Ublik. Semenjak tren digital naik daun, penulis freelance jadi makin diminati. Nggak perlu pagi-pagi datang ke kantor, merasakan hiruk pikuk kemacetan, hingga harus dandan maksimal yang butuh waktu yang nggak sebentar. Semua kemudahan inilah, yang jadi daya tarik sendiri buat pekerja muda millennial.

Namun, dibalik kemudahan yang ditawarkan, pekerjaan penulis freelance nggak mudah lho. Ada banyak keribetan (kadang berakhir duka), yang justru nggak disorot oleh media-media yang terus gencar mempromosikan pekerjaan ini. Walhasil, banyak yang menyesal telah terjun ke dunia digital.

Sebelum semuanya terlambat, kali ini Ublik.id bakal mengupas tuntas segala duka yang biasa dialami oleh penulis freelance. Supaya nantinya, kamu bisa mengira-ira apakah ingin bertekad bulat masuk ke dunia ini, atau mencari alternatif profesi lain. So, ini dia ulasannya.

1
Penulis Mencari Ide Segar via stocksnap.io

Ujian Pertama Buat Kami Penulis Freelance, Harus Pinter-pinter Meracik Ide Segar Tiap Hari

Tantangan pertama yang wajib dihadapi, ialah terus memutar otak agar selalu hadir ide segar setiap hari. Kadang, nggak semua ide bisa ditulis dan layak terbit. Penulis harus pinter-pinter berkoordinasi bersama editor, untuk menemukan ide tulisan yang bagus dan berfaedah serta bisa diterima di kalangan pembaca.

Kesulitan pertama buat kami, ialah harus mencari ide yang unik dan berbeda dari yang lain. Kalaupun temanya sama, akan tetapi pembawaan sekaligus sudut pandang harus berbeda. Selain itu, kami dituntut untuk tetap mengedepankan ide yang sekiranya berfaedah buat pembaca, yakni informatif atau menginspirasi.

2
Pikiran Harus Fokus & Fresh. Sumber: stocksnap.io

Karena Dituntut Mikirin Ide Tiap Hari, Otak Kami Harus Fokus dan Fresh

Yah, namanya juga media online. Setiap saat, kita berkejaran dengan tren yang ada di sosial media, maupun isu-isu terbaru baik dalam maupun luar negeri. Sedihnya, pas berhasil menemukan ide yang bagus, eh malah sudah ada media saingan yang menerbitkan. Mau nggak mau, kita cari sudut pandang lain, atau bahkan cari ide lain.

Karena tuntutan itulah, kami terus ditempa agar bisa berpikir fresh setiap saat. Harus bisa peka terhadap lingkungan sekitar, siapa tau bisa dijadikan bahan tulisan. Justru ini yang menjadi tuntunan kami, yakni menulis apapun yang dekat dengan pembaca. Salah satu caranya, dengan merasakan apa yang mereka rasakan.

3
Penulis Wajib Bangun Pagi. Sumber: stocksnap.io

Kemalasan Adalah Musuh Terbesar Kami, Maka Bangun Pagi Adalah Rutinitas yang Wajib Dijalani

Bagi penulis freelance seperti kami, kemudahan waktu dan tempat bekerja bisa menjadi pisau bermata dua. Kalau nggak rutin memotivasi diri sendiri, bisa saja kami meninggalkan sebagian kewajiban kami dan lebih asyik menonton YouTube atau televisi. Karena itulah, kami dituntut untuk lebih dewasa dan mampu mengontrol diri.

Untuk mencapai hal tersebut, butuh persiapan dini dan salah satu caranya ialah bangun pagi. Dengan rutin menghirup udara di pagi hari, oksigen bermutu tinggi bakal menjadi energi kami sebelum memulai pekerjaan. Selain itu, kami juga bisa punya waktu lebih banyak untuk menyiapkan to-do-list di hari itu.

4
Penulis Juga Butuh Multitasking. Sumber: stocksnap.io

Karena Nggak Hanya Megang 1 Klien, Kami Terpaksa Harus Multitasking

Bisa dibilang bahwa selain bekerja sebagai penulis freelance, rasa-rasanya kami juga bisa jadi manager. Gimana nggak, setiap kali mengatakan ‘deal’ pada klien, kami harus selalu mengatur dan mengawasi setiap progress yang telah dikerjakan. Bahkan, nggak hanya satu klien, tapi bisa dua hingga tiga klien setiap bulannya.

