Ada banyak hari besar nasional yang patut diperingati oleh rakyat Indonesia setiap tahunnya. Mulai dari Hari Kemerdekaan, Hari Kebangkitan Nasional, Hari lahirnya sumpah pemuda, sampai dengan Hari Pahlawan. Nah, memasuki bulan November, itu artinya kita memperingati hari pahlawan.

Barangkali sempat terlintas di benak kita ketika masyarakat Surabaya secara heroik mampu untuk keluar dari tekanan Inggris dan berbalik menyerang. Hingga akhirnya ribuan bahkan belasan ribu orang tewas pada hari tersebut. Tentu kita tak boleh melupakan sejarah panjang yang jadi cikal bakal mempertahankan kedulatan negara itu. Akan tetapi, di balik peristiwa tersebut, ada sejumlah tokoh yang punya andil dalam pertempuran itu.

Pilihan Editor :

Mereka yang jadi aktor di balik pertempuran itu, hadir dari rakyat Indonesia dan sekutu. Lalu siapa saja orang-orang di balik pertempuran besar Surabaya 10 November 1945 tersebut? Kami ulas sebagai berikut:

1.Hariyono dan Koesno Wibowo

Insiden Perobekan Bendera (Sumber: 3.bp.blogspot.com)

Indonesia telah sah menjadi sebuah negara yang berdaulat terhitung pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal tersebut harusnya disikapi secara bijak oleh semua kalangan. Lebih utama lagi, untuk mereka yang bertahun-tahun menjajah Indonesia. Namun faktanya hal itu tak terjadi. Belanda masih saja ingin merebut kedaulatan Indonesia. Pada tanggal 31 Agustus 1945, pemerintah Indonesia memberikan maklumat agar sang saka merah putih terus selalu dikibarkan di seluruh nusantara. Hal itu diamini oleh segenap rakyat Indonesia. Namun, di sebuah hotel di kota Surabaya, sebuah penghinaan telah terjadi. Adalah Ploegman seorang Belanda yang secara diam-diam mengibarkan bendera Merah Putih Biru (bendera Belanda) di sebuah tiang di atap Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit). Hal itu dilakukannya di malam hari pada tanggal 18 September 1945. Tentu, ketika pagi tiba dan rakyat Surabaya melihatnya, mereka merasa terhina atas apa yang dilakuan Ploegman. Maka pemuda-pemuda Surabaya pun berkumpul menggeruduk Hotel Yamato dan meminta Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda.

Ploegman bersikukuh untuk tidak menurunkan bendera tersebut hingga akhirnya perkelahian terjadi. Ploegman tewas, sementara beberapa pemuda Surabaya tewas ditembak kolega Ploegman yang membawa senjata. Dua di antara pemuda yang menggeruduk hotel Yamato adalah Hariyono dan Koesno. Ketika perkelahian pecah, keduanya pergi ke atap Hotel Yamato dan serta merta menurunkan bendera Belanda. Tidak hanya itu, mereka dengan berani merobek bagian biru bendera tersebut dan membiarkan warna merah dan putih tersisa. Hal tersebut ditanggapi gemuruh oleh pemuda lain yang menyaksikannya.

2.Jenderal Mallaby

Jenderal Mallaby (kanan) (Sumber: merdeka.com)

Setelah kejadian perobekan bendera Belanda tersebut, pertempuran-pertempuran di Surabaya terjadi lagi. Belanda yang memang datang dengan diboncengi Inggris itu meminta bantuan negeri ratu Elizabeth tersebut untuk menyerang kembali kota Surabaya. Sampai akhirnya ketika gencatan senjata sudah terjadi, sebuah peristiwa genting terjadi. Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby terbunuh di sebuah sudut kota Surabaya. Jenderal Mallaby adalah jenderal tertinggi di Jawa Timur. Ia tewas ketika mobilnya berpapasan dengan milisi Indonesia. Sebuah percekcokan salah paham terjadi sebelum akhirnya dua anggota bersenjata beda kubu itu saling melancarkan serangan. Dari pihak Indonesia ada satu orang yang sampai sekarang tidak diketahui namanya yang menembak Mallaby hingga tewas. Tidak hanya itu, mobil Jenderal Mallaby juga terkena granat, dan akhinrya jenazah Mallaby sulit dikenali.

3.Bung Tomo

Bung Tomo (Sumber: suaramuhammadiyah.id)

Pengganti Jenderal Mallaby mengisyaratkan rakyat Surabaya untuk tunduk atas perintah Inggris. Hal itu disampaikan dengan selebaran yang ditebar tentara Inggris lewat pesawat. Hal itu sekali lagi mencoreng dan diangap menghina rakyat Indonesia. Bung Tomo yang memiliki nama asli Sutomo adalah kepala departemen penerangan di Organisasi Pemuda Indonesia. Dia adalah seorang orator sekaligus penyiar di Radio Domei (sekarang Antara).

Ketika dirinya mengetahui Inggris telah menyebarkan ribuan kertas yang berisi agar Rakyat Surabaya tunduk, di situ Bung Tomo naik pitam. Dirinya merasa apa yang telah dilakukan Inggris adalah bentuk penghinaan. Lewat radio yang ia tukangi, Bung Tomo berorasi dan membakar semangat perjuangan Rakyat Indonesia untuk menolak tunduk. Dirinya berpidato dengan berapi-api dan menyebut “Dan untuk kita saudara-saudara. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!“. Mayarakat Surabaya pun akhirnya terpekik. Dengan gagah berani mereka hadapi tentara Inggris yang memang memiliki alusista lengkap.

4.K.H Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari (Sumber: dakwatuna.com)

Bung Tomo benar-benar membuat masyarakat Surabaya berani untuk melawan. Hal tersebut juga didukung oleh Resolusi Jihad yang dikemukakan K.H Hasyim Asy’ari yang menyebut jika seorang muslim yang membela tanah air dan memertahankan negaranya dari penjajah adalah jihad. Dan mereka yang gugur dalam perang adalah syahid. Karena itulah pada tanggal 9 November di pesantrennya, K.H Hasyim Asy’ari meminta ribuan santrinya untuk turun gelanggang dan bersama-sama bertempur mengusir Inggris. Beberapa orang pun diminta untuk mengawal resolusi jihad ini. Mereka adalah Kyai Abbas dari pesantren Buntet Cirebon, Kiyai Haji Mas Mansyur, Kiyai Wahab Hasbullah, Bung Tomo, dan masih banyak lagi.

Hingga akhirnya banyak masyarakat Indonesia yang bergelimpangan begitu juga dengan tentara Inggris. Karena itulah tanggal 10 November 1945 diperingati dengan hari Pahlawan. Selain kelima nama di atas, ada ribuan nama lain yang patut kita apresiasi jasa dan perjuangannya. Sebab karena sosok-sosok pemberani yang rela mewakafkan nyawannya itulah kita bisa tenang hidup di Indonesia. Jadi, peringatilah selalu hari pahlawan dengan baik dan kenang selalu jasa mereka. Mengutip kata Bung Barno “Jangan sekali-kali melupakan Sejarah!”

 

(Sumber gambar utama: www.flickr.com)

Editor: Restia Ningrum