Ublik. Ada yang bilang menulis fiksi itu gampang, yang susah adalah membuat ending ceritanya. Ada juga yang mengaku lebih mudah menulis cerita fiksi dengan membuat endingnya terlebih dahulu, baru kemudian membuat judulnya. Setiap penulis tentu punya gaya masing-masing. Ada baiknya kita simak kata-kata dari Romo Mangun (1929 – 1999), seorang budayawan, arsitek dan penulis berikut ini: “Di dalam ranah tulis-menulis yang paling sulit adalah menulis cerita anak, dan yang paling mudah, di ujung ekstremnya, adalah menulis skripsi.” Teman-teman boleh sepakat atau tidak, toh fiksi dan skripsi tidak bisa dibandingkan. Tapi, kok rasanya ada benarnya juga. Saya yang konon salah jurusan saja, alhamdulillah, bisa selesai kuliah kurang dari 4 tahun dengan ide skripsi muncul saat menonton film berjudul A Beautiful Mind. Tapi percayalah, sebenarnya itu tidak penting. Saya juga tidak sedang mengajak teman-teman untuk bedah film apalagi memberi tips untuk mahasiswa salah jurusan. Tulisan kali ini adalah tentang hal-hal unik seputar cerita fiksi, khususnya tentang hal-hal yang pasti dipahami oleh penulis fiksi. Apa sajakah itu? Check this out!

1Imajinasi Saja Tidak Cukup

Sumber: nickelodeon/spongebob

Sebagian orang beranggapan kalau menulis fiksi itu mudah karena hanya bermodal imajinasi. Ternyata ada saat-saat di mana imajinasi terasa mentok, atau istilah lebih populernya saat penulis mengalami writer’s block. Inilah mengapa wawasan penulis sangat membantu di saat imajinasi sedang tidak bekerja.

Sebenarnya cerita fiksi juga butuh riset, apalagi kalau penulis mengambil setting yang belum pernah dikunjunginya. Saat awal-awal menulis tentu terasa mudah karena sedang semangat-semangatnya untuk menuangkan gagasan dalam bentuk cerita. Tapi tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan. Kecuali kalau sedang diburu deadline, ada penulis yang terburu-buru menyelesaikan. Apa jadinya sebuah tulisan fiksi yang tidak lain sebuah karya seni tapi dikerjakan seperti mesin?

2Penulis Fiksi Punya Teman Imajiner

Image: Teman Imajiner. Sumber: nickelodeon/spongebob

Seperti sosok John Nash yang diceritakan pada film A Beautiful Mind, beliau memiliki seorang teman yang selalu berada di sekitarnya walaupun orang lain tidak bisa melihat sebagaimana ia melihat. Fenomena psikologis di mana pertemanan terjadi di dalam imanjinasi ini sering terjadi pada penulis fiksi, meskipun tidak separah John Nash yang notabene seorang ilmuwan peraih hadiah Nobel itu.

Untuk menceritakan tokoh secara detail, tentu penulis perlu memperlakukan si tokoh itu seperti temannya sendiri. Karena teman ini tidak terlihat oleh orang lain, maka kita sebut teman imajiner. Bukan, ini bukan hantu, tuyul peliharaan, atau sejenisnya. Teman imajiner bagi seorang penulis fiksi adalah tokoh yang sengaja diciptakan untuk menghidupkan cerita. Teman imajiner penulis itu tentunya punya nama, punya tempat tinggal, punya sifat yang unik, dan bahkan bisa diajak ngobrol seperti teman di kehidupan nyata. Teman imajiner ini tak lain adalah bagian dari diri penulis.

3Cerita Fiksi Juga Butuh Logika

Sah-sah saja misalnya mau membuat cerita fantasi yang keluar dari realita sehari-hari, tapi untuk menyusun jalinan cerita tentu harus pakai logika yang runtut. Pernahkah mengalami kejadian-kejadian yang terasa tidak sengaja dan entah bagaimana bisa terjadi begitu? Hal yang seperti itu ternyata tidak berlaku ketika menulis cerita fiksi. Jadi sebenarnya tidak ada yang kebetulan dalam setiap peristiwa di cerita fiksi. Setiap bagian cerita mempunyai sebab dan akibat.

