Bagi banyak orang, momen wisuda adalah euforia tersendiri, khususnya untuk kelulusan di jenjang sarjana. Mengapa wisuda sarjana begitu berkesan? Alasannya bisa berbeda untuk masing-masing orang. Ada yang karena dulu masuk kuliahnya susah, begitu sudah berhasil melewati masa perkuliahan, penelitian, skripsi, dan akhirnya lulus dengan gelar khusus di belakang namanya, tentunya sangat membahagikan.

Pertanyaannya adalah: apa yang dilakukan setelah itu? Membahas tentang kehidupan pasca kampus memang tidak ada habisnya. Di saat sebagian orang (terlihat) lancar-lancar saja menghadapi fase ini, ada sebagian lainnya yang harus melewati banyak proses untuk memulai kehidupan setelah kuliah.

Pilihan Editor:

 

Sudah Sarjana tapi Masih Menganggur?

Selain salah jurusan dan skripsi yang penuh drama, mahasiswa Indonesia tidak jarang dihadapkan pada masalah yang satu ini: sudah lulus tapi masih menganggur. Kali ini kita tidak sedang mendeskripsikan dengan formal tentang ‘apa itu pengangguran’ atau seperti apa kira-kira peran pemerintah dan pengusaha untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Supaya tidak langsung menyalahkan pemerintah, ada baiknya kita bercermin pada diri sendiri. Coba lihat orang di sekelilingmu, adakah di antara mereka yang sudah sarjana tapi belum bekerja? Atau anggap saja saat membaca ini, posisimu adalah seseorang yang baru lulus S1.

Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur
Ilustrasi Wisuda (via Instagram @nadilavedaniaputri)

Sejumlah publikasi tentang angka pengangguran di Indonesia banyak menjadi bahan berita dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Tentu dengan respon yang berbeda-beda pula. Orang yang terlalu realistis (untuk tidak menyebutnya pesimis) akan berdalih kurangnya lapangan kerja dibanding jumlah lulusan yang sangat besar setiap tahunnya. Orang yang cenderung optimis akan memandang keadaan ini sebagai situasi yang positif: tidak ada istilah menganggur, ini hanya soal kreativitas mencari peluang. Beberapa waktu lalu, tim Ublik sempat melakukan riset di media sosial tentang alasan mengapa banyak sarjana Indonesia yang masih menganggur. Berikut adalah beberapa alasannya.

1. Skill yang Belum Matang

Banyak perusahaan yang butuh tenaga kerja. Di saat yang sama, banyak orang yang butuh pekerjaan. Tapi mengapa banyak yang nganggur? Mudah saja, jawabannya adalah keterampilan atau skill, entah itu hard skill maupun soft skill. Seringnya, kualitas skill yang dibutuhkan belum sebanding dengan para lulusan perguruan tinggi itu. Di perusahaan, skill merupakan salah satu pertimbangan terpenting untuk merekrut seseorang yang layak bergabung ke dalam tim mereka.

2. Faktor Gengsi dan Terlalu Pilih-Pilih Pekerjaan

Jujur saja, saat baru saja melewati momen kelulusan, perasaan bangga itu pasti ada. Kadang, itulah yang membuat mereka merasa sedikit lebih hebat dari orang lain. Paling tidak, karena sudah berhasil melewati fase hidup yang cukup berat. Karena ingin aktualisasi diri, membuktikan sesuatu, dan sejenisnya, tentunya setelah itu ingin segera bekerja. Kemudian ketika ternyata pekerjaan itu juga bisa dimasuki oleh orang-orang lain yang tidak kuliah, apa tidak gengsi? Karena ekspektasi yang tinggi terhadap gaji dan jabatan, seringkali orang justru terjebak situasi karena idealisme yang keliru. Tapi ini adalah alasan yang sifatnya personal dan bukan sesuatu yang bisa digeneralisir.

3. Kurang Aktif dalam Mencari Informasi

Ada masanya orang melamar pekerjaan harus mengirimkan berkas-berkas yang dimasukkan ke dalam amplop coklat. Informasi pun terbatas. Tapi saat ini, banyak website yang memberikan informasi seputar lowongan pekerjaan. Saat ini juga banyak acara job fair yang sering diselenggarakan oleh berbagai lembaga. Banyak sekali pekerjaan baru yang ditawarkan. Semakin banyak mendapat info, tentunya lebih banyak pilihan dan makin besar kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok.

