Nama Donald Trump kini tengah jadi bulan-bulanan dunia. Bagaimana tidak, presiden berambut pirang itu dengan tinggi hati memutuskan untuk mendukung Israel memindahkan ibukotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Keputusan kontroversial itu tak pernah diambil oleh presiden-presiden Amerika sebelumnya.

Yerusalem memang sebuah kota suci, bukan sekedar untuk umat Islam, namun juga untuk dua agama lain selain Islam, yakni Yahudi dan Nasrani. Di Yerusalem berdiri tempat-tempat suci bagi tiga agama, yaitu Masjid Al Aqsa bagi umat Islam, Tembok Ratapan bagi Yahudi, dan Gereja Makam Kudus bagi umat Nasrani. Ketiganya ada di Yerusalem, karena itulah konflik di Yerusalem bukan sekadar konflik keagamaan.

Pilihan Editor:

 

The Dome of the Rock (Sumber: ifpnews.com)

Awal Sebuah Konflik

Bicara Yerusalem, kita mesti bicara soal konflik antara Israel dan Palestina. Entah sejak kapan konflik ini berlangsung dan entah pula sampai kapan, yang jelas konflik kedua daerah itu selalu menyita perhatian publik dunia. Ada banyak versi tentang bagaimana konflik keduanya bermula. Tapi, hampir semua versi merujuk pada pencaplokan Israel atas hak tanah Palestina. Versi tersebut juga dituliskan dalam buku ‘Sejarah Pergolakan di Timur Tengah dan Timur Jauh’ karya Muhammad Dimyati. Dalam buku setebal 150 halaman itu disebutkan jika sebetulnya tanah Yerusalem selalu jadi rebutan banyak pihak. Yerusalem dan sekitarnya selalau dianggap kota suci. Puncaknya adalah ketika Palestina berada di bawah kekaisaran Turki ketika Perang Dunia I, siasat negara barat pun dibuat.

Adalah Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour dan pemimpin komunitas Yahudi di Inggris, Baron Rothschild. Keduanya bersiasat untuk dapat merebut Palestina dari tangan Turki yang ketika itu juga memiliki hubungan akrab dengan Jerman. Balfour membuat pernyataan pada 2 November 1917 yang dikenal dengan ‘Deklarasi Balfour’ yang isinya adalah Inggris akan mengupayakan Palestina sebagai rumah bagi bangsa Yahudi, tetapi dengan jaminan tidak akan mengganggu hak keagamaan dan sipil warga non-Yahudi di Palestina.

Deklarasi Balfour (Sumber: international.sindonews.com)

Awalnya, kesepakatan itu terjadi antara Rotschild dan Amerika. Namun karena Inggris tengah dalam kepayahan,  Inggris pun pasang badan untuk ikut serta merebut Palestina untuk diserahkan pada Rotschild. Begitu perjanjian keduanya dibuat, Rotschild berjanji akan memasok senjata untuk Inggris. Sebagai imbal baliknya, Inggris mesti dapat mengalahkan Turki dan memberikan Palestina pada Rotschild yang notabene dedengkot Zionis Yahudi.

Inggris tidak serta merta menggempur Turki, tapi menggunakan propaganda. Dikirimlah salah satu orang Inggris bernama Lawrence. Dirinya masuk ke dalam masyarakt Turki dan mulai dengan propagandanya. Dirinya cukup vokal di sana. Lawrence juga menggunakan pakaian khas bangsa Arab, masuk masjid dan melakukan segalah hal yang dilakukan oleh orang Turki. Hingga akhirnya ketika dia dipercaya, demokrasi didengungkan. Lawrence berjanji jika kerajaan Turki runtuh, maka daerah-daerah di bawahnya seperti Mesir, Syria, hingga Palestina bakal mendirikan negaranya sendiri. Sementara itu, Jerman kalah dan Turki digempur habis-habisan, sedangkan masyarakat Turki mengingkan perubahan di tubuh pemerintahannya.

