“Despacito. Quiero respirar tu cuello despacito.                                                                              Deja que te diga cosas al oído.                                                                                              Para que te acuerdes si no estás conmigo…”

Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar potongan lirik lagu di atas? Tanpa dijelaskan pun pasti sebagian kita sudah kenal lagu apakah itu. Ya, benar, lagu Despacito yang dipopulerkan oleh Luis Fonsi dan Daddy Yankee itu adalah termasuk salah satu lagu paling viral tahun 2017 ini. Baik versi aslinya maupun versi remixnya dengan Justin Bieber, keduanya sama-sama membuat orang yang mendengarnya mudah menikmati. Saking populernya lagu itu, sampai-sampai versi covernya banyak bermunculan, tidak hanya di daerah asalnya, tapi juga oleh teman-teman kita, orang Indonesia. Meskipun kalau kita tahu terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, mungkin akan memunculkan kesan yang lain. Tapi kali ini kita tidak akan membedah lirik lagu, melainkan tentang fenomena karya-karya yang viral melalu YouTube.

(Baca Juga: Kalahkan 63 Negara, Indonesia Raih Juara Dunia Lewat Video Promosi Wisata )

 

Dari Despacito sampai ‘Dek Lastri’

Di antara sekian banyak cover lagu Despacito yang ada di YouTube, salah satu cover yang unik dan cukup menyita perhatian khalayak adalah cover lagu Despacito dalam bahasa Jawa. Video cover Despacito versi Jawa tersebut diunggah oleh Alif Rizky pada tanggal 9 Juni 2017 dengan judul ‘Dek Lastri’. Lagu Dek Lastri menggunakan irama yang sama persis dengan Despacito tapi lirik lagunya diubah total.

Menariknya, di dalam lagu ‘Dek Lastri’, Alif Rizky memilih beberapa kata bahasa Jawa yang tidak biasa dipakai sehari-hari, misalnya: nembe, senajan, pangapuro, dan beberapa kata lainnya. Ini menjadi hal yang positif ketika anak-anak muda yang tertarik untuk menyaksikan video ‘Dek Lastri’ jadi terdorong untuk bisa mengenal bahasa Jawa lebih jauh.

Fenomena Artis YouTube

Sebagian masyarakat di Indonesia belakangan ini, khususnya anak muda, sedang excited untuk membuat karya-karya terbaiknya melalui video blog atau disingkat vlog yang diunggah ke YouTube. YouTube memiliki banyak konten video yang isinya adalah beragam informasi yang sifatnya bisa ditonton kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Bahkan banyak yang bilang kalau YouTube menggeser posisi televisi sebagai media hiburan, karena setiap orang bisa membuat channelnya sendiri-sendiri.

YouTuber pun menjadi ‘profesi baru’ yang menarik bagi banyak anak muda karena hasil finansial pun bisa didapatkan dari bidang ini ketika ditekuni dengan baik. Apalagi setelah melihat sederet nama YouTuber Indonesia yang sudah sukses dengan konten video kreatif mereka, maka menjadi Artis YouTube menjadi predikat yang keren.

Selain anak muda, Presiden Joko Widodo pun cukup rajin menayangkan vlog di akun YouTube beliau. Kegemarannya tersebut menjadi bahasan media di mancanegara. Video YouTube beliau mencakup banyak hal misalnya saat beliau olahraga memanah, saat makan street food bersama menteri, saat makan bersama Raja Salman dari Arab Saudi, sampai pada saat kambing-kambing peliharaan beliau beranak! Dari sini terlihat bahwa potensi untuk eksis melalui YouTube itu tidak dibatasi oleh usia, status, pekerjaan, tempat tinggal, dan lain-lain. Kontennya yang beragam bisa ditujukan untuk tujuan menghibur, menginspirasi, berbagi tips, bernyanyi, atau sekedar berbagi aktivitas keseharian. Yang jelas, melalui video YouTube ini, kita sebenarnya bisa melakukan sesuatu yang bermafaat untuk bangsa, misalnya dengan cara mengenalkan budaya daerah lewat media kekinian.