4.Tidak Punya Link dan Salah Pergaulan

Kita tahu bahwa masa kuliah bukan hanya tentang belajar di dalam kelas saja. Organisasi, pertemanan dengan orang baru, perlombaan, konferensi, sampai peluang bisnis bisa dicoba selama jadi mahasiswa. Titik temu dari semua itu adalah networking atau membangun link dengan orang-orang baru. Orang-orang sukses sudah banyak yang membuktikan tentang pentingnya network. Seringkali network yang luas adalah pintu gerbang untuk berbagai peluang yang baik. Network di sini dengan siapa saja, asalkan orang-orang yang positif.

Tidak jarang tawaran-tawaran bekerja atau berbisnis datang dari pertemanan di media sosial. Network yang baik itu pun perlu dijaga. Umumnya, tujuan networking adalah untuk urusan kerjasama profesional, tapi networking yang baik adalah tentang pertemanan yang tulus. Lalu banyak yang tanya networking mulai dari mana? Di era media sosial kini, membangun networking bisa lebih mudah. Jadi harusnya tidak ada alasan lagi menganggur karena tidak punya link.

5. Kurang Kreatif dalam Membuat CV

Bagaimana cara membuat CV (Curriculum Vitae) yang kreatif dan menulis lamaran yang baik adalah faktor teknis. Memang terlihat sepele, tapi kreativitas dalam membuat CV ini bisa menunjukkan seberapa sungguh-sungguh si pelamar untuk posisi yang diinginkan. Sudah banyak pelatihan-pelatihan diadakan agar para fresh graduate mampu mempersiapkan diri terkait hal ini, tinggal bagaimana memanfaatkannya.

6. Orientasi yang keliru

Satu lagi alasan mengapa sarjana menganggur adalah orientasi yang keliru. Bukankah kerja itu tidak terbatas hanya sesuatu yang di kantor? Kerja kantoran pun sangat banyak macamnya. Pekerjaan di bank berbeda dengan pegawai negeri, berbeda lagi dengan pekerja di dunia kreatif. Yang jelas, sebagian orang tua di Indonesia masih berpikiran bahwa menjadi PNS adalah karir terbaik dan paling aman untuk anaknya. Di saat yang sama, anak muda inginnya jadi pegawai saja.

Wirausaha menjadi opsi terakhir karena ‘kepepet’ daripada tidak melakukan apa-apa. Pekerjaan ternak lele kemudian menjadi bahan meme lucu-lucuan. Tapi jangan salah, seringkali orang yang kepepet melakukan sesuatu, sense of crisis-nya bekerja. Di situlah dia bersungguh-sungguh. Karena tidak ada hal lain yang bisa ia kerjakan. Tidak ada yang salah. Tapi setidaknya masih bisa mengubah mindset-nya. Ini juga tergantung dari seberapa terbuka pikiran si sarjana yang mencari kerja itu.

7. Belum Mengerti Betul Apa yang Diinginkannya

Terlepas dari alasan-alasan di atas, ternyata ada satu yang sangat mendasar. Alasan yang satu ini bisa juga disebutkan di awal. Mengapa banyak sarjana yang masih menganggur? Sebenarnya boleh saja kalau mau istirahat sebentar atau mempersiapkan studi lanjut. Apapun itu, asalkan tetap mengerti betul apa yang diinginkannya.

Setiap orang punya keinginan dalam hidupnya. Bukankah kerja adalah jalan untuk mewujudkan keinginan itu? Sebelum terlalu jauh menggeluti kesibukan kerja di suatu bidang, sebaiknya ketahui dulu apa yang sebenarnya diinginkan dalam hidup ini. Terkait karir, tulis goal-nya dengan spesifik. Yang jelas, menjalani pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan adalah tentang menemukan lingkungan yang mendukung goal kita. Sebagaimana kita pun mendukung goal yang ingin dicapai perusahaan atau lembaga tempat kita bekerja dan berkarya.

Sumber Gambar Utama: Elshinta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.