4Saat Teman Minta Buku Gratisan

Ketika berjualan sesuatu, entah itu jual pulsa, sepatu, jaket, jual jasa desain, dan sebagainya, soal ‘harga teman’ atau bahkan gratisan di momen tertentu memang bisa menjadi trik tersendiri untuk melariskan. Begitu juga saat penulis menerbitkan buku yang tentu ia juga menjual karyanya itu ke khalayak. “Minta bukumu satu dong, tapi gratis.” Begitu kata sebagian teman penulis. Bagaimana menurutmu? Ya memang ini bukan soal uang, tapi bukankah penulisnya butuh proses yang tidak sebentar untuk menghasilkan karya itu? Coba bayangkan bagaimana seandainya berada di posisi penulis itu.

5Banyak yang Bertanya: “Bisa Bikinin Cerita tentang Aku Nggak?”

Serius, pertanyaan seperti ini sering sekali datang dari orang di sekitar ketika melihat cerpen temannya baru saja dimuat di media atau mungkin ketika temannya menerbitkan sebuah novel. Ya memang kebanyakan hanya basa-basi, tapi ternyata ada juga yang serius. Mau menolak takut dikira sombong, tapi kalau mau mengiyakan, padahal naskah lain masih banyak yang belum tersentuh. Jadi apa yang harus dikatakan saat teman minta dituliskan kisah hidupnya? Ada baiknya tahan diri untuk tidak balik bertanya: “Emang situ siapa?”, kecuali memang untuk situasi bercanda.

6Bukan Terus Menerus Menulis Tanpa Selingan

Sumber: toscablog.com; nickelodeon/spongebob

Tentu teman-teman pernah membaca tulisan yang entah mengapa kok rasanya datar dan pointless? Itulah saat penulis kurang piknik. Kalau kita mengamati gaya hidup penulis yang sukses, tentu mereka tidak menulis dengan rutinitas seperti mesin. Untuk membuat perkembangan-perkembangan dan sudut pandang bercerita yang menarik, penulis cerita fiksi juga perlu jalan-jalan, ngobrol dengan banyak orang, menonton film, dan tentu saja membaca.

7Sebenarnya, Apa Manfaat Cerita Fiksi untuk Orang yang Membaca

Jujur saja, di saat sebagian orang merasa tidak ada waktu untuk membaca cerita fiksi, pasti ada di antara teman-teman yang penasaran apa gunanya membaca cerpen dan novel itu? Ternyata ada penjelasannya secara ilmiah. Suatu cerita bisa memberi dampak psikologis ketika pembaca diajak untuk menyelami dan mengenal dekat kehidupan tokohnya. Bahkan kita bisa ‘lari sejenak’ dari hidup kita sehari-hari dan menjadi orang lain: bisa mengerti mereka, karena kita ada dalam pikiran mereka. Kita merasakan pengalaman baru, yang kadang-kadang belum tentu bisa kita alami sendiri. Secara bersamaan, ada bagian otak yang bertugas menafsirkan pemikiran dan perasaan orang lain ikut berproses saat seseorang berusaha memahami cerita.

Ketika kita membaca cerita tentang orang lain, kita masuk dalam sudut pandang dan pikiran tokoh tersebut. Ini membantu kita memahami orang lain lebih baik, dan membantu kita bekerjasama dengan orang lain. Kemampuan mengerti dan memahami inilah yang  menumbuhkan perasaan empati. Empati membantu kita menjadi manusia yang lebih baik.

Jadi begitulah 7 hal yang pasti dipahami penulis cerita fiksi. Meskipun penulis bisa menciptakan dunianya sendiri, bukan berarti tulisan membuatnya hidup dalam imajinasi, sulit bersosialisasi, dan sulit menapak realitas. Pada akhirnya, cerita fiksi adalah alat untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai positif ke pembaca. Penulis yang berhasil tentunya yang bisa membuat karyanya bermanfaat bagi pembaca.

 

(Sumber Gambar Utama: nickelodeon/spongebob)

(Editor: Ridho Nur Wahyu)

4 KOMENTAR

  1. True banget. Dan menjadi penulis bukan berarti harus terus menerus menulis. Harus ada kegiatan lain, kehidupan yang sesungguhnya. Tanpa itu, tulisan bisa jadi ‘kering’. Selain itu harus banyak baca juga. Makasi banyak ya telah menuliskan hal ini. Bermanfaat banget

  2. Jadi penukis fiksi emang lebih ruwet.. Dari dulu pengen jadi penulis fiksi susah sekali.. Belum pernah bisa rampung klo nulis novel. Padahal klo nulis non fiksi udah rampung berkali -kali.. Imajinasinya tuw looh . .beraat karena harus disesuaikan juga dgn logika . 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here