan kopi di Bondowoso adalah bagian dari perkebunan Besuki Raya sebagai penghasil kopi Arabika dan produknya dikenal luas hingga ke mancanegara dengan sebutan Java Coffe. Perkebunan seluas 4000 hektar lebih itu, terletak di kawasan lereng Gunung Ijen dan Gunung Raung, yakni Belawan, Kalisat, Jampit (ketiganya di Kecamatan Sempol) dan Pancur di Kecamatan Botolinggo. Semuanya masih tetap produktif dan dikelola dengan baik oleh PTPN XII hingga saat ini.

Melihat potensi tersebut, pemerintah daerah berinisiatif untuk terus mengembangkan ekonomi berbasis komoditas kopi melalui Program Pengembangan Kluster Kopi Rakyat. Dengan pembentukan kluster kopi di Bondowoso, sektor ekonomi lain akan dihubungkan dengan komoditas kopi. Melalui program inilah, kabupaten Bondowoso mantap untuk mendeklarasikan diri sebagai Republik Kopi.

Program ini diawali dengan studi potensi kawasan Bondowoso oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember pada tahun 2011. Pada awalnya, hanya terdapat sekitar lima kelompok tani dan 4.000 hektar lahan perkebunan kopi. Namun, saat ini sudah ada 43 kelompok tani dengan luas lahan perkebunan kopi mencapai 14.000 hektar. Hal ini berkat kerjasama dari berbagai pihak diantaranya pemerintah kabupaten Bondowoso, Asosiasi Petani Kopi sebagai perwakilan petani, Perhutani sebagai penyedia lahan, Puslitkoka sebagai pemberdaya petani, Bank Indonesia dan Bank Jatim sebagai pemberi pinjaman modal, dan juga tak luput dari peran pembeli.

Ada tiga tahap dalam program Kluster Kopi yang mana tiap tahap berlangsung selama lina tahun. Tahap pertama merupakan tahap inisiasi. Tahap kedua, program akan difokuskan untuk tahap penumbuhan. Sedangkan, tahap ketiga adalah program pemantapan. Secara umum, dari semua tahap tersebut, petani akan diberi pengetahuan seputar proses pemeliharaan tanaman kopi, proses pemanenan, dan perlakuan pasca panen kopi sehingga nantinya akan dihasilkan biji kopi yang berkualitas.

Produktivitas Petani Kopi Meningkat

Petani Kopi Lokal (Sumber : Nusantara.news)

Sejak program Kluster Kopi dijalankan, petani kopi di Bondowoso, terutama di lereng Gunung Ijen dan Gunung Raung, tidak lagi memetik biji kopi secara asal sehingga buah yang masih hijau atau kuning tidak ikut dipanen. Petani menjadi lebih selektif dalam memanen karena hanya buah berwarna merah yang dipetik. Proses pengolahan juga lebih rumit karena harus melewati beberapa tahapan, antara lain sortasi buah, perambangan, pengupasan kulit, sortasi biji, dan menjemur biji kopi.

Sejumlah petani mengakui, sebelum ada kluster kopi, rasa kopinya pahit dan berbau aspal. Namun, setelah ikut dalam kluster kopi, ia merasakan kopi produksinya lebih harum dan punya cita rasa manis (sweetness), pedas (spicy), rasa cokelat, dan karamel. Selain itu, dengan mengikuti standar pengolahan kluster, biji kopi (green bean) produksi petani dihargai minimal Rp 100.000 per kg. Harga itu lebih mahal daripada harga biji hasil petik asalan tanpa pengolahan khusus yang hanya dihargai Rp 40.000 per kg. Selain itu, produktivitas lahan perkebunan kopi pun meningkat dari tahun ke tahun. Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso mencatat, produksi kopi arabika Bondowoso tahun 2010 sekitar 1.500 ton biji kopi. Jumlah itu naik menjadi 3.000 ton pada tahun 2016 yang diantaranya diekspor sebanyak 800 ton dengan nilai mencapai Rp 48 miliar. Guna memperkokoh kedaulatan petani kopi di Republik Kopi, Pemkab Bondowoso menargetkan luasan kebun kopi rakyat mencapai 20.000 hektar pada tahun 2020. Salah satu caranya ialah membuka daerah baru sebagai sentra kopi.

 

(Sumber Gambar Utama : Kompas.com)

(Editor: Restia Ningrum)

Comments

Leave a Reply
  1. Salute kepada Bondowoso yang tahu betul cara memberdayakan kekayaan alamnya! Semoga daerah lain bisa mencontoh keberhasilan Republik Kopi Bondowoso.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Festival Pariwisata Papua

Yuk Siapkan Cutimu untuk Nikmati 5 Festival Pariwisata Papua Terbaik 2018 Ini

Cari Tempat Makan Untuk Imlek? Inilah 5 Resto Chinese Food di Jakarta