Bayangkan betapa pusingnya kami sewaktu mengatur jadwal menulis, termasuk elaborasi ide dan prosesnya, hingga menerbitkan di web utama. Karena itulah, kami dituntut untuk gerak cepat dan tepat. Kalau selangkah saja tertinggal, bisa-bisa semua proyek berantakan.

Nggak hanya itu, kami juga masih harus bergelut dengan revisi. Editor kami tak selalu menerima hasil kerja yang telah selesai, masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Bahkan nggak jarang, kami disuruh untuk mengulang semua tulisan, atau mengganti ide lain yang lebih layak untuk diterbitkan.

5
Penulis Masih Dipandang Remeh. Sumber: stocksnap.io

Kadang Pekerjaan Kami Tak Selalu Berhasil Memukau Mereka, Justru Lebih Sering Dipandang Sebelah Mata

Mereka di sini, kami artikan sebagai kalian semua. Ya, kalian yang punya pekerjaan lain dengan masa depan yang lebih jelas, tidak seperti kami. Kenapa begitu? Karena hingga sekarang, masih sedikit perusahaan yang memercayakan jasa para penulis freelance. Hal ini mungkin, kualitas dan kompetensi kami masih belum terasah dengan baik.

Nggak seperti mereka yang bekerja di kantor, pakai seragam, pergi pagi pulang sore; kami terus disandingkan dengan kata ‘pengangguran’. Kerjaannya cuma di rumah, sehingga masyarakat awam lebih akrab memandang kita sebagai pengangguran. Selain itu, harga murah juga masih menjadi masalah buat kami.

Nggak seperti para penulis di Amerika, yang satu artikelnya bisa dihargai satu juta. Kami, harus berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan rela dibayar maksimal 100 ribu untuk satu artikel dengan proses pembuatan ‘berdarah-darah’. Yah, semoga ini nggak keterusan hingga nanti.

6
Tak Jarang Penulis Dicibir. Sumber: stocksnap.io

Meski Sudah Mencoba Melakukan yang Terbaik, Cibiran dan Diremehkan Jadi Menu Wajib Kami

Nggak jarang kami menemui perkataan seperti: “Kalau cuma nulis, semua orang juga bisa. Udahlah, cari pekerjaan lain yang lebih jelas dan gede penghasilannya.” Sepertinya kalian yang seprofesi dengan kami, merasakan betapa pedihnya hati ini saat orang lain memandang kita seperti itu. Yah, beginilah risiko yang harus kita hadapi.

Lebih parahnya lagi, karya kami kadang nggak dihargai sama sekali. Proses berdarah-darah yang kami lalui, mulai dari mencari ide segar setiap hari, menyusung kerangka tulisan, mencari referensi yang valid, verifikasi data, dan proses-proses saintifik lain yang seakan terlupakan dan lebih mengindahkan hasil kerja.

Memang, banyak orang yang mengaku jadi penulis, tapi nyatanya masih belum bisa dikatakan sebagai penulis. Kenapa? Karena mereka hanya menulis ulang, bukan menciptakan. Kalaupun temanya sama, ya seenggaknya kita ambil sudut pandang yang berbeda, bukan?

7
Harus Memenuhi Kesukaan Pembaca. Sumber: stocksnap.io

Tulisan yang Kami Rasa Sudah Bagus, Ternyata Masih Banyak Pembaca yang Tak Suka

Begitulah seninya sebagai pembuat karya. Karena memang tidak semua orang memiliki selera yang sama dan seragam. Tapi anehnya, kami dituntut untuk menciptakan karya tulis yang sesuai dengan selera mereka. Sekali saja salah penyampaian, rusak reputasi dan nama baik. Celaan kadang datang menghampiri kami.

Tapi kami memandangnya sebagai hukum alam yang tidak bisa dihindari. Namanya juga karya, sudah pasti tidak semua orang bisa menerima. Celaan dan cacian bukan jadi penyurut semangat kami untuk berkarya, tapi justru jadi motivasi kami untuk menjadi penulis freelance yang lebih baik lagi ke depannya.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan soal ribetnya jadi penulis di media online dengan sistem kerja freelance. Kalian yang ingin masuk ke dunia penulis freelance, silakan dipikirkan, apakah ingin terus membulatkan tekad atau mencari alternatif pekerjaan yang lainnya.

Seenggaknya, kalian mengerti apa yang kami lakukan. Semoga menginspirasi buat kalian, ya!

(Sumber Gambar Utama: stocksnap.io )

Editor: Ridho Nur Wahyu 

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here