Sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga Ocean Conservancy menemukan bahwa 28% ikan-ikan di Indonesia mengandung plastik. Hal itu terjadi karena lautan di Indonesia termasuk darurat sampah. Fakta kurang menyenangkan berikutnya yang harus diakui adalah bahwa lautan Indonesia merupakan perairan kedua di dunia yang menyimpan sampah plastik terbanyak. Selain di laut, masalah sampah di darat pun tidak kalah menantang, khususnya di kota-kota besar negeri ini. Menyikapi masalah sampah, sebenarnya sudah ada banyak masyarakat yang tergerak menemukan solusi.

Salah satu kota di Indonesia yang sedang aktif bergerak menangani masalah sampah adalah Kota Malang. Menurut sejumlah sumber informasi, produksi sampah di Kota Malang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Supit Urang terlalu penuh untuk menampung 600 ton sampah yang ‘diproduksi’ masyarakat Kota Malang. Untuk itu, sebagai upaya pengendalian sampah non-organik, sejak tahun 2011 dibentuklah Bank Sampah Malang (BSM).

Sekilas tentang Bank Sampah Malang (BSM)

bank sampang malang aplikasi e-waste
Proses pengambilan sampah di unit Bank Sampah Malang (BSM) (Sumber: Facebook.com/BANK-SAMPAH-MALANG-555392991167114)

Bank Sampah Malang (BSM) adalah lembaga yang berbadan hukum koperasi dan bekerjasama dengan pemerintahan Kota Malang serta CSR PT. PLN Distribusi Jawa Timur. BSM pertama kali diinisiasi oleh mereka yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Keberadaan BSM banyak memberi manfaat bagi warga Kota Malang dari aspek ekonomi maupun lingkungan. Melalui BSM, warga bisa mendaftar sebagai nasabah dan bisa mendapat keuntungan dari sampah non-organik karena bisa dikonversikan menjadi uang, misal untuk membayar listrik dan air PDAM. Program-program unik lain yang diluncurkan BSM misalnya: ‘Beli Sembako Bayar Pake Sampah’, ‘Utang Duit Bayar Pake Sampah’ dan juga bisa menabung uang dengan menyetor sampah.

Pilihan Editor: 

Sebagaimana perusahaan yang dikelola dengan sistem profesional, BSM memiliki sarana yang lengkap seperti alat timbang, mesin penghancur botol plastik, mesin pembersih, alat pengangkut sampah skala kecil dan besar, kantor dan unit-unit cabang, gudang, dan juga memiliki jaringan distribusi produksi akhir sampah. Yang perlu kita ketahui, meskipun namanya Bank Sampah, tapi transaksi nasabah di kantor BSM dilakukan di ruangan yang nyaman, bersih, dan wangi, sebagaimana seperti kantor bank pada umumnya.

Melihat antusiasme masyarakat kota Malang yang tinggi, maka didirikan pula sejumlah unit BSM di beberapa kelurahan. Sampai tahun ke tujuh sejak berdirinya, BSM telah memiliki ribuan nasabah. Tentu saja nasabah itu juga dilengkapi dengan buku tabungan di mana mereka bisa menyetorkan sampah-sampah berharga seperti plastik, kaleng, botol dan lain-lain kepada unit BSM di lingkungan terdekatnya.

Inovasi dari Mahasiswa Universitas Brawijaya

Aplikasi E-Waste karya Mahasiswa Universitas Brawijaya
E-Waste ( Ublik.id/Restia Ningrum)

Keberadaan BSM untuk masyarakat kota Malang memang memberi banyak dampak positif, tapi ternyata masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki agar sistem kerja BSM lebih optimal. Hal itu mendorong 4 orang mahasiswa dari Universitas Brawijaya berikut ini untuk membuat sebuah inovasi.

Berawal dari gagasan untuk membantu memudahkan pekerjaan BSM agar lebih efektif dan efisien, 4 mahasiswa Universitas Brawijaya angkatan 2014 dan 2015 ini membuat sebuah aplikasi bernama E-Waste. Secara garis besar, E-Waste merupakan aplikasi yang diciptakan untuk membantu mempermudah pekerjaan dari BSM. Saat tim melakukan observasi di lapangan, ternyata ditemukan kelemahan dari BSM antara lain; sistem yang digunakan masih sangat manual seperti pada pendaftaran nasabah masih mengisi lembaran yang diproses secara tradisional. Setelah itu, saldo nasabah tidak langsung bisa digunakan untuk membayar listrik, PDAM, dan sebagainya.