Singkat cerita Turki pecah, Lawrence pun pulang karena propagandanya telah selesai. Janjinya tak pernah ditepati. Inggris masuk dan mengibarkan benderanya di wilayah Palestina. Sebuah jalan terbuka untuk Yahudi hadir dan mendirikan negarannya sendiri. Mulailah setelah kejadian tersebut, semua orang Yahudi yang tersebar ke berbagai belahan dunia, pergi ke Palestina, dan mengklaim jika itu tanah milik mereka.

Hingga kini konflik itu terus menerus bergaung. Namun, di tengah konflik yang berat sebelah itu, ada satu negara yang konsisten memerjuangkan kemerdekaan Palestina dan konsisten mendengungkan jika Palestina punya hak atas tanah yang kini ditempati Israel. Negara yang dimaksud adalah Indonesia, bukan sebuah negara arab. Meskipun terpisah jauh dari dataran Palestina, namun memiliki keterikatan yang tak bisa lepas.

Romansa Indonesia-Palestina

Ada satu alasan mengapa Indonesia begitu berani menantang Israel, bukan sebab Palestina menjadi negara ke dua yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Tapi juga tentang pesan pembukaan Undang-undang yang senantiasa mengamanati Indonesia untuk terus ikut andil dalam perdamaian dunia dan menghapuskan segala bentuk penjajahan. Amanat itu terus dipegang dan diamalkan oleh setiap rezim yang menjabat.

Bendera Indonesia dan Palestina (Sumber: vebma.com)

Dulu, Israel juga memberi selamat atas kemerdekaan Indonesia. Namun, hanya dijawab ‘Terima kasih’ oleh Bung Hatta dan tak dilanjutkan dengan komunikasi bilateral antar dua negara. Bukan hanya itu, Soekarno pernah dengan lantang menolak Israel ikut serta dalam Ganefo (Kejuaraan olahraga tandingan Olimpiade yang diinisiasi Indonesia). Bahkan, dalam pidato digelaran Ganefo, dengan tegas Bung Karno menyatakan “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”

Belum berhenti sampai di situ, pada laga kualifikasi Piala Dunia 1958. Indonesia bertemu dengan Israel dalam satu grup. Indonesia sangat berpeluang lolos. Namun, Indonesia bertolak bermain melawan Israel di kandangnya. Indonesia tetap bersikukuh tak mengakui Israel sebagai sebuah negara. Lobi dilakukan Indonesia terhadap FIFA agar laga melawan Israel tak dilakukan di negara tersebut. Lobi gagal dan Indonesia memilih untuk mengundurkan diri dari kualifikasi.

Terakhir, belum lama ini Indonesia juga membuka Rumah Sakit di Palestina. Sebuah langkah yang sangat nyata dari Indonesia untuk melindungi Palestina. Indonesia juga membolehkan Palestina membuka kedutaanya di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa tidak banyak negara yang seberani Indonesia dalam hal ini.

‘Kemesraan’ Indonesia dan Palestina nampaknya akan tetap berlanjut. Saat Yerusalem terdesak, Indonesia jadi salah satu negara yang berteriak. Hampir di setiap wilayah Indonesia menyerukan agar Trump mencabut putusannya. Bahkan pemerintah Indonesia juga kini tengah giat melobi berbagai negara agar bersatu pada satu sikap: menolak Yerusalem menjadi Ibukota Israel. Demikianlah, romantisme Indonesia-Palestina akan tetap terjaga entah sampai kapanpun.

 

Sumber:

  • Buku Sedjarah Pergolakan Timur Tengah dan Timur Jauh oleh Agus Dimyati (1970)
  • Panditfootball.com
  • Republika.co.id
  • Merdeka.com

 

(Editor: Restia Ningrum)

(Sumber Gambar Utama: lostislamichistory.com)