YouTuber sebagai Profesi Baru

Industri kreatif saat ini berkembang sangat cepat, sehingga kesempatan itu juga dapat dijadikan momen yang bagus bagi mereka yang berani berkarya. Selain untuk berbagi konten positif atau menghibur, dengan video-video kreatif yang kita buat, menjadi YouTuber juga bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang bisa memberi kemapanan.

Meskipun demikian, apresiasi masyarakat umum terhadap karya berbasis internet seperti ini masih tergolong rendah. Seringkali anggapan yang berkembang bahwa membuat video itu hanyalah kegiatan tidak serius, dan tidak layak disebut sebagai aktivitas kerja. Padahal tidak seperti itu adanya. Setiap konten yang dibuat itu selalu melalui proses kreatif yang mengangkat ide-ide orisinil.

(Baca Juga: Uniknya Sejarah Permainan-Permainan Tradisional yang Perlu Kamu Ketahui)

Tapi perlu diingat bahwa tidak semua konten di YouTube itu memberi efek positif, karena setiap pemilik akun pada dasarnya bebas mengupload video apapun, asal bukan pornografi, video ilegal, kekerasan, dan beberapa konten terlarang lainnya. Tidak ubahnya seperti televisi, pengaruh tontonan di YouTube juga sangat besar bagi perkembangan anak-anak. Itulah mengapa peran orangtua sangat krusial untuk mendampingin anak-anak dalam berselancar di YouTube.

Agar bisa memaksimalkan pemanfaatan teknologi ini, kamu pun bisa mulai melakukan sesuatu. ketika kamu menyadari passionmu bisa disalurkan melalui video blog di YouTube, ada baiknya untuk mulai memberikan sesuatu yang lebih, misalnya berkarya sebagai wujud cinta tanah air. Sementara itu, masing-masing wilayah tentu memiliki tradisi asli setempat yang diwariskan secara turun temurun dan diciptakan oleh nenek moyang.

Beragam cara bisa ditempuh sebagai wujud kecintaan terhadap bangsa kita. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah berkarya lewat musik menggunakan bahasa daerah seperti yang dilakukan Alif Rizky dengan Dek Lastri-nya itu. Kita tahu bahwa di tengah pesatnya arus informasi global, sejumlah bahasa daerah di tanah air mulai berkurang pemakaiannya karena ditinggalkan para generasi yang seharusnya menjadi penutur aslinya.

Orang Asing Saja Menghargai

Ngomong-ngomong, pernahkah kamu menonton video-video tentang orang Asing yang cinta Indonesia? Bahkan kecintaan mereka sampai pada level menguasai bahasa daerah. Sebut saja misal Dave Jephcott dari Australia dan Jang Hansol dari Korea yang sering membuat vlog berbahasa Jawa di akun YouTube mereka. Keduanya tinggal dalam waktu lama di Jawa Timur. Cak Dave di Surabaya sedangkan Jang Hansol di Malang. Tidak heran jika kemudian logat medok Jawa mereka sama seperti penduduk asli. Video-video mereka mampu menarik perhatian netizen Indonesia. Hansol dengan akun YouTube Korea Reomit yang sering menyapa followers-nya dengan sebutan ‘bolo-boloku’ dan Cak Dave dengan akun Londo Kampung pun menghargai sedemikian rupa bahasa Jawa.

(Baca Juga: Makna Penting Dibalik Lagu Permainan Tradisional yang Mulai Ditinggalkan)

Tahukah kamu bahwa pada tahun 2013, bahasa Jawa dinyatakan sebagai bahasa dengan penutur nomor 10 terbanyak di dunia. Bahkan, diduga bahasa Jawa lebih banyak digunakan daripada bahasa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa bahasa daerah yang dimiliki Indonesia memiliki potensi tersendiri. Tapi, ironisnya, tahun 2016 lalu dikabarkan bahwa ada 139 bahasa daerah yang terancam punah. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ketika warga negara asing saja menghargai, bagaimana dengan kita? Budaya, bangsa, dan bahasa kita adalah tanggung jawab kita untuk menjaganya. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

(Gambar Utama : eaglenews.org & johnnyws.blogspot.com)

Editor: Ridho Nur Wahyu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here