Ublik – Festival Keraton Nusatara. Dahulu kita tahu jika daerah Indonesia terbagi kedalam sebuah kerajan-kerajaan. Bahkan, beberapa diantaranya sempat menguasai dataran Asia. Majapahit dan Sriwijaya misalnya. Kedua kerajaan itu adalah kerajaan besar yang pernah berdiri di Indonesia. Sebuah penanda jika dahulu, dataran Indonesia adalah dataran kedigdayaan. Ranah dimana kerajaan paling berkuasa bermukim. Sampai akhirnya, satu demi satu kerajaan runtuh. Meski demikian dari reruntuhan tersebut. Dibangun pula kerajaan-kerajaan baru dengan corak yang berbeda. Meski sayap kerajaan-kerajaan itu tak selebar kerajaan pendahulunya. Tapi, justru kerajaan ini awet dan masih dapat kita lihat istananya dan kita temui raja-rajanya. Salah satu bentuk kerajaan yang hingga kini masih eksis adalah keraton. Di Indonesia hingga saat ini, ada puluhan bahkan mungkin ratusan keraton yang masih ada dan lestari hingga sekarang. Senantiasa mengedepankan nilai-nilai luhur. Sebuah nilai yang patut untuk terus dirawat dan dilestarikan.

Kita tentu mengenal Solo dan Jogja sebagai dua kota yang terkenal dengan keratonnya. Apalagi Jogja, daerah ini bahkan di istimewakan. Diperbolehkan dipimpin oleh seorang raja yang jabatannya setingkat gubernur. Raja tersebut hanya boleh digantikan oleh anak-anaknya. Tapi, meski memiliki keistimewaan. Bukan Jogja yang kemudian memiliki julukan sebagai Kota Keraton. Lalu, siapa yang punya julukan tersebut? Jawabannya adalah Cirebon.

Satu Kota, 4 Keraton

Keraton Kasepuhan tempat diadakannya festival keraton nusatara
Gambar: Keraton Kasepuhan (Sumber: Wikipedia)

 

Ya, memang Cirebon bukanlah sebuah daerah istimewa. Akan tetapi, ada satu alasan mengapa kota ini memiliki julukan sebagai Kota Keraton. Hal tersebut dikarenakan. Dalam tertitori kota ini yang luasnya tak genap 38 KM. Kita dapat menjumpai empat keraton sekaligus! Ya keempatnya masih eksis dan berdiri hingga sekarang. Keraton-keraton itupun masih dipimpin oleh sultan yang kemudian menjadi tokoh masyarakat yang cukup disegani.

Keempat keraton yang dimaksud itu adalah Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan. Meski para sultan tak memiliki kuasa untuk menjadi pimpinan tertinggi di Kota Udang itu, keberadaan mereka tetap diperlukan sebagai orang yang dianggap dapat memberi solusi.

Sejarah Keraton Cirebon

Keraton Kanoman lokasi festival keraton nusantara
Gambar: Keraton Kanoman (Sumber: Demosmagz.com)

Tentu, ada sejarah panjang yang melatarbelakangi mengapa di Cirebon terdapat empat keraton sekaligus. Sebagaimana yang diketahui banyak kalangan. Jika keraton pertama dan terbesar di Cirebon adalah Keraton Kasepuhan. Memang, keraton inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya pemerintahan Cirebon. Keraton tersebut didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau yang juga dikenal sebagai Raden Walangsungsang. Ia adalah anak dari Prabu Siliwangi pimpinan terbesar Kerajaan Padjajaran.

Sebetulnya Pangeran Cakrabuana ini adalah anak sulung dari Prabu Siliwangi, karena itu dia berhak untuk menggantikan ayahnya menjadi pimpinan Kerajaan Padjajaran. Tapi, Pangeran Cakrabuana ini memeluk agama Islam, hal ini kemudian membuat ia tak direkomendasikan sebab memang Kerajaan Padjajaran adalah kerajaan bercorak Sunda Wiwitan (kepercayaan orang sunda zaman tersebut). Karena itulah Pangeran Cakrabuana pergi meninggalkan Padjajaran dan bermukim di pesisir utara pulau Jawa, agak jauh dari Keraton Padjajaran. Disana ia mulai membangun kerajaannya sendiri yang dikemudian hari dikenal dengan nama Keraton Pakungwati. Baru beberapa tahun kemudian keraton ini disebut dengan nama Keraton Kasepuhan, dikarenakan adanya pembagian wilayah kekuasaan untuk penerus-penerus raja.

Keraton Kacirebonan lokasi acara festival keraton nusantara
Gambar: Keraton Kacirebonan (Sumber: keraton.perpusnas.go.id)

Jadi saat itu Pangeran Raja Martawijaya didaulat memimpin Keraton Kasepuhan yang wilayahnya adalah wilayah Keraton Pakungwati. Sementara Pangeran Raja Kartawijaya di amanahkan untuk memimpin Keraton Kanoman yang letaknnya sebetulnya tak terlalu jauh dari Keraton Kasepuhan. Dalam berjalannya waktu, Keraton Kanoman kemudian terbelah lagi menjadi dua. Dan melahirkan sebuah kesultanan baru beranama Kesultanan Kacirebonan yang kini keratonnya juga masih dapat kita lihat dan kunjungi. Dualisme kekuasaan di Keraton Kanoman ini terjadi ketika Belanda sudah masuk ke Indonesia.

Sementara itu keraton terakhir adalah Keraton Kaprabonan. Keraton ini juga tak lepas kaitannya dengan Keraton Kanoman. Sebab memang pendirinya adalah pangeran dari Keraton Kanoman yang menolak menjadi raja dan memilih untuk membuat sebuah pedukuhan untuk memperdalam ilmu agama Islam. Akan tetapi pada 2011 lalu, Pangeran Hempi yang kini menjabat sebagai sultan di Keraton Kaprabonan mempertegas jika Kaprabonan bukan sekedar pedukuhan semata, melainkan juga sebuah kerajaan. Bisa dibilang keraton ini paling unik karena letaknnya yang memang sedikit masuk kedalam jalan sempit dan luas keratonnya yang memang cukup kecil ini.

Keraton Keprabon di Cirebon
Gambar: Keraton Keprabon (Sumber: sultansinindonesieblog.wordpress.com)

Tuan Rumah Festival Keraton Nusantara

Hingga kini, keempat keraton itu tetap hidup berdampingan. Keempatnya masih utuh dan sekarang justru menjadi tempat wisata. Tempat dimana orang-orang dari luar Cirebon berkunjung untuk berwisata. Bahkan, di tanggal 18 September mendatang. Cirebon akan menjadi tuan rumah dari Festival Keraton Nusantara. Sebuah ajang bertemu para raja-raja dari seluruh daerah. Nantinya, Keraton Kasepuhan, Kacirebonan dan Kanoman akan kedapatan menjadi tuan rumah digelarnya acara-acara kolosal. Selain itu acara raja-raja ini akan ditutup dengan musyawarah besar yang hasilnya barangkali akan mempengaruhi jalan hidup bangsa Indonesia kedepannya.

(Gambar Utama: gadingmoore.blogspot.co.id)

Editor: Ridho Nur Wahyu