Sebagai langkah awal pengembangan aplikasi E-Waste, tim yang terdiri dari Ardian Prabowo (Fakultas Ilmu Administrasi/FIA 2014), Kharirus Sa’idiyah El Firda (FIA 2014), Nur Aisyah Oktarini (FT 2015), dan Dino Keylas (Fakultas Ilmu Komputer/Filkom 2015) yang juga mendapat bimbingan dari dosen FIA UB, Nurjati Widodo, S.AP, M.AP ini telah menawarkan gagasan tersebut secara langsung kepada pihak BSM. Dengan adanya MOU antar kedua pihak antara tim E-Waste pihak BSM, tandanya pihak BSM telah menyetujui kerjasama tersebut.

Tantangan saat Mengembangkan Aplikasi E-Waste

Mahasiswa Universitas Brawijaya pencipta aplikasi Bank Sampah E-Waste
Mahasiswa Universitas Brawijaya pencipta aplikasi E-Waste (Ublik.id/Restia Ningrum)

“Tujuan dari inovasi ini adalah agar masyarakat lebih mudah mengontrol harga sampah, lebih mudah melakukan pembayaran listrik PLN, air PDAM, dan sebagainya. Ke depannya, bukan masyarakat yang menyetor sampah melainkan pihak BSM yang datang untuk menjemputnya.” kata Kharirus Sa’idiyah El Firda kepada tim Ublik.

Bagaimana caranya agar BSM bisa mengetahui ketika mereka harus mengambil sampah? Pada aplikasi E-Waste dilengkapi dengan indikator tertentu ketika sampah telah layak angkut. “Saat ini, aplikasi E-Waste masih dalam proses pengembangan IT coding, menghubungkan antara server dan kelurahan dengan database BSM, dan proses mendapatkan hak paten untuk bisa didaftar di Playstore.” Demikian ungkap mahasiswi semester 7 itu. Untuk mengembangkan E-Waste, tim tersebut

Ternyata proses pengembangan aplikasi E-Waste tidak selalu mulus, tapi juga mengalami tantangan tersendiri, termasuk dari pihak internal BSM. “Sebenarnya kami sudah mencoba audiensi untuk mengembangkan E-Waste ini secara serius dengan BSM,  namun memang terkendala pada support dari BSM itu sendiri. Mereka masih belum bisa terbuka terkait ini.” Kata Ardian sebagai ketua kelompok “maka dari itu, kami mencoba untuk sounding dengan ikut beberapa event inovasi di tingkat nasional atau internasional dengan membawa (ide) E-Waste ini sebagai ajang perbaikan agar sistem kerja aplikasi di E-Waste dan sistem pengelolaan di BSM semakin baik. Dan kelak kami ingin kembali melakukan audiensi ke BSM untuk mengimplementasikannya.” lanjutnya dengan nada optimis.

E-Waste Mendapatkan Penghargaan Internasional

Ciptakan Inovasi Bank Sampah, 4 Mahasiswa Universitas Brawijaya Ini Mendapat Penghargaan Internasional
Aplikasi Bank Sampah E-Waste dapat penghargaan Internaional (Ublik.id/Restia Ningrum)

Dinilai inovatif dalam menciptakan solusi masalah pengolahan sampah masyarakat Kota Malang melalui aplikasi pendukung bank sampah, Ardian dan kawan-kawan berhasil mendapatkan prestasi internasional untuk ide aplikasi E-Waste itu. Mereka mendapat medali emas (gold award) pada ajang International Invention and Innovative Competition (InIIC) Serries 2 tahun 2017 di Cameron Highlands, Malaysia. Ajang InIIC 2 pada tanggal 18 November 2017 tersebut diselenggarakan oleh MNNF (Mediate Nexus and Nuture a Fast) Network, MNNF Publisher, Advanced Scientific Press (ASP), dan Kind Heart Charity.

El Firda mewakili kelompoknya mengungkapkan kesannya setelah memenangkan kompetisi yang diikuti 180 tim dari berbagai negara ini “Bahwa di dunia ini tak ada yang gratis. Perjuangan kami telah terbayar manis.” Tidak berhenti setelah mendapatkan penghargaan, tim E-Waste ingin mengembangkan aplikasi ini menjadi lebih bermanfaat lagi, khususnya untuk masyarakat Kota Malang yang menjadi nasabah BSM.

(Gambar Utama: Ublik.id/Restia Ningrum)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here