Nongkrong menjadi gaya hidup yang cukup populer, khususnya di perkotaan. Kebiasaan nongkrong di Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu hingga sekarang. Seiring berkembangnya zaman, nongkrong telah mengalami beberapa perubahan. Pada zaman dahulu, nongkrong umumnya dilakukan di warung kopi bersama teman. Saat ini, aktivitas nongkrong biasa dilakukan di banyak pilihan tempat, entah itu di kafe, di taman, di pinggir jalan, di beranda rumah teman, dan lain-lain.

Mengenal Lebih Jauh Istilah Nongkrong

Barangkali istilah nongkrong di Indonesia kini senada dengan yang diungkapkan Jan Gehl, seorang arsitek Denmark pada tahun 1987 dalam karyanya Life Between Buildings: Using Public Space. Bahwa manusia sejak dulu terbiasa untuk melakukan hal ini: seeinghearingseatingstanding dan staying. Sebenarnya, apa arti dari nongkrong itu sendiri? Mengacu pada KBBI Online, istilah nongkrong berasal dari kata ‘tongkrong’ atau ‘menongkrong’ yang berarti berjongkok atau duduk-duduk saja karena tidak bekerja. Namun yang kita kenal sehari-hari, istilah nongkrong menjadi lebih luas. Banyak aktivitas baik di dalam atau luar ruangan yang disebut nongkrong, padahal orang-orang di dalamnya tidak sekadar duduk tanpa tujuan berarti.

Pilihan Editor:

Nongkrong sebagai Bentuk Eksistensi

kebiasaan nongkrong anak muda Indonesia
Anak Muda di sebuah kafe berkonsep kekinian (Sumber: cirebonradio.com)

Kita tahu bahwa sebagai makhluk sosial, manusia pada dasarnya membutuhkan kesempatan untuk berkumpul bersama orang lain yang memunculkan interaksi sosial (social interaction). Lebih menarik lagi kalau mereka berkumpul dengan orang-orang dengan kepentingan dan tujuan yang sama, seperti nongkrong dengan komunitas hobi, teman sekelas, teman kerja, dan sebagainya. Bukan soal di mana dan teman-teman seperti apa yang biasa nongkrong bareng, tapi coba kita temukan jawabannya: apa yang menjadi latar belakang kegiatan nongkrong kita? Apakah memang berarti atau memang hanya demi eksistensi?

Jujur saja, ajakan teman seringkali tidak berkompromi dengan isi dompet. Tapi pada akhirnya demi persahabatan dan juga eksistensi, ajakan nongkrong pun tetap diikuti. Saat nongkrong di kafe atau coffee shop misalnya, kemungkinan besar tetap mengeluarkan biaya. Bahkan, untuk nongkrong di tempat yang hits dan layak dipamerkan di media sosial, sebagian orang sering merogoh kocek yang tak sedikit. Bermacam-macam pilihan yang ditawarkan tempat nongkrong kemudian menjadikan kita memiliki banyak pilihan gaya hidup yang terlihat lebih menyenangkan. Disadari atau tidak, ketika kebiasaan nongkrong demi eksistensi itu menjadi pilihan, hal itu mendorong ke gaya hidup hedon.

Tentu ada kesan yang beda ketika memasuki tempat-tempat yang identik dengan produk yang elit, misalnya makan di restoran mahal. Tidak hanya soal menu, tetapi mereka membeli gaya hidup agar bisa lebih eksis dan diakui menjadi orang modern. Bagaimana bisa begitu? Tren itu tak lain adalah efek dari pencitraan di media melalui iklan-iklan.

Memberi Keuntungan untuk Para Pengusaha

Kebiasaan nongkrong anak muda di kafe
Kafe dengan konsep dan desain unik di Indonesia (Sumber: Pergidulu.com)

MarkPlus Insight bersama dengan Komunitas Marketeers menemukan bahwa anak muda Indonesia dan aktivitas nongkrong adalah dua hal yang sudah melekat. Entah itu untuk sekadar menghabiskan waktu bersama teman-teman, meeting, membahas acara kepanitiaan, berdiskusi seru, dan sebagainya. Nah, melihat sekelompok anak muda yang betah nongkrong berjam-jam di mall tentu menjadi peluang bisnis tersendiri.

Kebiasaan nongkrong masyarakat pun memicu kreativitas para pengusaha untuk membuka bisnis kafe, coffee shop, atau restoran berkonsep unik yang menarik pengunjung khususnya anak muda. Kalau kamu punya minat untuk berbisnis dan cukup familiar dengan gaya hidup anak nongkrong, tak ada salahnya untuk mencoba memanfaatkan peluang untuk membuka tempat nongkrong berupa kafe atau coffee shop berkonsep unik.

Agar Nongkrong Lebih Berfaedah

Kebiasaan nongkrong anak muda Indonesia ini bahkan sempat menjadi sebuah berita di media New York Times pada tahun 2012. Mereka mengartikan nongkrong dengan kalimat di salah satu kolom berita yang tertulis seperti ini: “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where the penchant for hanging out runs so deep that there is a word for sitting, talking and generally doing nothing” (Terjemah bebas: dalam banyak hal, evolusi toko itu diberikan di negara seperti Indonesia, di mana kegemaran untuk nongkrong sudah mendarah daging. Mereka duduk, berbicara dan umumnya tidak berbuat apa-apa). Toko yang mereka maksud adalah 7-Eleven.

Yang jelas, dari pilihan kata doing nothing, nongkrong merupakan aktivitas yang konotasinya negatif. Ada banyak pihak yang kemudian memperdebatkan berita itu, di saat sebagian orang memaklumi bahwa mindset orang barat dan orang timur memang berbeda dalam memandang dan memperlakukan waktu. Orang barat yang bersemboyan “now or never!” tentu berbeda dengan orang timur yang cenderung fleksibel, apalagi orang Indonesia yang memiliki mindset “liat nanti deh”. Jadi, bagaimana agar nongkrong tidak buang-buang waktu?

Sekadar menghabiskan waktu meskipun tanpa ada tujuan yang berarti memang menyenangkan, asalkan bersama dengan orang-orang tercinta. Tapi alangkah baiknya jika kebiasaan nongkrong tidak sekadar nongkrong, tapi menjadi lebih berfaedah. Katakanlah misalnya sedang ada tugas atau agenda meeting. Faktor suasana tempat nongkrong tentunya bisa lebih mendukung untuk memunculkan kreativitas baru. Beberapa orang juga mengaku bahwa mengerjakan tugas di tempat nongkrong itu kadang lebih asik daripada mengerjakan tugas di rumah. Jadi, pastikan kalau aktivitas nongkrongmu memiliki tujuan yang jelas dan tidak hanya buang-buang waktu.

(Sumber Gambar Utama: iborntobite.com)

Editor: Ridho Nur Wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here