Ublik. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck mulai dikenal masyarakat melalui novel legendaris karya Haji Abdul Malik Karim atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka. Novel ini menceritakan tentang drama romantis dari Minangkabau, namun harus berakhir menjadi kisah yang sangat memilukan. Antusiasme masyarakat tentang novel karangan Buya Hamka ini pun dijadikan peluang dalam industri perfilman yang diprakarsai oleh Sunil Soraya dan Ram Punjabi untuk menjadi film yang diminati oleh masyarakat luas.  Film ini menceritakan tentang dua sejoli yang sedang dimabuk asmara, namun karena perbedaan budaya dan latar belakang sosial menjadi benteng pemisah kisah mereka berdua. Film tenggelamnya Kapal Van Der Wijck diperankan oleh Pevita Pearce sebagai Hayati, Herjunot Ali sebagai Zainuddin dan Reza Rahardian sebagai Aziz. Film ini rilis pada tahun 2013 dan mendapatkan beberapa penghargaan dalam industri perfilman Indonesia.

ARTI DARI MONUMEN KAPAL VAN DER WIJCK LAMONGAN
Buku karya Buya Hamka
Sumber : suprizaltanjung.wordpress.com

Kisah Nyata Kapal Van Der Wijck

Tapi tahukah sahabat Ublik kalau perstiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck memang nyata dan benar-benar terjadi.  Nama Kapal Van Der Wijck diambil dari nama Gubernur Hindia Belanda yang menjabat pada masa itu, yaitu Carel Herman Van Der Wijck. Kapal ini merupakan kapal uap yang dimiliki oleh Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), namun karena adanya Nasionalisasi KPM diubah menjadi Pelayaran Indonesia (PELNI) dan menjadi cikal bakal industri pelayaran di Indonesia. Kapal Van Der Wijck merupakan kapal milik pemerintah Hindia-Belanda yang akan berlayar dari Bali ke Semarang dengan terlebih dulu singgah di Surabaya. Saat perjalanan dari Surabaya ke Semarang terjadi musibah sehingga mengakibatkan kapal tidak dapat dikendalikan dan akhirnya tenggelam di perairan Lamongan, tepatnya di wilayah Brondong Kabupaten Lamongan. Warga di sekitar tempat tersebut berbondong-bondong untuk membantu para penumpang yang menjadi korban tenggelamnya kapal tersebut.

Monumen Van Der Wijck di Lamongan (Lamonganoke.wordpress.com)

Pilihan Editor :

Pemerintah Hindia-Belanda lantas mendirikan sebuah monumen di Desa Brondong sebagai simbol terimakasih atas bantuan dan pertolongan yang diberikan oleh warga sekitar saat tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Monumen ini berdiri di halaman Kantor Pelabuhan Brondong Kabupaten Lamongan. Monumen ini menyerupai menara yang mengawasi pantai  dengan tinggi bangunan kurang lebih 10 meter dengan 4 (empat) sisi yang berbeda-beda, yakni sisi pintu, sisi tangga dan 2 sisi yang berisi prasasti. 2 (dua) prasasti yang berada pada bangunan tersebut terdapat dalam 2 bahasa, yakni Bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia. Adapun salah satu tulisan pada prasasti tersebut adalah “Tanda Peringatan Kapada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-DDO 20 October 1936”.

ARTI DARI MONUMEN KAPAL VAN DER WIJCK LAMONGAN
Monumen di Lamongan
Sumber : suprizaltanjung.wordpress.com

Adapun keberadaan monumen ini juga mengandung makna agar masyarakat saling bahu membahu membantu orang yang sedang mengalami kesusahan tanpa memandang status dan derajatnya. Bukankah Hindia-Belanda merupakan salah satu penjajah negeri ini? Tapi masyarakat tetap mau dan tergerak untuk memberikan pertolongan kepada para korban tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang sebagian besar memang merupakan masyarakat Hindia-Belanda.

Lokasi Monumen Kapal Van Der Wijck Jarang Diketahui

Tidak ada yang terlalu mencolok pada monumen ini, dikarenakan tidak adanya papan nama atau keterangan yang menjelaskan apa sebenarnya bangunan yang berdiri di tepi jalan Pantai Utara ini. Bahkan kebanyakan orang mengira bahwa monumen tersebut merupakan bagian dari bangunan kantor Pelabuhan yang memang berada satu lokasi dengan keberadaan monumen tersebut. Ketidaktahuan masyarakat sangatlah dimaklumi karena bangunan berwarna putih kombinasi abu-abu ini agak sedikit tidak terawat. Selain itu, banyaknya kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang parkir di sekitar pelabuhan menutupi keberadaan monumen yang notabene berada di samping Jalan Raya Brondong.

Nah, bagi kalian yang akan melakukan traveling di Lamongan, perlu dicoba untuk mampir sejenak ke monumen bersejarah ini. Selain sebagai sarana menghilangkan penat, juga untuk menambah pengetahuan sejarah yang terjadi di Indonesia. Lokasi monumen yang berdekatan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) akan memanjakan pengunjung untuk leluasa memilih ikan segar hasil tangkapan nelayan sekitar. Jangan kuatir kalau memang tidak sempat untuk memasak ikan yang dibeli dari TPI karena di sekitar wilayah tersebut banyak dijumpai warung maupun resto yang menyajikan makanan dengan menu utama ikan yang pasti akan memanjakan lidah para pengunjung.

Ternyata, Indonesia punya cerita nyata ya!

 

(Gambar Utama : Youtube.com/Jelajah Nesia)

(Editor : AprianingDwi)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here