Ublik. Bukan sekali atau dua kali, negeri tetangga kita, Malaysia dikabarkan kembali mengklaim salah satu budaya Indonesia menjadi milikinya. Mulai dari batik, wayang kulit, tari piring, keris, kuda lumping, sampai kuliner seperti nasi goreng, cendol, bahkan jamu. Kejadian seperti itu membuat kedua bangsa serumpun yang sebenarnya banyak kemiripan ini jadi terkesan kurang ‘akur’. Terlepas dari simpang siur berita yang beredar serta apa yang mendasari sampai munculnya klaim itu, ada baiknya kita kembali memahami bahwa budaya itu tidak lain adalah cerminan dari masyarakatnya.

Kali ini Ublik akan mengajakmu mempelajari asal usul kesenian kuda lumping yang baru-baru ini menghebohkan masyarakat, khususnya para netizen. Apa yang terjadi? Malaysia dianggap mengklaim salah satu warisan budaya asli Indonesia sebagai warisan mereka. Hal itu terjadi pada perhelatan Miss Grand International 2017. Saat salah satu peserta Miss Grand International 2017 asal Malaysia, Sanjeda John mengenakan kostum bertema kuda lumping, saat itulah kehebohan netizen dimulai. Sanjeda John memperagakan tarian kuda lumping dan pihak penyelenggara menyebutnya dengan istilah ‘Kostum Nasional Kuda Warisan’. Tak berselang, kabar itupun menjadi viral, lalu tarian tersebut disebut-sebut telah diklaim Malaysia sebagai kebudayaan mereka. Netizen pun merasa kesal karena salah satu aset Indonesia kembali diklaim dan bahkan dipamerkan di ajang kelas internasional.

Pilihan Editor :

 

Mengenal Lebih Jauh Kesenian Kuda Lumping

Kesenian tari kuda lumping adalah sebuah seni tari yang dipentaskan dengan memakai alat-alat berupa kuda tiruan yang dibuat dari bahan anyaman bambu. Kuda lumping atau sering disebut ‘jaran kepang’ merupakan salah satu kesenian khas yang berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Pertunjukan tari kuda lumping biasanya diadakan pada saat acara-acara penting seperti penyambutan tamu kehormatan, acara karnaval tahunan, dan juga acara-acara syukuran. Pertunjukan kuda lumping diawali dengan bunyi sebuah pecutan atau cambuk besar yang sengaja dikenakan para pemainnya. Kuda lumping biasanya diiringi alat musik tradisional Jawa, seperti gamelan, gendang serta nyanyian berbahasa Jawa. Di tangan pemain profesional, kuda lumping sering dikaitkan dengan makhluk halus karena atraksi-atraksinya yang penuh energi supranatural dan bernuansa magis. Itulah yang membuat penonton terkesima oleh atraksi-atraksi yang disajikan.

Asal Usul Kesenian Kuda Lumping

tari kesenian kuda lumping
Gambar: Kesenian Kuda Lumping (Sumber: budaya-indonesia.org)

Buat kamu yang belum begitu familiar dengan asal usul kesenian kuda lumping, mari kita simak ulasan berikut ini. Banyak versi sejarah tentang makna dari kesenian kuda lumping ini. Ada sumber yang menyebutkan bahwa gerakan-gerakan di dalamnya menggambarkan kisah tentang latihan perang pasukan kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I sebagai Raja Mataram untuk menghadapi pasukan Belanda. Dalam versi lain menyebutkan bahwa asal usul kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan Bangsa Belanda yang menjajah tanah air. Sumber lain lagi menyatakan bahwa kesenian ini adalah bentuk dukungan rakyat terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro untuk menghadapi penjajah Belanda. Yang pasti, tari kuda lumping memiliki makna yang mendalam, yaitu dianggap merefleksikan semangat heroisme di tengah peperangan melawan penjajah.

Benarkah Kuda Lumping Warisan Negeri Jiran?

kesenian tari kuda lumping
(Sumber: instagram/missgrandmalaysia/)

Agar kita tidak mudah menuding, sebaiknya kita juga tahu tentang banyaknya orang-orang Jawa yang menetap di Malaysia dan kemudian mewariskan budaya tersebut kepada anak-anaknya di sana. Pihak sana mengetahui kalau kuda lumping berasal dari Jawa, seperti yang disampaikan pada klarifikasi melalui akun resmi instagram Miss Grand International Malaysia di @missgrandmalaysia. Akun itu memang mengunggah foto yang menampilkan pakaian nasional yang dikenakan peserta di ajang tersebut lengkap dengan keterangannya. Berikut adalah salinan caption yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

“Pakaian Nasional “Kuda Warisan”

“Terinspirasi oleh komunitas Jawa yang berada di negara bagian utara Johor, Malaysia. Pada awal abad ke 20, migrasi masyarakat Jawa melalui kapal dagang Belanda dan Jepang untuk mencari lahan baru membawa serta budayanya termasuk pertunjukan tari unik ini yang dilakukan pada kesempatan yang menyenangkan. Pada tahun 1971, Kementrian Pariwisata Johor mengakui tarian Kuda Kepang untuk masyarakat Jawa yang berada di Johor sebagai tanda simbolis kesatuan dan keragaman budaya bagi masyarakat Johor. Dengan kemiripan sejarah yang kuat, asal mula warisan budaya Jawa tersebar di negara bagian utara Johor, Perak dan Selangor di Malaysia, dan Singapura.”

Nah, bagaimana menurutmu? Sebagai bangsa satu rumpun Melayu dan memiliki kemiripan, bukankah sebenarnya masih ada cara lain untuk memahami budaya secara bijak?

Sebagai langkah logis, pemerintah melakukan diplomasi budaya atas kekayaan khazanah karya budaya bangsa agar tak diklaim sebagai milik bangsa lain. Lalu apa yang bisa kita lakukan? sebagai warga Indonesia, tugas kita adalah menghargai, merawat, dan mewariskan budaya tersebut dengan penuh kebanggaan. Seperti kata Mahatma Gandhi, “a nation’s culture resides in the hearts and in the soul of it’s people”. Budaya sebuah bangsa itu terletak pada jiwa masyarakatnya sendiri. Jadi rawatlah dengan kebanggaan budaya yang diwariskan nenek moyang kita, jangan hanya ribut ketika budaya kita diklaim negeri tetangga.

(Gambar Utama: topindonesiaholidays.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here